RSS

Sepotong Wajah

31 Des

SEPOTONG WAJAH
by Ririn Wulandari

Saya memicu mobil dengan kecepatan sedang. Tujuan kami kali ini adalah Pasar Mayestik. DI sana saya dan salah seorang kakak berjanji untuk bertemu dan berbelanja bersama. Di sebelah saya gadis cilik saya terus menerus bernyanyi. Your Call, Perahu Kertas dan beberapa lagu lain mengalun lembut dari mulutnya. Beberapa kali dia memperkenalkan bahwa sebuah lagu tertentu adalah lagu favorit salah seorang temannya. “Dia senang lagu itu Ma”, katanya. “Kalau mendengarkan lagu itu serasa mendengarkan dia bernyanyi untukmu kan?…hahahaha…”, saya menimpali. Maka mengalirlah pembicaraan tentang teman-temannya, termasuk tentang pacarnya. Begitulah, gadis cilik saya sudah punya pacar. Saya selalu menyapa pacarnya dengan ramah saat saya menjemputnya di sekolah.

Disela perbincangan tersebut, sepotong wajah muncul terutama bila saya melewati jalan ini. Jalan yang biasa saya lewati. Saya selalu menyapa lebih dulu pemilik sepotong wajah itu, kalau dia tidak menyadari kehadiran saya. Saya menyapanya sembari berteriak agar dia menghampiri saya. Sepotong wajah yang pasrah menjalani hidup dan pantang berhenti sebelum kehidupannya benar-benar berhenti. Tekun dan serius adalah dua kata yang oas untuk saya lekatkan padanya, Gelombang hidup yang barangkali sering menggulungnya sudah tak mampu lagi menggulungnya. Dia adalah riak, bagian dari gelombang itu sendiri.

Dari kejauhan saya melihatnya hanya serupa noktah, namun saya tahu dia adalah pemilik sepotong wajah itu. Saya memperlambat laju mobil, lalu saya menginjak rem untuk menghentikan di dekat lampu traffic light yang berwarna merah. Sambil menginjak rem, saya berteriak: “Pak, Pak…ke sini”. Dia menghentikan ketekunannya menata koran-koran, membalikkan badannya dan mencari sumber suara, Mengetahui saya yang memanggil, dia tergopoh-gopoh menghampiri.

Kerutan kulitnya menyebar seantero wajahnya. Badannya kurus dibalut baju dan celana seadanya. Dia tidak peduli berbagai hal, kecuali cuaca. Hujan, panas, dan mendung menjadi hal penting baginya. Topi capingnya tidak menghalangi sinar matanya. Sinar mata yang tak hendak lelah, sinar mata yang masih bersemangat.

Pilih koran apa Bu”, demikian selalu pertanyaannya. Dan saya selalu menjawab seperti ini: “Koran apa saja Pak”. Sambil menjawab begitu, saya meraih koran apa saja. Seperti biasa, lalu saya menyerahkan selembar uang. Matanya berbinar-binar dan mengucapkan terima kasih. Kadang-kadang uang tersebut diletakkan di dahinya sambil berlalu untuk menghampiri mobil di belakang saya. Begitulah pertemuan sederhana saya dengan sepotong wajah. Saya tahu dia bahagia, tapi dia tidak tahu kebahagian saya melebihi kebahagiannya. Menyaksikannya bahagia adalah sesuatu yang mendorong munculnya kebahagian saya. Aroma ketekunan dan pantang menyerahnya melengkapi kebahagian itu.

“Bahagia itu adalah membahagiakan orang lain”, pikir saya sembari menginjak gas perlahan. “Itu kakek yang sering mama ceritakan ya” Tanya gadis cilik saya memecahkan kebekuan suasana. “Ya, betul” jawab saya. Saya sering ngobrol dengan putri-putri saya tentang bagaimana cara menghalau kesedihan, keputus asaan, atau apabila sedang was-was saat mengerjakan pekerjaan berat, yaitu dengan cara berdoa dan membuat orang lain bahagia. Membuat orang lain bahagia bisa dilakukan secara sederhana, salah satu yang saya lakukan yaitu menemui kakek penjual koran di sebuah perempatan jalan.
Seringkali saya menemui bukan karena kebetulan saya melewati jalan itu, tetapi karena saya sengaja melewati.

Pada pagi itu, saya mendapat tambahan kebahagian karena bisa memberikan contoh sesuai yang sering saya ceritakan kepada gadis cilik saya. Gadis cilik yang nantinya menjadi “benar-benar seorang perempuan”, perempuan harapan kami.

RW
Tengah malam, 28 Desember 2012

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 31, 2012 in Ekonomi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: