RSS

MENGINTIP KESIAPAN UKM THAILAND DALAM MENGHADAPI MEA

MENGINTIP KESIAPAN UKM THAILAND DALAM MENGHADAPI MEA

OLEH: RIRIN WULANDARI

 

PENDAHULUAN 

Di siang hari yang terik, penulis mendapat telpon, beberapa menit kemudian menerima surat undangan via email yang ditandatangai oleh Ibu Okke Hatta Rajasa untuk mengikuti perjalanan 4 hari dengan tajuk “Dari Perempuan untuk Bangsa (DPUB) Muhibah Karya Ke Bangkok, Thailand”, dari tanggal 15 November hingga 18 November 2015.

Ibu Oke Hatta Rajasa adalah Ketua Pelaksana Muhibah tersebut, sekaligus sebagai Direktur Utama DPUB, organisasi perempuan yang bergerak di bidang pembinaan, pendidikan, serta pendampingan Usaha Ekonomi Menengah dan Koperasi, yang berbadan Hukum Perkumpulan.

Perjalanan pembelajaran ini sebagai tindak lanjut kegiatan Pameran dan Edukasi UKM Menyambut MEA, yang dilaksanakan pada tanggal 13-15 Mei 2015. Pada Pameran dan edukasi terdahulu, dimaksudkan untuk memberi ruang bagi UKM menampilkan karya-karyanya, sekaligus menakar kesiapan mereka menghadapi MEA, serta menggali masukan-masukan dari diskusi-diskusi Talkshow yang diselengarakan d tengah-tengah Pameran, selama 3 hari dengan 5 sesi Talkshow.

Selanjutnya, kita perlu mengetahui kesiapan Negara-Negara lain. Perjalanan ini dimaksudkan untuk “mengintip kesiapan Negara lain, khususnya Thailand, dan selanjutnya mengevaluasi sejauh mana kesiapan Negara kita dalam menyambut Masyarakat Ekonomi Asean, dibandingkan dengan Thailand.

Negara Thailand sudah mempersiapkannya sejak tahun 2001, dengan kebijakan One Tambon One Product (OTOP) yang digulirkan oleh PM Thaksin Shinawatra. OTOP merupakan pengejawantahan misi penciptaan produk unik, sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat. Satu sub distrik didorong untuk mengembangkan produk-produk unik mereka. Hasil kebijakan tersebut dapat dilihat di tahun 2011, dimana produksi rumahan atau dikenal produser UKM menyumbang 2% dari Total PDB Thailand. Jumlah yang menggembirakan khususnya dikaitkan dengan pemeratan kesejahteraan.

 

KEBIJAKAN TERINTEGRASI

Keberhasilan Pemerintah Thailand dalam menerapkan OTOP adalah kebijakan program terintegrasi dan satu pintu. Program tersebut dimasudkan untuk mendorong produk lokal, sekaligus membangun pasar untuk menampung produk-produk tersebut. Kualitas dan pemasaran menjadi dua hal yang bersinergi. Untuk mensinergikan keduanya perlu strategi dan perencaan program yang yang terhubung atau terintegrasi, antara lain: menggairahkan pasar, penghargaan terhadap penemu dan kreator, serta kerja sama lintas sektor.

 

MENGGAIRAHKAN PASAR

Hari pertama di Bangkok, penulis beserta rombongan berkesempatan menjelajahi Chatuchak Market, pasar produk kreatif UKM yang khusus diselenggarakan pada hari libur. Produk-produk kreatif mengisi deretan stan. Kaos-kaos dan produk-produk lain bercirikhas Thailand terletak di deretan lainnya, mengundang selera sebagai oleh-oleh. Pemerintah berhasil menciptakan satu brand untuk dilekatkan ke satu Negara, yaitu Thailand. Ikon Gajah merupakan brand tunggal Negara Thailand. Ikon tersebut menjadi ornament-ornamen di hampir semua jenis produknya. Di Pasar tersebut dan pasar-pasar lainnya, hasil produk berbagai Tambon (sub distrik) melebur menjadi satu, yaitu produk Thailand.

Sepanjang 4 hari perjalanan, kami menemui penjual-penjual buah gerobak, baik berkelompok maupun sendiri-sendiri. Penjual buah gerobak yang bersih, dengan dagangannya yang aduhai, berkualitas. Jambu biji yang renyah, empuk dan manis. Pepaya semangka yang merah merekah dan manis, Delima yang mengundang selera, mangga dan durian yang aduhai. Glek, rasanya deras air liur ini membicarakannya. Buah-buahan tersebut hasil kebun dalam negeri Thailand. Loncatan pengembangan produk buah yang memang sangat luar biasa. Lebih luar biasa lagi, Pemeritah menciptakan pasar di dalam negeri khususnya di Ibu Kota Negara, Bangkok. Penciptaan pasar dalam negeri yang luas dapat menghidarkan kelebihan pasokan, dimana kelebihan pasokan adalah persoalan yang sangat merugikan khususnya bagi produsen buah-buahan.

Pemerintah Thailand sepertinya paham bahwa produk yang unggul dan unik perlu didukung dengan penciptaan pasar bagi produksi tersebut. Bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dirasa tidak cukup kalau tidak diiringi dengan menyiapkan pasar-pasar yang unik. Karenanya, Floating Market Damnoen Saduak menjadi tujuan wisata yang menarik. Berperahu sembari belanja produk-produk khas Thailand.

Pasar unik untuk menampung produk unik terus dibangun. Selain dari yag disampaikan di atas, Asiatique Night Market merupakan pasar yang disiapkan untuk menampung produk UKM, dengan suasana pasar malam yang mampu mengendorkan urat syaraf dan melonggarkan dompet.

 

Penghargaan terhadap Penemu dan Kreator

Malam ke dua, kami memasuki lantai 5 The Emporium Department Store. Pusat pembelanjaan ini merupakan tempat belanja mewah pertama di Bangkok. Sesampai di lanti 5, kami disambut backdrop megah bertuliskan TCDC, Thailand Creative and Design Center. Para Kreator dan Penemu mendapat tempat terhormat di tempat mewah ini.

Penghargaan yang diterima Penemu dan Kreator seharusnya meliputi: pengakuan terus menerus, menjadikan penemuannya produk yang nyata dikonsumsi dan digunakan oleh konsumen, serta menghasilkan kesejahteraan bagi penemu dan kreatornya, serta bagi masyarakat. Hal tersebut sudah diberikan oleh Pemerintah Thailand. Bagaimana dengan di Indonesia?

Penulis mengamati dari “beranda” hingga memasuki ruangan auditorium pameran permanen. Decak kagum mewarnai sepanjang pengamatan. Penataannya indah dan mewah, informatif, dan menarik. Di TCDC, dipamerkan produk pilihan, yang merupakan temuan unik dari berbagai disiplin ilmu, antara lain di bidang kedokteran, biologi, pertanian, mebel, serta produk kreatif lainnya.

Sebuah produk, semisal kursi, ditata dengan indah, dilengkapi dengan informasi yang lengkap mengenai fungsi kursi yang ergonomic, bahan baku, proses produksinya, serta penemu, designer yang mewujudkan karya nyata dari penemu, hingga perusahaan yang memproduksi penemuan tersebut.

Berdasarkan pengamatan satu jam tersebut, penulis berkesimpulan bahwa Para Penemu dan Kreator di Thailand dapat tumbuh subur karena hasil karya-karya mereka dapat diketahui secara mudah oleh masyarakat dan disosialisasikan, dengan menempatkan karya-karya tersebut di pertokoan yang mewah sehingga ketika diproduksi, masyarakat sudah aware dan menghargai, selanjutnya lebih mudah mengambil keputusan untuk menggunakan produk unik tersebut. Selain itu, Pemerintah Thailand memberikan penghargaan yang memadai kepada Penemu dan Kreator dengan tidak menyimpan hasil penemuannya, namun sebaliknya menyajikan kemungkinan untuk menghubungkan dengan designer dan perusahaan yang akan mewujudkan dan memperbanyak produknya agar mendapat sambutan yang baik dari pasar.

Selain di TCDC, Pemerintah Thailand menyediakan satu gedung megah yang berfungsi sebagai tempat pembelajaran, ruang pameran dengan penataan yang menawan, deretan foto-foto Penemu dan Kreator, serta perpustakan yang tertata apik dan rapi. Paling menarik hati penulis adalah deretan foto-foto Para Penemu dan Kreator serta informasi hasil penemuannya, tidak hanya diletakkan di dekat produknya, namun diberi ruang khusus untuk menampilkan foto-foto mereka. Upaya tersebut tidak saja membahagiakan Para Penemu dan Kreator, lebih dari itu memberikan dorongan kuat bagi warga masyarakat lainnya untuk mencapai prestasi seperti mereka. Dorongan ini membuat sumber daya manusia Thailand bergerak dan “mendayung” produktivitas, tidak sekedar menjadi bagian “pemberat”.   Produk-produk unik dan indah hasil kreativtas disajikan dengan penataan bertaraf internasional. Dua jam berada di Gedung Bang Sai Arts & Crafs Center, di kota Ayutthaya, hati saya kembali bermekaran, dan di sisi lain merunduk lesu teringat akan negeri tercinta..

 

KERJA SAMA LINTAS SEKTOR

Guide kami berkebangsaan Thailand cukup fasih berbahasa Indonesia, menolak ketika kami mengusulkan untuk meniadakan satu tujuan kunjungan. Menurutnya, semua wisatawan diwajibkan mengunjungi pabrik-pabrik atau toko-toko yang menyajikan produk unggulan, antara lain batu permata, sutera, serta madu. Tidak heran apabila beberapa kali penulis berkunjung ke Bangkok yang diatur travel agent selalu mengunjungi sekurang-kurangnya pabrik atau toko dari 3 produk tersebut, walaupun ke toko dan pabrik yang berbeda.

Hal tersebut menunjukkan bahwa Pemerintah menitipkan pemasaran produk unggulannya kepada kementerian yang mengurusi pariwisata, dengan melakukan kebijakan tertentu seperti halnya keharusan tersebut di atas. Sebaliknya dengan adanya pengembangan produk unggulan dan pengembangan UKM, tujuan wisata di Thailand semakin beragam.

Kerja sama diperlukan tidak hanya antara pemerintah dengan pemerintah, namun juga antara pemerintah dengan perusahaan, perusahaan dengan perusahaan, serta perusahaan dengan pekerja transportasi, mulai dari sopir Tuk Tuk, maupun supir Taksi. Salah satu berkembangnya Sutera Jim Thompson yang diproduksi dengan kualitas prima, serta dipatok untuk kelas menengah atas, juga karena strategi pemasaran global Pemerintah Thailand, selain pemilihan variabel unik yang berhasil ditampilkan. Keunikan rumah Jim Thompson, yang dikenal sebagai Jim Tompson House menjadi satu kesatuan dengan mutu produk yang dihasilkan, sehingga membentuk brand sutera kelas atas.

Satu yang masih membesarkan hati saya, yakni ketika mengunjungi sentra kerajinan kulit. Kualitas produk-produk yang disajikan di sentra tersebut masih di bawah kualitas produk kulit Indonesia, baik hasil penyamakan kulitnya, maupun kerapian hasil proses produksi. Namun, satu pertanyaan menggelitik muncul, yaitu apakah ada satu atau beberapa sentra kerajinan kulit yang dharuskan menjadi tujuan wisatawan asing?.

 

PENUTUP

Thailand yang masih harus berbenah selepas konflik internal yang menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi, tidak perlu khawatir dengan hadirnya keterbukaan pasar Asean atau Masyarakat Ekonomi Asean yang dimulai awal tahun 2016. Sejak beberapa tahun yang lalu, Thailand sudah melaju untuk mempersiapkan pelaku UKM agar mampu bersaing dan menjadi bagian dari pasar global.

Sementara itu Indonesia masih dalam taraf kesiapan yang mengkhawatirkan. Produk-produk berbasis ke arifan lokal tidak dapat dipungkiri sudah mulai tumbuh walaupun tumbuh dari hasil dorongan dan kebijakan daerah yang bersifat sporadis. Dengan demikian, penggalian produk unik belum sepenuhnya diupayakan. Padahal produk unik berbasis kearifan lokal inilah yang akan mampu bersaing di tingkat pasar global, khususnya pasar Asean.

Keberhasilan OTOP Thailand khususnya, dan OVOP (One Village One Product) Jepang dan Vietnam pada umumnya, perlu dipelajari dengan seksama. Di sisi lain, Pemerintah Indonesia sudah menetapkan Program sejenis, tepatnya tahun 2009 Wakil Presiden Budiono di Nusa Dua telah mencanangkan Program Nasional OVOP. Namun, hingga kini program tersebut belum tersosialisasikan sehingga belum mampu menggerakan seluruh masyarakat untuk mengupayakan keberhasilannya. Selain itu, kebijakan yang tidak terintegrasi lintas kementerian dan lintas kepala daerah menjadi penyebab terbesar kegagalan program tersebut.

Dari sisi strategi pemasaran, Indonesia masih jauh dari yang diharapkan, apalagi bila dibandingkan dengan Negara tetangga, dalam hal ini Thailand. Pasar nasional belum banyak menampung produk-produk lokal. Pameran-pameran yang ada belum sepenuhnya dirancang dengan konsep pemasaran global. Pemerintah belum merancang strategi pemasaran menyeluruh. Artinya, masih banyak PR yang harus dikerjakan oleh Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat, sementara itu ancaman yang datang dengan adanya pasar global sudah di depan mata.

Kondisi Indonesia mengkhawatirkan seperti ini menuntut kita semua untuk bergerak bersama, bekerja keras di bidangnya masing-masing. Menyitir tulisan Prayudhi Azwar bahwa Negara Indonesia adalah ladang amal kita. Demikianlah, upaya terus menerus DPUB untuk pengembangan UKM, serta tulisan ini juga merupakan bagian dari persembahan dan sebagai ladang amal.   Tetap semangat untuk terus “mengayuh”, tak boleh tinggal diam dan tak boleh hanya menjadi “pemberat”.

 

Salam

Ririn Wulandari

 

 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: