RSS

Kurangnya Empati sebagai akar persoalan bangsa

17 Feb

Oleh Ririn Wulandari

Empati merupakan salah satu komponen mendasar yang perlu ditumbuh-kembangkan sebagai bagian dari karakter masyarakat Indonesia. Berkurangnya empati menyebabkan berbagai persoalan.

Empati didefinisikan sebagai respons afektif dan kognitif yang kompleks pada distres emosional orang lain. Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain. Empati didefinisikan juga sebagai kemampuan yang mencakup spektrum yang luas, berkisar pada orang lain yang menciptakan keinginan untuk menolong, mengalami emosi yang serupa dengan emosi orang lain, mengetahui apa yang orang lain rasakan dan pikirkan, mengaburkan garis antara diri dan orang lain (WikiPedia). Dengan kata lain, empati merupakan rasa yang dimiliki apabila seseorang berperan sebagai orang lain dengan kondisi yang ada pada orang lain tersebut.
Berdasarkan definisi dan pemahaman empati tersebut, segala tindakan yang disertai dengan empati merupakan tindakan yang mengesampingkan ego dirinya, atau tindakan yang mengaburkan antara dirinya dengan orang lain. Dengan pemahaman bahwa orang lain itu adalah dirinya, maka tidak ada tindakan yang dilakukan yang merugikan orang lain. Bukankah oran lain tersebut adalah dirinya, dan dirinya adalah orang lain tersebut?.

Kembali kepada persoalan bangsa, bagaimana seseorang bisa melakukan kesepakatan yang merugikan masyarakat banyak, kalau dirinya menempatkan sebagai masyarakat banyak tersebut? Bagaimana seseorang menghancurkan keuangan negaranya dengan melakukan penyelundupan BBM Bersubsidi, kalau dia bisa menempatkan dirinya sebagai masyakarat yang menunggu realisasi kebijakan yang bisa memberikan kemakmuran.
Bagaimana seseorang atau sekelompok masyarakat bisa melakukan kesewenangan terhadap kelompok masyakarat lainnya apabila mereka bisa menepatkan sebagai kelompok masyarakat tersebut. Bukankah kelompok lain tersebut adalah kelompoknya sendiri? Demikian juga sebaliknya. Selain itu, seseorang akan berusaha memperjuangkan masyarakat “kecil”, apabila seseorang tersebut bisa merasakan apa yang dialami masyarakat “kecil” tersebut.

Kenyataan yang terjadi, korupsi merupakan penyakit yang ganas menyerang Indonesia, terjadinya penyelundupan BBM Bersubsidi pada saat Pemerintah sedang kelimpungan melakukan “tambal sulam”, serta dalam keadaan posisi keuangan “gali lubang tutup lubang” agar bisa melanjutkan penyelenggaraan pemerintahan. Selain itu, terjadinya kesewenangan kelompok mayoritas menggerus kepentingan kelompok minoritas. Akar persoalan sebagian persoalan bangsa disebabkan kurangnya empati yang dimiliki segala lapisan masyarakat. Khususnya, kurangnya empati dari sebagian masyarakat yang berperan sebagai pengampu kebijakan (berbagai level) dan masyarakat industri (produsen, pedagang) yang menghalalkan segala cara, dapat menimbulkan persoalan bangsa yang luar biasa, seperti yang sekarang sedang terjadi.

Dengan demikian, penanaman nilai-nilai luhur masyarakat perlu diselipkan dengan satu nilai karakter yaitu “empati”. Saya menghimbau diri saya dan anda sekalian untuk membawa empati pada setiap perjalanan meniti kehidupan, dalam rangka memerankan apa saja dalam kehidupan ini.

RW/17 Feb 2013

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 17, 2013 in Sosial

 

2 responses to “Kurangnya Empati sebagai akar persoalan bangsa

  1. Fragadian Rizky Widiawan

    April 26, 2013 at 8:49 pm

    blog ibu bagus.🙂

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: