RSS

Menggaet Konsumen Hijau (1)

14 Jan

by Ririn Wulandari

Hasil penelitian saya ( Wulandari 2012) menunjukkan bahwa persentase konsumen yang berusia antara 30-44 tahun mempunyai kecendurungan sebagai konsumen konvensional (61,3%) dan sebagai konsumen green  (67,15).  Di sisi lain, konsumen berusia antara 35-49 tahun menunjukkan kecendurungan tinggi sebagai konsumen greener  (62%) dan greenest  (67,7%).

Hal tersebut berarti bahwa konsumen yang mempunyai kepedulian terhadap lingkungan dan kesadaran untuk membeli produk hijau lebih berada pada rentang puncak produktif (35-49). Pada puncak usia produktif, konsumen mempunyai tolerasi menghadapi perubahan, termasuk perubahan untuk lebih memperhatikan dan mempunyai kepedulian terhadap kelestraian lingkungan dan produk hijau. Usia di bawah rentang tersebut masih menuju puncak produktif, yaitu masih memperjuangkan produktifitasnya secara optimal sehingga mengabaikan permasalahan lain. Termasuk mengabaikan perlunya memperhatikan dan berpartisipasi dalam melestarikan lingkungan dan perlunya menggunakan produk hijau. Demikian juga usia di atas rentang 35-49 tahun, kurang mempunyai toleransi terhadap perubahan atas munculnya produk hijau ataupun upaya kelestarian lingkungan karena merasa mapan dengan produk-produk yang telah digunakan selama ini (Wulandari 2012).

Berdasarkan hal tersebut, penggiat kelestarian lingkungan yang mulai bergerak untuk memproduksi produk-produk hijau, ataupun yang bergerak sebagai konsultan pendamping sertifikasi produk hijau, juga invenstor yang berniat menghasilkan produk hijau, perlu memperhatikan stratifikasi konsumen berdasarkan umur konsumen, sehingga segmentasi dan target pasar bisa dilakukan secara tepat dan benar.

Produk hijau sebaiknya ditujukan kepada konsumen dengan rentang umur 35-49, karena rentang umur tersebut mempunyai toleransi tinggi terhadap perubahan sehingga lebih mudah ditarik sebagai konumen hijau. Produk hijau yang disajikan untuk target pasar tersebut sebaiknya  produk  premium, yaitu produk dengan label-label yang menunjukkan kelas sosial tertentu.  Label yang melengkapi  produk hijau adalah sertiifkasi ekolabel (jaminan yang diterbitkan oleh sertifikator dan verifikator dan adanya pernyataan bahwa produk telah diolah atau/dan  berbahan baku dengan memperhatikan kelestarian lingkungan).  Label ini belum cukup sebagai variabel yang bisa mengidentifikasikan dirinya sebagai kelas sosial tertentu, perlu adanya penciptaan merek yang bisa diasosiakan dengan label lingkungan, sebagai misal produk-produk Body Shop. Selain itu, perlu diperhatikan daya guna dan fungsi guna sebagai produk yang bisa memenuhi kebutuhan konsumen premium, serta variabel-variabel lain yang akan dijelaskan lebih lanjut.

Selamat  berjuang melestarikan lingkungan, sekaligus mencari peluang untuk meningkatkan produktivitas…

 

Salam jabat erat

Ririn Wulandari

 

Daftar Pustaka:

Wulandari R. 2012. Strategi Pemasaran Mebel Bersertifikasi Ekolabel pada Stratifikasi Konsumen Hijau di Jakarta. Bogor. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor: 113-114.

 

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 14, 2015 in Ekonomi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: