RSS

Mengapa saya “Turun Gunung”

23 Jul

Saya adalah Dosen. Dosen yang “turun gunung”. Tidak hanya melakukan transfer ilmu di lembaga pendidikan tetapi melakukan transfer ilmu di masyarakat serta belajar banyak dari mereka.

Saya turun gunung, ketika diskusi panjang tentang Indonesia menjadi usang tanpa upaya nyata untuk turut serta memperbaikinya. Ketika risau semakin menggelegak. Ketika diam bukan hal terbaik. Ketika ketidak puasan akan keadaan menghimpit jiwa. Perlu upaya nyata untuk mengurainya. Sebuah upaya setitik yang diharapkan kelak bisa menjadi sebuah garis lurus panjang dan elok.

Ketika cinta semakin pengap dalam keterbatasan ruang dan waktu. Perlu pelepasan. Hingga nafas-nafas menjadi lapang.

Ketika cinta haruslah memberi secara luas laiknya hujan membuahi bumi. Perlu menanam benih-benih kebaikan sepanjang jalan-jalan sempit di perkampungan, di pematang sawah, di pinggiran sungai pekat, di sepanjang koridor , di jalan-jalan bebas hambatan, di sepanjang perkotaan hingga perkampungan. Benih yang kan tumbuh menjadi pohon-pohon kuat dan kekar. Menaungi dan memberi keindahan.

Ketika itulah saya memutuskan turun gunung, memasuki “sungai deras” perpolitikan, dengan dilengkapi peralatan yang secukupnya, selain kurangnya pengalaman berenang dan mengapung di ‘sungai deras”. Namun, dengan membaca Basmalah dan niat yang tulus, semuanya menjadi dimudahkanNYA. Hingga saat ini saya sebagai Caleg DPRD DKI Jakarta dengan nomor urut 3 dari Partai Gerindra, sedang melakukan perjalanan tidak mudah hingga 9 April 2013. Pada perjalanan tersebut, saya menghampiri masyarakat untuk meyakinkan mereka agar mereka berkenan menitipkan suaranya ke saya, disertai menggali permasalahan-permasalahan yang terjadi di dalamnya, sembari memberi setitik- dua titik manfaat yang bisa saya berikan sepanjang perjalaan, meskipun kadang hanya sapaan dan senyuman.

Satu tekad yang saya wujudkan dalam beberapa program adalah hingga 9 April 2014 saya sudah dan akan terus menebar bibit-bibit kebaikan yang kelak bisa tumbuh sumbur merindangi masyarakat banyak.

Begitulah, perjalanan ini tidaklah ringan diantara berbagai hal yang membahagiakan. Saya menemui kerikil, tikungan yang menelikung, semak berduri, bongkahan batu besar yang mengharuskan saya berbelok arah, selain senyum penuh harap, jabat erat bersahabat, serta pedar mata yang menginginkan perubahan dan perbaikan keadaan. Dalam perjalanan ini Allah SWT “menggenggam tangan” saya selalu sehingga saya tidak gentar. Saya meyakini , tidak ada peristiwa di dunia ini tanpa KehendakNYA.
Manusia dimintaNYA berusaha, Allah SWT penentu keberhasilannya.

Namun, perjalanan yang terberat justru setelah 9 April 2014, khususnya apabila saya diperkenankanNYA masuk sebagai anggota legislatif. Oleh karena itu, pada kesempatan ini ijinkan saya mohon doa restu sahabat sekalian, agar saya masuk DCT (Daftar Calon Tetap), selanjutnya masuk anggota legislatif, serta agar perjalanan saya penuh manfaat, amanah, dan dimudahkanNYA. Aamiin YRA.

Salam Indonesia Raya
Dr. Ririn Wulandari, SE, MM
Caleg DPRD DKI Jakarta,
No Urut 3 dari Partai Gerindra
Dapil 4 Jakarta Timur (Pulogadung, Matraman, Cakung)

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Juli 23, 2013 in Ekonomi

 

4 responses to “Mengapa saya “Turun Gunung”

  1. Partai Gerindra Penggilingan

    September 23, 2013 at 3:28 am

    Selamat bergabung di Partai Gerindra pada Dapil IV Jakarta Timur,Dukung Kami siap antarkan ke Gedung Parlemen. SALAM iNDONESIA RAYA.

     
  2. Mihadi Art'kEy

    September 23, 2013 at 5:41 am

    ”Turun Gunung” adalah hal yang sangat berat. Kesadaran pribadi dalam menumbuh kmbangkan empati terhadap kepentingan masyarakat luas adalah hal yang sangat luar biasa. Saya cuma sedikit mengingatkan dalam sebuah pribahasa ”Mulutmu adalah Harimaumu”. Dan saya yakin bahwa Ibu sudah mengantongi Intelektual Quotient, Emotional n’ Spiritual Quotient. Selamat berjuang, sukses. Salam Indonesia Raya.

     
  3. susanto azis

    Februari 3, 2014 at 5:41 am

    semoga sukses dan bisa lebih bermanfaat buat orang banyak.

     
  4. Alphieza S

    Maret 17, 2014 at 8:07 pm

    Perjalanan tidak mudah memasuki “sungai deras” perpolitikan, dengan dilengkapi peralatan yang secukupnya, selain kurangnya pengalaman berenang dan mengapung di ‘sungai deras”. (Wulandari, 2014)

    Saya terkesima sekali dengan asersi Ibu di atas. Memasuki “sungai deras” yang Ibu maksudkan tersebut sebenarnya bukan semata-mata perihal “peralatan” ataupun “pengalaman berenang”. Kearifan melihat suatu hal serta mengemban amanat dengan jernih justru menjadi hal yang lebih substansial.

    Selamat berjuang Bu… semoga tetap amanah.

    Wassalam,
    Phieza
    (Warga dan pemegang KTP Kel. Rawamangun, Kec. Pulogadung)

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: