RSS

Arsip Kategori: Puisi

Hari ini

Hari ini adalah hari yang sempurna
Kupilin…kuuntai…kekemas…
dan kupilah pilah menjadi file-file yang teridentifikasi secara jelas
Kusimpan dalam kotak-kotak yang berbeda
nama kotak tidaklah penting benar karena aku tahu setiap kotak yang kujejer rapi..

Hari ini adalah hari yang sempurna ketika kebersimpuh dalam pencarian gerenjal pengganggu hari-hariku…
ketika aku tahu yang selalu kupungkiri

Hari ini adalah hari yang sempurna
ketika kuberputar bak gasing…
meluruhkan….
luruhlah…luruh….
mantra itu mendengung semaki keras…

wahai jiwa-jiwa…
jiwa ini kubungkus dengan begitu rapi…
dan perjalanan terus berlanjut….
pencarian terus berlanjut…

Iklan
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada April 4, 2009 in Puisi

 

Tag:

Mimpikan saja

Mencintai dengan sederhana..kata seorang penyair…
Bukan mencintai dengan sederhana kataku….
Mencintai dengan pemahaman…
paham…
sederhana….

Bahwa begitulah adanya dengan cinta….
Seperti Ikal dengan A Ling…
dipagut mimpi terus menerus…

Jangan mimpi kata sesorang…
Mengapa tidak kataku….
Mengapa tidak kata Ikal….

‘Jangan dan tidak’ menjadi kata yang kadang berarti kadang pula tidak bermakna…
Apa peduli tentang makna sebuah kata
Kalau pikiran ini menggumuli terus menerus

Seperti Orhan Pamuk berdialog dengan dirinya…
menyusuri kota lama…mimpinya…mimpi yang tanggal
entahlah
keindahan suatu tempat terletak pada kemurungannya..tulisnya
apakah demikian kataku…..
apakah keindahan suatu mimpi karena hanya sekedar mimpi..
karena pergulatan pikiran menjadi tak seragam…
pencarian boleh berlanjut…..

Kutulis ini dengan sebuah kerumitan…
karena kesederhanaan menjadi barang mewah…
keserdehanaan dan pemahaman menjadi padu padan
olahan yang begitu nikmat..pas…
begitu sulit terjangkau….
sederhana..
paham…
terus mengiang…
kutanggalkan saja…..
semakin menyesakkan….

mimpikan saja….bukankah sebuah keindahan?

*Ikal dan Aling, dalam tetraloginya Andrew Hirata

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 30, 2009 in Puisi

 

sejengkal transformasi

Bagaimana aku mengatakan kalau air mengalir dibebatuan adalah air dengan kebeningan hati..
Bagaimana aku mengatakan kalau langit berubah warna pada setiap detik
Bagaimana aku mengatakan kalau panasnya matahari tak kan membakar bumi
Bagaimana aku mengatakan dibalik hujan deras kan menanti segurat pelangi nan indah
Bagaimana aku mengatakan inilah kehidupan
Kehidupan yang perlu disikapi dengan kesegenap pemakluman atasnya
Dan aku tak perlu mengatakan apapun
karena tak ada kata yang dapat mengungkapkan
tak ada koma yang membendungnya
tak ada titik yang menghentikannya
tak cukup dengan sejengkal upaya
namun berkilo kilo meter perjalanan mesti dilalui
mesti terjadi penaklukan terhadap diri
terhadap segala kehendak

Itu adalah baru satu episode..
Episode lanjutan adalah tiadanya matahari bersinar
kegelapan disana sini..
hanya zikir….
penghambaan di titik nol
menjadi asesori yang tak boleh ditaggalkan
hingga tujuan kehidupan di ambang kota..

Entahlah..di episode ke berapa aku berapa
itu tidaklah penting
Yang terpenting adalah …bagaimana aku tanpa kata
berada pada titik mana saja
menggeliat dalam upaya pemujaan dan kepasraha yang padu padan
menggeliat mengukir detik demi detik..jengkal demi jengkal
tak peduli angin kanmeluruhkan ataukan bersahabat membawa kabar gembira
dan aku bisa berkata..
inilah aku yang bisa menyongsong Mu dengan segenap jiwa..

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 28, 2009 in Puisi

 

Tag:

KATA KATA TAK ADA…..

Gugusan kata mengalir

Menjadi guratan padu padan

Melaju diselingi ketipak air pancuran

Adalah terbilang kenyamanan

Apakah cukup dua jalan seiring

Apakah menjadi satu titik memedarkan pelangi jingga

Sebuah tanya ditingkahi senja kian matang

Kopi mengepul dan roti menguning terpanggang

adalah pelengkap kematangan senja

Senja kan berubah esok yang segar

Ditingkahi kegelapan tak lekang

Apa peduliku atas semua itu

Tak perlu jawaban

Hanya detak detak sepatu bersahutan

Tapak demi tapak terus membentuk jejak jejak jiwa

Bermekaran….. kuncup…. meradang ….

Kususuri pantai dikegenitan ombak mengalun…

Kuterabas terik mentari dikesunyian tak berbekas…

Mengurai….menciut….

Ini adalah kata kata tak ada koma dan tak ada titik

Terbuka lebar…

Dan aku membiarkan dipagut dan menyerah

Bahwa ada bingkai lebar…ada pengurai serabut serabut tak berujung ini…

.

ririnwulandari/maret 2009

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 12, 2009 in Puisi

 

Sebuah Malam

Dan….sebuah malam… hanya ada keheningan..

menenangkan sejenak

Dan..segurat senyummu  berkata

Mengkikis banyak kata dalam diam

Mendengarkan alunan lembut dendang lagu tak berujung

adalah jalan terbaik

Tahukah engkau…

Bahwa Itulah melengkapi perbekalan jalanku

perbekalan yang begitu minim

mengurai….segala inginku

hanya sebuah jalan terang yang mengiming imingkanku untuk terus berjalan

sembari memandang berpedar pedarnya rembulan

Jalan terang kan datang

katamu….

Pasti kan datang….

hiburmu…

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 19, 2009 in Puisi

 

Ketenangan

Ketenangan tercipta ketika sebagian keinginan luruh
Meluruhkan keinginan bagaikan memindahkan sepucuk gunung…
Begitu berat…namun memungkinkan

Malam ini ketenangan mengendurkan syaraf kepala
mengalun lembut
sebagian keinginan kuremas dan kulempar ke sembarang arah
kubiarkan amit mundur dari pandanganku
Pun sekedar memandang bintang berpedar pedar

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 13, 2009 in Puisi

 

untuk jiwa jiwa

rembulan kan kupetik
deburan ombak kan kudekap erat
daun daun berserakan kan kupunguti
untukmu…untukmu
untuk kalian
agar cukup menerangi jiwa jiwa
sementara biarkan aku
meleleh perlahan
karena hanya kekuatan itu yang aku punya
sementara biarkan aku menyanyikan lagu sumbang
lamat lamat tak terdengar

tersenyumlah wahai jiwa jiwa
agar aku tahu
yang kuberikan adalah sebuah kecukupan
kecukupan yang menentramkan
bukti jiwaku bermekaran

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 11, 2009 in Puisi

 
 
%d blogger menyukai ini: