RSS

STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA KECIL MENENGAH UNTUK MENGUASAI PASAR MEA

17 Mei

Oleh:
Dr. Ririn Wulandari, SE, MM

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) menjadi kekinian, masuk bak angin, menelusup, pelan-pelan mematikan, atau menyegarkan. Tantangan dan peluang menjadi pilihan yang perlu disikapi biasa-biasa saja ataukah sebuah perjuangan tak kenal batas.

Pada Era MEA, Usaha Kecil Menengah (UKM) adalah sekoci usaha yang rentan dilibas pesaing dari Negara Asean. Hambatan tarif yang menjadi pembeda harga bagi barang-barang masuk ke Indonesia, sudah tidak ada. Efisiensi menjadi hal utama untuk bersaing secara global.

Untuk memproduksi produk secara efisien, diperlukan hal-hal berikut, antara lain: skala ekonomi besar (produksi masal), tenaga kerja terlatih, bahan baku murah, dan infrastruktur yang memadai

TINGKAT EFISENSI UKM

UKM tidak mampu memproduksi secara masal dengan skala ekonomi besar. Hal ini yang menyebabkan beberapa tahun lalu industri garmen berskala UKM gulung tikar. Dengan skala ekonomi yang relatif kecil, komponen biaya tetap menjadi bagian biaya produksi yang tidak bisa ditekan, berakibat melemahkan daya saing.

Selain itu, pembelian bahan baku pada jumlah relatif sedikit dikenakan harga lebih tinggi dibandingkan dengan pembelian dalam jumlah yang relatif besar. Hal tersebut menyebabkan biaya bahan baku juga sulit ditekan. Persoalan biaya bahan baku menjadi melebar apabila bahan baku berasal dari impor.

Sebagai ilustrasi, skala ekonomi besar dijalankan oleh sebagian besar pabrikasi di China, salah satunya adalah Pabrik Mebel. Mebel dari China membanjiri Indonesia dengan harga yang relatif murah. Salah satu penyebabnya adalah karena mereka mampu menekan biaya produksi. Pabrik mebel di sana, sebagain besar adalah pabrik mebel yang mempunyai tempat produksi seluas satu kelurahan, berskala ekonomi besar, serta pembelian bahan baku dalam jumlah besar. Jauh sekali bila dibandingkan dengan skala ekonomi UKM, sehingga UKM kesulitan bersaing dengan produk mereka yang melenggang masuk ke Indonesia. Hal tersebut merupakan salah satu sebab beberapa tahun lalu UKM Mebel Jepara gulung tikar, hingga kini sulit bangkit kembali. Dengan keterbukaan dan peniadaan tarif, khususnya diberlakukannya MEA, dikhawatirkan ketidakmampuan bersaing semakin tinggi.

Selain hal tersebut, tenaga terlatih juga menjadi bagian penting dalam memproduksi secara efisien. Tenaga terlatih diperlukan dalam perencanaan produk, proses produksi, dan pengemasan, serta pengelolaan keuangan. Tenaga kerja terlatih ada di setiap UKM yang berhasil. Namun, hanya beberapa yang berhasil mengembangkan tenaga kerja untuk mengiringi pengembangan usahanya. Sehingga persoalan UKM adalah kesulitan untuk meningkatkan kemampuannya naik ke level usaha menengah, selain perlu upaya sungguh-sungguh untuk bertahan. Hal tersebut merupakan kendala dengan adanya MEA, dimana pasar semakin luas, di sisi lain diikuti pesaing yang semakin bertambah.

Permasalahan lain adalah Indonesia jauh ketinggalan dalam hal infrastruktur dibandingkan Negara-negara lain. Infrastruktur yang tidak memadai menjadi salah satu penyebab adanya biaya tinggi. Mendekatkan antara pabrikasi dengan konsumen, pelabuhan dan bandara merupakan salah satu upaya memperkecil biaya. Walau infrastruktur menjadi salah satu bagian penting dalam menekan biaya, namun pembangunan infrastruktur perlu memperhatikan skala prioritas mengingat adanya batasan sumber dana.

STRATEGI UKM

Berdasarkan paparan di atas, yaitu tentang keterbatasan UKM dalam hal kesulitan mencapai efisiensi, bukan berarti UKM harus menyerah begitu saja, namun perlu melakukan strategi yang tepat dan berbeda. Dalam hal ini UKM harus menghasilkan produk yang sesuai kebutuhan dan keinginan konsumen pada tingkat harga yang dikehendaki konsumen (willingness to pay).

Dengan demikian strategi efisiensi perlu dilawan bukan dengan strategi yang sama, sebaliknya dengan strategi yang berbeda. Salah satu satu strategi yang perlu dipilih agar produsen mampu menembus Pasar Asean adalah memproduksi produk-produk unik sesuai kebutuhan konsumen. Produk unik dimaksud merupakan hasil penggalian talenta, sumber daya manusia dan alam. Selain itu, produk unik mengedepankan kualitas produk yang diinginkan dan dibutuhkan konsumen, bukan produk masal, serta bukan mengedapankan efisiensi, serta perlu strategi pemasaran yang tepat untuk menyasar segmen pasar secara tepat, sehingga willingness to pay pada tingkat yang tinggi berakibat tambahan nilai (value added)nya juga tinggi.

Indonesia terdiri dari beberapa daerah yang mempunyai sumber daya manusia, talenta, sumber daya alam, serta proses produksi yang berbeda. Sumber daya tersebut perlu disinergikan oleh masing-masing daerah sehingga menghasilkan produk andalan. Potensi ini bisa dikembangkan untuk memproduksi produk unik. Produk unik berdasarkan konsep kearifan lokal perlu dicarikan format dan dikembangkan untuk diterapkan oleh seluruh Daerah. Sementara itu, Pemerintah Pusat perlu menyusun strategi menyeluruh dan terintegrasi. Di sisi lain, Pemerintah Daerah diharapkan mampu mengembangkan konsep yang menjadi bagian konsep terintegrasi tersebut.

17 Mei 2016
RW

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 17, 2016 in Ekonomi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: