RSS

Sepenggal Kenangan: Prof. Dr. Sjafri Mangkuprawira

06 Feb

Oleh Ririn Wulandari

Prof. Dr. Sjafri Mangkuprawira tidak hanya seorang guru besar pada bidang ilmunya, tetapi juga guru besar dalam kehidupan. Berbagai perjalanan di sepanjang kehidupan dari tahun 1943 hingga 2013 telah dilaluinya. Tidak goyah oleh hantaman angin, karena beliau adalah bagian dari angin itu sendiri yang berhembus lembut menyejukkan mahasiswa. Tidak tenggelam oleh hamtaman gelombang, karena beliau adalah bagian gelombang itu sendiri, dengan alunan riaknya yang memicu mahasiswanya untuk kreatif dan bergelora menciptakan kebaruan-kebaruan di bidang keilmuan. Tetap tegap “berjalan”, karena beliau adalah pejalan sejati kehidupan yang tidak diricuhi oleh pernak-pernik tidak perlu yang bisa mengotori hati.

Keberagaman mahasiswa dihadapi dengan pemakluman dan pemahaman yang bijak. Menurutnya keberagaman adalah warna-warni kehidupan, sehingga menjadi bagian pembentuk keindahan dunia. Beliau memahami sepenuhnya bahwa mahasiswanya, khususnya mahasiswa program doktor berasal dari berbagai latar belakang keilmuan, berbagai latar belakang budaya, karakter, serta berbagai latar belakang profesi. Dengan demikian, Prof. Sjafri adalah salah satu dosen yang tidak hanya melakukan pengajaran, tetapi juga melakukan pendidikan melalui pemahaman atas keberagaman tersebut.

Satu hal yang tidak bisa dipungkiri, bahwa Prof. Sjafri adalah seorang ayah. Cinta seorang ayah dan ibu terhadap putra-putrinya adalah cinta sepanjang jalan. Perhatian dan harapan terhadap putra-putri sepanjang hayat di kandung badan. Demikan juga dengan Prof. Sjafri. Prof. Sjafri tidak bisa menyembunyikan hal tersebut, saya menangkapnya melalui perbincangan santai antara saya, suami, beliau, dan Prof Aida (Nyonya Sjafri) di rumahnya yang asri ketika saya sowan untuk melaporkan kelulusan saya disertai oleh-oleh dua buku saya, yaitu Buku Ringkasan Disertai dan Buku Puisi.

Hari itu, di pertengahan bulan Februari 2012, sebenarnya Prof Sjafri masih sakit, namun beberapa kali beliau telpon dan sms saya untuk menanyakan apakah rencana saya tidak berubah untuk mengunjungi beliau. Tentu saja saya memprioritaskan rencana saya tersebut dan membawa saya kepada perbincangan santai tersebut. Sepanjang pagi hingga siang, Prof Sjafri bercerita banyak hal. Salah satu topik perbincangan adalah buku saya. Beliau membalik-balik dan meneliti buku puisi saya. Beliau juga mengagumi cover dan judul buku tersebut. “Aku, di Sini, adalah judul yang bagus Mbak”. Puji beliau. “Siapa yang mendisain covernya?” Lanjut beliau. “Saya Prof, hatur nuhun” jawab saya. Prof. Sjafri sangat menyenangi keseluruhan buku puisi saya, bukan karena di dalamnya ada pengantar beliau sebagai pintu untuk memasuki rasa dan pikiran yang saya tuangkan di dalam puisi saya, tetapi karena isi, judul, dan disainnya menarik hati beliau. Apresiasi seperti ini mengharukan saya dan tak terlupakan.

Saya dan Prof Sjafri mempunyai kesamaan hobi yaitu sama-sama senang menulis di blog dan sama-sama facebooker. Kalau bertemu di koridor kampus, beliau menyapa saya seperti ini “Apa kabar Facebooker?”…saya selalu menjawab dengan tertawa. Begitulah, melalui media sosial tersebut kami menjalin persahabatan. Beliau membaca dan mengomentari tulisan-tulisan saya di blog dan di lapak FB, demikian sebaliknya saya melakukan hal yang sama. Ketika saya menghilang sejenak dari aktivitas FB, Prof Sjafi menanyakan hal tersebut saat bertemu di koridor kampus. Dari pertanyaan tersebut saya tahu bahwa selama ini Prof Sjafri adalah pembaca setia tulisan ringan dan puisi-puisi saya. Saya mempunyai beberapa pembaca setia dan saya berterima kasih kepada pembaca-pembaca setia saya. Tetapi, mengetahui bahwa salah seorang pembaca setia adalah Prof Sjafri, bertambah jualah kegembiraan saya. Barangkali Prof Sjafri tidak menyadari bahwa saya pembaca setia status-status yang diterbitkan di wall FB beliau, dan tidak mengetahui bahwa saya dan beberapa pembaca setia kehilangan ide-ide segar, komen-komen cerdas, keprihatinan-keprihatinan atas kondisi negeri, dan petuah-petuah bijak dari Prof Sjafri melalui lapak FB. Kehilangan tersebut menyedihkan.

Saya meneteskan air mata dan menutup laptop setelah membaca sms seorang teman melalui BBM grup:

“Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un. Telah berpulang ke rahmatullah beberapa menit lalu, Prof. Dr. Sjafri Mangkuprawira-Guru Besar Sosek Faperta. Beliau mendapat serangan jantung saat menghadiri pertemuan Rabuan bersama pejabat IPB. Semoga almarhum khusnul khotimah, diterima semua amal baiknya dan diterima amal ibadahnya, serta ditempatkan di sisi terbaikNYA. Amiin YRA”.

Sembari berlinang air mata, saya membatalkan sebagian kegiatan saya hari itu dan bersiap-siap menuju Bogor untuk memberikan penghormatan terakhir kepada seorang Guru Besar sekaligus seorang sahabat.

Almarhum Prof. Sjafri telah diijabah keinginannya untuk “berhenti berjuang” ditengah-tengah koleganya dan di salah satu ruangan IPB. Layar kehidupan Almarhum ditutupNYA. Hymne IPB tergantikan sedu sedan kehilangan dan kesedihan.

Selamat jalan Prof. Sjafri. Dedikasi, kesungguhan untuk berbuat baik dan yang terbaik, kesungguhan untuk berjalan di koridor yang benar telah Almarhum lakukan. Kami semua berharap kiranya Allah swt membalasnya dengan kemulian di sisiNYA. Aamiin YRA.

RW/7 Feb 2013.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 6, 2013 in Ekonomi

 

One response to “Sepenggal Kenangan: Prof. Dr. Sjafri Mangkuprawira

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: