RSS

Menjadi Tua…

02 Des

by Ririn Wulandari

Hampir selalu, ketika keluar dari kamar, saya mendapati si mbah berjalan pelan namun menyiratkan kegagahan menaiki anak tangga satu demi satu. Si Mbah adalah sebutan untuk pembantu kami yang sudah tua. Ketika pertama kali kami menerimanya sebagai pembantu, pertanyaan pertama saya adalah: “Mengapa masih ingin bekerja?”. “Saya tidak ingin memberatkan anak-anak Bu, mereka mesti mencukupi kebutuhannya sendiri. Sejak dulu saya bekerja, mengangur adalah hal yang sangat tidak mengenakkan”. Demikian jawabanya.

Jawaban tersebut hampir sama dengan yang disampaikan Almarhum Bapak, ketika Mbakyu-Mbakyu meminta Beliau berhenti bekerja. Bapak mengatakan: “Sangat tidak nyaman menjadi orang yang tidak berguna, bekerja dan beraktivitas adalah upaya mendayagunakan diri kita”. Begitulah, sampai akhir hayatnya, Almarhum meninggalkan pekerjaan yang masih banyak. Ketika Beliau meninggal, saya dan mbakyu-mbakyu sedih sekaligus bahagia mengurus dan menutup buku beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan. Begitu bangga saya menyerahkan dokumen-dokumen kepada pengganti Bapak. Sedih, bahagia, dan bangga mengharubiru. Kehilangan sungguhlah sangat menyedihkan, di sisi lain bahagia karena Almarhum tak henti mengukir manfaat bagi lingkungan dan kotanya, dan menghujani kami dengan kasih sayang dan kerja keras. Ukiran manfaat yang indah dan tak ternilai bagi kami.

Sekarang saya menuju tua..

Berbagai pertanyaan dan kerisauan mengisi hari tua. Seperti tanaman, terus menerus tumbuh, dan merimbun. Bagaimana cara mengisi hari tua? Bisakah saya seperti Almarhum dan Almarhumah Bapak dan Ibu mengisi hari-hari dengan kemanfaatan? Bisakah seperti Beliau membiarkan putri-putrinya bebas lepas landas, terbang terbawa kemana angin mengarah?, kemana suaminya membawa? Bebas meninggalkan Beliau merenta berdua, sepi menghiasi hari-hari, hingga ajal datang?

Tentu saja harus bisa, bukankah selama hayat di kandung badan kita mesti terus merenda manfaat? Bukankah kita, orang tua bak busur yang mesti rela melepaskan anak panah? Bukankah kita sebagai orang tua mendulang manfaat apabila anak-anak kita selalu mengukir manfaat dan berjalan di trotoar kebaikan?

Menjadi tua adalah karunia, diberi kesempatan olehNYA menyaksikan dan “menemani” anak cucu tumbuh adalah karunia. Mengisinya dengan sebaik-baiknya cara dan bermanfaat adalah pilihan kita. Pilihan tersebut merupakan keberkahan luar biasa…..Aamiin YRA.

Selamat pagi sahabat, tetap semangat merenda manfaat…salam tabik.

RW

/Jakarta/2 Desember 2014/ Telah diterbitkan di Fb tgl 2 Desember 2014

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 2, 2014 in Motivasi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: