RSS

DAFA, BINAR INDAH DARI UJUNG MENTENG (Sepenggal Cerita di HARI GURU)

19 Feb

Wajahnya bulat berisi, matanya menyiratkan keteduhan dan berbinar indah. Pipinya penuh kemerah merahan. Bibirnya terkatup tipis namun berisi senyum manis. Badannya gempal dan berisi. Suaranya lembut dan tegas menjawab pertanyaan saya. “Siapa namamu sayang?” Tanya saya. “Dafa, Bu Guru”, jawabnya. Lalu saya memeluknya. Mendudukkannya di pangkuan saya.

Pengelola PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang saya kunjungi pagi itu memperkenalkan saya sebagai seorang dosen, gurunya maha-siswa. Saya tahu mereka belum memahaminya, yang mereka tahu saya seorang guru, titik. Mereka juga tidak tahu mengapa saya mengunjungi mereka, yang mereka pedulikan adalah bagaimana mereka menikmati biskuit, susu, dan kesiapan mereka hendak mendengarkan “cerita” saya.

Saya tidak punya cerita menarik, namun saya ingin membawa mereka ” jauh ke depan”. Saya ingin pertemuan mereka dengan saya menjadi peristiwa yg tak terlupakan. Karena itu, saya masuk ke materi “Pengenalan Profesi”. Perbincangan topik tersebut saya buka dengan sebuah pertanyaan, “Siapa yang ingin menjadi dokter”, tanya saya. “Saya bu guru”, jawab beberapa siswa sembari mengangkat tangan mereka. Seiring dengan itu, bertebaranlah binar-binar mata penuh harap.

Saya mengajak mereka untuk menguntai cita-cita. Dimulai dari cita-cita, jalan kehidupan terbentang luas.

Saya menyadari, upaya saya ini hanya sebuah titik untuk permasalahan pembentukan karakter dan peningkatan kualitas sumber daya manusia kelak kemudian hari. Namun “setitik” itulah yang merupakan jejak yang bisa saya tinggalkan sepanjang saya menjadi Caleg DPRD DKI dari Partai Gerindra dengan nomor urut 3, Dapil Jakarta Timur (Cakung, Matraman, Pulogadung). Sepanjang perjuangan ini, upaya saya antara lain menelusuri jalan-jalan yang dipadati penduduk untuk memperkenalkan diri sembari meninggalkan sedikit jejak indah, disamping mendapati kenyataan yang ada tentang pelaksanaan sebuah program atau temuan berderet kebutuhan masyarakat.

Dafa dan anak-anak yang lain adalah bagian dari masyarakat. Mereka membutuhkan pendidikan di usai dini mereka, sementara itu pendidikan untuk umur tersebut tidaklah murah. Maka berbondong-bondonglah mereka belajar di PAUD.

Dafa, CikA, Nabila, Kusbini dan lainya tidak tahu bahwa guru-guru mereka adalah relawan, mereka tidak tahu kesulitan kesulitan yang dialami pengelola PAUD, baik kesulitan administrasi maupun kesulitan finansial. Mereka tidak tahu bahwa di sudut lain Jakarta anak-anak seumur mereka menikmati fasilitas pendidikan yang aduhai, sementara mereka belajar dengan peraga permainan seadanya. Mereka tidak memperdulikan hal itu. Saat itu mereka hanya perduli meraih tangan saya, mencium tangan saya, seraya berkata “Terima kasih Bu Guru”. Mereka mencoba tertib berbaris. Dafa di tengah- tengah barisan tersebut, lengkap dengan binar matanya.

Binar mata yang terlalu indah untuk diabaikan begitu saja. Binar mata yang terus menyemangati saya dalam perjuangan ini khususnya, kelak, dalam mendudukkan PAUD pada tempat yang seharusnya mengingat pembentukan karakter manusia terjadi di udia 0 hingga 5 tahun. Usia murid PAUD.

Selamat Hari Guru..Selamat Sang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa..Salam Sukses..:)

Jakarta, 25 Nov 2013/Ririn Wulandari/

J

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 19, 2016 in Ekonomi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: