RSS

Penerimaan yang Sebenar-benarnya Penerimaan

19 Des

Bravo Mepa, demikian pembuka sebuah sms yang sering saya terima, yang mengabarkan sekaligus undangan untuk menghadiri kegiatan mereka.  Sms tersebut dikirim oleh pengurus MEPA UNS periode tahun ini.  Kepanjangan MEPA UNS adalah Mahasiswa Ekonomi Pecinta Alam Univ Sebelas Maret. Sms tersebut mengingatkan bahwa saya pernah menjadi aktivis organisasi kampus tersebut. Ingatan tersebut membawa saya untuk membuka cerita perjalanan dari satu kegiatan-kegiatan yang lainnya, khususnya perjalanan mendaki gunung dalam rangka memahami alam.

Berbagai cerita mengandung pelajaran yang tidak terlupakan. Ada hikmah yang bisa saya petik ketika sempat tersesat beberapa jam di Gunung Lawu bersama seorang teman, ada pelajaran penting tatkala menyusuri batu batu sepanjang sungai kopeng yang sedang surut, tatkala berada di 3/4 ketinggian Gunung Rinjani, ketika enggan melangkah di Gunung Slamet,  tatkala menikmati  dan mengamati beranjaknya gumpalan kabut, atau ketika didera kedinginan di puncak Gunung Merapi. Serta cerita-cerita lain yang tak kalah menarik dan sangat berkesan.

Namun, pada tulisan ini saya ingin bercerita tentang bagaimana mengatasi deraan dingin di puncak Gunung Merapi. Pelajaran mengatasi deraan dingin tersebut menjadi pelajaran yang sangat berharga yang selanjutnya mengispirasi apabila saya mengalami hal-hal yang mengharuskan saya untuk menerimanya. Pelajaran seperti apa yang saya dapatkan? Demikian barangkali pertanyaan pembaca.

Singkat cerita, saat itu kami berenam, berhasil sampai ke puncak. Kami berenam merupakan tim gabungan lintas fakultas, yaitu terdiri dari: tiga laki-laki dari Fakultas Teknik Sipil, Seorang perempuan dari Fakultas Sosial, dan dua perempuan dari Fakultas Ekonomi yaitu saya dan Susi A. Setelah bersyukur, mengibarkan bendera dan menikmati langit yang diam membisu dengan segala perniknya, kami bersiap tidur dan beristirahat beberapa saat untuk menunggu matahari terbit. Karena, untuk turun gunung dini hari tersebut sangat tidak dianjurkan.

Saat itu kami, khususnya saya merasakan dingin yang luar biasa. Berbagai posisi tidur kami coba. Berbagai tempat juga kami coba. termasuk kami  masuk ke masing-masing  sleeping bag.  Bahkan, kami juga mencoba masuk sleeping bag berdua, agar kami bisa saling menghangatkan. Namun, tetap saja kami khususnya saya masih mengalami  rasa dingin yang luar luar biasa. Tidak ada jalan lain, saya mesti  menerima dingin tersebut.  Saya mesti benar-benar menerima kehadiran dingin tersebut. Penerimaan yang merupakan sebenar-benarnya penerimaan.  Sebuah kepasrahan total.  Beberapa detik setelah menerima deraan dingin dengan sebenar-benarnya penerimaan, aliran hangat menelusup diseluruh ruang sleeping bag, selanjutnya mengalir ke seluruh tubuh. Deraan dingin menjadi teratasi dan berubah menjadi kehangatan. Bisa ditebak, tidak berapa lama saya bisa tidur pulas.

Pelajaran tersebut saya gunakan ketika kami harus singgah beberapa lama di Muzdhalifah. Dingin yang menyengat dari pukul 10 malam hingga waktu Shubuh tiba, tidak menghalangi saya untuk tidur nyenyak di tanah lapang beratap langit yang diterangi lampu-lampu di sana sini. Saya menerima dingin sebagaimana saya menerima udara yang saya hirup.

Pelajaran untuk menerima deraan dingin seperti itu saya gunakan juga untuk menerima berbagai persolaan hidup. Apabila kita menerima segala cobaan dan persoalan hidup dengan penerimaan yang benar-benar penerimaan, maka pintu-pintu lain akan terbuka. Pintu-pintu yang menghantarkan kita pada jalan kehidupan yang lebih baik. Seperti halnya sebuah kehangatan menggantikan dingin nan menyengat. Begitulah, tidak ada jalan lain,  saya  mesti menerima persoalan dan masalah hidup sebagai mana saya menerima kemudahan dan kelapangan.

Penerimaan yang sebenar-benarnya penerimaan saya sebut sebagai meletakkan segala persoalan pada titik nol atau pada titik nadir. Penerimaan yang sebenar-benarnya penerimaan sejatinya adalah sebuah keikhlasan. Dengan demikian, ikhlas adalah meletakkan segala cobaan dan persoalan hidup pada titik nol, yaitu suatu titik dimana kita tidak ingin apa-apa lagi dan menyerahkan bulat total hanya kepada Allah.  Di Puncak Gunung Merapi beberapa puluh tahun silam, Allah telah mengingatkan saya mengenai keindahan dan balasan ikhlas  Di mana keindahan dan balasan ikhlas telah tertulis secara jelas pada Kitab-kitab yang diturunkanNYA.

Malam ini, saya demikian bersyukur atas perjalanan kehidupan yang telah saya lalui. Saya juga bersyukur karena dari pergolakan qolbu yang mewarnainya, kadangkala saya bisa mengekangnya dan meletakkan beberapa hal pada titik nol.  Kadang kala saya bisa menggapai keikhlasan, walaupun tidak jarang saya tidak mampu menggapainya. Kalaupun kadang kala saya tidak mampu menggapainya, hal tersebut bukan karena saya tidak tahu, tetapi karena saya tidak mampu. Kita bisa tahu tentang suatu hal, tetapi belum tentu mampu melakukan hal tersebut.

Malam ini saya sangat bersyukur, adonan tiga rasa yang saya biarkan Allah saja yang meramunya (tengok tulisan “Tiga Rasa”), telah menebarkan bau yang demikian sedap dan wangi. Saya yakin, Allah akan menjadikan “kue” yang lezat pada waktunya nanti. Pada waktunya, segala hal menjadi indah. Sebuah keikhlasan akan membuahkan keindahan. Saya meyakini hal tersebut,

Dengan takzim, pada malam yang indah ini, ijinkan saya menyampaikan selamat malam sahabat, selamat menikmati penerimaan yang sebenar-benarnya penerimaan.

salam jabar erat
Ririn Wulandari.
Jakarta, 19 Desember 2012.

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 19, 2012 in Motivasi, Sosial

 

4 responses to “Penerimaan yang Sebenar-benarnya Penerimaan

  1. Anonim

    Desember 20, 2012 at 12:44 am

    Deraan dingin, panas, suka a duka sm rasanya, dlm rasa ikhlas yg sebenar-benarnya. Keluhan takan menyelesaikan masalah, pasrah adalah solusi yg paling tepat jika qt merasa sesuatu yg datang adalah penderitaan, lalu bermohon kepadaNya diberikan kekuatan agar sampai pada tujuan akhir yg ingin dicapai. Tulisan mba Ririn mengingatkan sy akan panas terik yg menggigit kepala n kaki, sesak nafas n haus yg tiada terkira, smakin qt meronta n menolak smakin kuat rasa itu mendera, jd….ikhlaslah solusinya, salam sejahtera:)

     
    • ririnwulandari

      Desember 31, 2012 at 9:07 pm

      Anonymous, tlg kalau memberikan komentar disertai nama yang jelas ya. Untuk kali ini tak masalah. Saya akan menjawabnya.

      Anonymous pertama: Betul, deraan panas yg menyengat semakin menyengat apabila kita berontak. Ternyata berontak bukan jalan yang tepat ya,,,Berontak tidak sama dengan kreativitas untuk menemukan jalan-jalan lain yang memungkinkan untuk kita lalui. Thanks atas masukannya…:)

      Anonymous kedua:..Mepa?..ya ya….Senat?..ya ya….sy juga mempunyai kenangan dan bekal yg saya dapatkan di Senat..:)…Thanks sudah singgah..:)

      Wahyu, suwun Cak sudah mampir….terus mampir yoo…hehehe…laris manis…heheheheh…:)

       
  2. Anonim

    Desember 20, 2012 at 1:24 am

    duuh ..! mepa …?>#@$

     
  3. Anonim

    Desember 23, 2012 at 11:59 pm

    Hi Rin aku mampir nang blog mu….bagus :)…akan sering2 mampir…Wahyu konco SMP SMA🙂

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: