RSS

Mengunjungi Pak Misnan

25 Jan

Oleh Ririn Wulandari

Barangkali para pembaca bertanya-tanya, siapa Pak Misnan? Seberapa penting Pak Misnan sehingga perlu menjadi judul sebuah tulisan santai ini..

Pembaca yang mengikuti tulisan saya di Blog ini, tentu saja pernah membaca tulisan yang berjudul “Sepotong Wajah”. Sepotong wajah yang menarik perhatian saya karena kegigihan dan ketulusannya dalam bekerja sebagai penjaja koran di sebuah perempatan traffic light. Dia tidak tenggelam dilibas gelombang, karena dia adalah riak, bagian dari gelombang itu sendiri. Sepotong wajah tersebut bernama Pak Misnan.

“Bu, nama saya Misnan. Kemarin itu rumah saya kebanjiran sepinggang. Main-main ke rumah ya Bu. ini alamat saya…bla..bla..”. Demikian Kata Pak Misnan sembari memperagakan tangannya ke arah pinggang. Sebuah obrolan pagi di sebuah perempatan. Saat itu saya menghentikan mobil saya dan seperti biasa Pak Misnan berlari-lari menghampiri saya.

Sore hari, setelah menyelesaikan aktivitas hari itu, saya menuju rumah Pak Misnan, Rencananya saya membawa buah tangan. Kudapan sederhana sangatlah enak disantap sore hari. Namun, hal tersebut tdk saya lakukan. Alamat yg masih asing dan membuat saya dan seorang teman sedikit kebingungan, membuat kami melupakan untuk membawa buah tangan.

“Tak apalah, kapan-kapan bisa datang kembali kan?” demikian pikir saya. Sambil berfikir seperti itu, sampailah kami di tempat tujuan. Kami memasuki sebuah gang yang sangat sempit dan di sambut oleh perempuan yang mengaku adiknya Pak Misnan. Kami berjalan memasuki gang tersebut. Sepanjang gang ibu-ibu separuh baya dan ibu-ibu manula duduk di depan rumahnya. Saya sempat berhenti sebentar mengagumi pot yang berisi tanaman “gelombang cinta”. “Wah kalau saja sepanjang gang ini diletakkan pot-pot tanaman seperti ini, pastilah indah dan sehat ya”. Demikian pikiran saya tidak mau berhenti bergerak. Sepanjang jalan saya menebar senyum, merekapun memberikan senyum-senyum manisnya kepada kami.

Lalu kami berbelok dan memasuki gang yang hanya bisa dilewati satu orang saja. Di situlah Pak Misnan tinggal, di sepetak kamar yang sangat memprihatinkan. Kami ngobrol2 sebentar di depan kamarnya. Lalu kami bergabung dengan ibu-ibu yang duduk-duduk bergerombol.

Satu RT dihuni sekitar 100 orang, Mereka menggunakan sekitar 6 kamar mandi dan toilet secara bersamaan dan bergantian. Sebagian dari ibu2 tersebut tinggal di sana sudah puluhan tahun. Saya menangkap binar-binar bahagia di mata Pak Misnan dan ibu-ibu tersebut.

Saya minta maaf karena tidak membawa buah tangan selayaknya saudara berkunjung ke rumah saudarnya. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa hal tersebut tidak masalah. Mereka bertanya apa kepentingan saya mengunjungi mereka. Saya menjawab kalau kunjungan saya ini dalam rangka memenuhi permintaan Pak Misan. Saya bercerita kalau saya sering bertemu dengan Pak Misnan dan saya mengagumi kegigihan Pak Misnan dalam bekerja walaupun umurnya sudah pada umur yang pantas untuk istirahat. Mendengar penjelasan saya tersebut, mereka mengatakan bahwa kunjungan saya sangat menyenangkan hati mereka dan mereka merasa seperti dikunjungi oleh saudara. Demikianlah, kami mengobrol-ngobrol santai di sore yang masih redup tertutup awan.

Ketika diajak berfoto, mereka senang. Kata mereka kapan lagi foto dengan ibu yang cantik…hahaha…saya merasa senang juga dipuji oleh mereka seperti itu.

Dari kunjungan saya tersebut, ada dua hal yang menjadi perhatian saya. Pertama, ternyata mereka: Pak Misan, Bu Iyoh, Bu Juminem lain se antero dunia sangat memerlukan empati, ketulusan dan sentuhan batin yang lembut. Empati, ketulusan, dan sentuhan batin yang lembut tersebut lebih berarti apabila dilakukan oleh kita-kita yang dianggap oleh mereka lebih beruntung secara ekonomi. Tidak berlebihan kalau ternyata “blusukan”nya Pak Jokowi demikian menyentuh hati masyarakat. Karena upaya seperti itulah yang diperlukan mereka secara mendesak, sebelum rencana-rencana besar dilakukan untuk meningkatkan kehidupan mereka.

Kedua, kunjungan tersebut menyisakan pemikiran yang berseliweran di otak saya, antara lain timbul pertanyaan berikut” “Apa ya yang bisa saya lakukan untuk ibu-ibu manula tersebut agar mereka tetap produktif dan sehat?” Karena, kalau kita membantu bukan berbentuk “kail”, mereka justru tidak sehat. Menurut saya, upaya untuk tetap produktif adalah salah satu penangkal penyakit. Hal tersebut berdasarkan pengamatan saya beberapa tahun yang lalu. Beberapa tahun yang lalu saya senang mengunjungi beberapa panti wreda. Di beberapa panti wreda tersebut saya melihat jiwa-jiwa yang kosong. Mati sebelum benar-benar mati. Menurut saya hal tersebut disebabkan kurangnya “kail” yang disiapkan untuk mereka.

Begitulah, satu langkah kita menjadi stimulan agar kita melangkah lagi dan lagi. Semoga langkah-langkah kecil ini bisa menjadi langkah besar yang bisa memberikan manfaat yang lebih besar…

Salam jabat erat sahabatku…

salam manis
RW/ 26012013/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 25, 2013 in Ekonomi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: