RSS

Sore dan Kebenaran

09 Des

Oleh: Ririn Wulandari
Sore ini begitu terang benderang, sisa hujan seharian kemarin menyisakan kegembiraan bagi Sutera Bombay pagi hingga siang menjelang sore, untuk mempertontonkan bunga-bunganya merah nan seksi, bertaburan di sana sini. Demikian juga Kamboja Jepang tidak kalah pamernya, pink seksi. Serta bunga soka, dan lain-lainnya, sepanjang hari..merah, pink, dan putih..
Sembari meyeruput segelas air dingin, pikiranku melayang dan melenguh. Barisan kalimat-kalimat hilir mudik di tanyangan tv, facebook, maupun surat kabar menyajikan arah kebenaran yang antah berantah, hasil Pilkada yang menggembirakan dan tidak. Sebagai penonton, saya menonton, sembari mengunyah tanya dalam pikiran simpang siur.
Pilkada digelar, hari ini libur. Beberapa kawan berpose di beberapa TPS. Tidak demikian dengan kami, Pilkada di tempat kami belum hadir, masih menunggu tahun 2017. “Calon-calon kepala daerah bukan yang terbaik, namun pilihlah yang tidak menyengsarakan rakyat”, demikian salah satu himbauan, a aihh…saya lupa, pernah baca di mana himbauan tersebut.
Rakyat menjadi obyek jarahan suara dalam Pileg, Pilpres, maupun Pilkada. Obyek yang menjadi tujuan untuk dimakmurkan atas gonjang ganjing kekuasaan, di eksekutif maupun legislatif, namun kenyataannya seringkali sebagai obyek penderita untuk diabaikan.
Gonjang-ganjing Freeport menjadi topik utama pemberitaan beberapa pekan ini, namun kebenaran hakiki seperti siluet yang sulit untuk ditangkap, menguap, mengembun, dan moksa. Ada dan tiada. Pencarian kebenaran seperti pejalan yang tidak tahu arah kecuali berpegangan pada keyakinan untuk sampai pada tujuan.
Saya pernah membaca satu kalimat, entah di mana dan kapan, atau barangkali pernah mendengar dari dialog film, entah dimana, dan kapan menontonnya. Berikut kalimat tersebut: “Kebenaran seringkali bukan ditunjukkan dari/ dengan adanya kenyataan yang terjadi, sebaliknya kenyatan yang terjadi belum tentu sebuah kebenaran”. Benarkah seperti itu?, pikir saya. Sepertinya kalimat tersebut benar, lanjut saya berfikir, sembari menyeruput segelas air dingin…
Barangkali seperti ini juga: “Kebenaran selaksa udara, ada dan tiada. Tanpanya kita sulit bernafas dan melanjutkan kehidupan”.
Sore sedang saya nikmati. “Kebenaran ada di hati”….begitukah?, entahlah?, sembari terus berfikir yang positif, sembari menyeruput air dingin…

 

Jakarta, 9 Desember 2015.

RW

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 9, 2015 in Sosial

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: