RSS

RENUNGAN DI HARI PENDIDIKAN NASIONAL

02 Mei

Oleh:
Dr. Ririn Wulandari, SE, MM
Kadep Pendidikan Dasar dan Menengah DPP Gerindra

Hari ini, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional, hari di mana Ki Hajar Dewantoro lahir. Seorang Pahlawan yang berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau orang kaya saja yang bisa mengenyam bangku pendidikan.

Hari ini, mari meluangkan waktu sejenak merenungkan dan memikirkan kemajuan pendidikan di Indonesia. Sesuaikah dengan harapan Beliau dan kita bersama? Bagaimana pendapat kita mengenai kemajuan pendidikan di Indonesia? Apakah perjuangan Ki Hajar Dewantoro terbayar lunas? Ataukah masih ada PR yang menggunung?

Sepertinya sudah tidak ada perosalan apabila kita memandang dari perspektif di mana kita berada. Kita, keluarga, teman-teman, saudara-saudara, tetangga dan lingkungan di mana kita bergaul mempunyai semangat, materi, kemauan, dan kesempatan untuk mendapat pendidikan. Cakrawala terbentang luas.

Namun benarkan demikian yang terjadi pada seluruh masyarakat Indonesia?. Benarkah secara kuantitas tidak ada persoalan, tidak terjadi kesenjangan kesempatan? Benarkah secara kualitas tidak ada persoalan? Benarkah moral dan karakter positif mengikuti tingginya jenjang pendidikan?

Tentu saja masih ada persoalan
Masih banyak yang harus kita perjuangkan

Tidak bisa kita pungkiri, kesenjangan kesempatan masih terjadi. Hal tersebut bisa ditinjau dari kenaikan Gini Rasio tahun 2015 menjadi sebesar 0,43 yang artinya gap kesejahteraan masyarakat lumayan lebar. Artinya masyarakat miskin semakin bertambah, Di sisi lain, terdapat pengaruh dan hubungan antara kemiskinan dan kesempatan sekolah sehingga berpengaruh terhadap penambahan usia sekolah yang tidak mendapat kesempatan sekolah. Sesuai hasil penelitian Unicef (2014) di Indonesia bahwa 50% dari anak-anak berasal dari keluarga miskin tidak mampu yang dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama, serta anak-anak yang berasal dari rumah tangga miskin memiliki kemungkinan putus sekolah 4 x lebih besar daripada mereka yang berasal dari rumah tangga berkecukupan.

Usia sekolah dasar yang tidak mendapat kesempatan sekolah sebesar 3% dari total usia sekolah dasar. Belum lagi apabila ditinjau dari pemerataan mengenyam pendidikan di dasarkan pada kondisi sosial di perkotaan dan pedesaan. Di pedesaan, dari mereka yang belajar di bangku sekolah dasar, hampir 1 dari 5 anak tidak dapat melanjutkan ke sekolah menengah pertama, dibandingkan 1 dari 10 anak di daerah perkotaan. Dengan demikian persoalan pemeratan pendidikan masih perlu diperjuangkan agar lebih baik lagi.

Pesoalan lain adalah Kualitas Pendidikan. Berdasarkan fenomena sosial, sungguh menyedihkan karena sebagian masyarakat yang mengenyam pendidikan tidak mempresentasikan dirinya sesuai pendidikannya. Belum adanya korelasi antara pendidikan yang semakin tinggi dengan karakter baik, antara lain jujur, empati, kemadirian berfikir, serta adanya keinginan bekerja cerdas, gigih, keras dan optimal, namun sebaliknya yang terjadi yaitu menginginkan hasil instan dan melakukan jalan pintas.

Berdasarkan hal di atas, Ada dua persoalan utama Pendidikan di Indonesia, yaitu Kuantitas Pendidikan (Pemerataan Pendidikan) dan Kualitas Pendidikan.

Hal tersebut menjadi “PR” bagi Eksekutif maupun Legislatif untuk mencarikan jalan keluar, salah satunya dengan menyusun Strategi Global Pendidikan di Indonesia, khususnya untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. Strategi Global meliputi, Kurikulum, Rencana Belajar Semester, Kualitas Guru, Kualitas Sarana dan Prasana, serta Sistem Pendidikan yang kondusif sesuai motto Ki Hajar Dewantoro yaitu Tut Wuri Handayani.

Strategi Global Pendidkan Indonesia perlu memasukkan unsur Karakter Unggul sebagai Tujuan Pendidikan agar Pendidikan yang Berkualitas dapat tercapai, yaitu adanya korelasi Peningkatan Pendidikan dengan Peningkatan Karakter Unggul.

Selain itu perlu disosialisasikan cara berfikir visioner bagi orang tua dan cara berfikir pengutamaan makna proses dalam menjalani kehidupan, bukan sekedar pencapian materi.

Begitulah, sebagai penerus Ki Hajar Dewantoro, kita masih harus terus berjuang demi tercapainya pendidikan berkualitas dan merata.

Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional, Salam Indonesia Raya..

Jakarta, 2 Mei 2016

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 2, 2016 in Sosial

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: