RSS

Pertumbuhan Ekonomi, Keberlangsungan Lingkungan Alam, dan Pemertaan Kesejahteraan

24 Nov

Pertumbuhan Ekonomi, Keberlangsungan Lingkungan Alam, dan Pemertaan Kesejahteraan
Oleh Dr. Ririn Wulandari, MM
(Telah diterbitkan di Harian EKonomi Neraca, Selasa, 20 Nov 2012

Pertumbuhan ekonomi laksana denyut nadi. Setiap waktu diukur, dievaluasi, dan menjadi perhatian bersama hingga menjadi penanda apakah negara sedang “sakit parah”, “sakit sedang-sedang saja”, ataukah “sehat”. Dengan demikian, pencapaian pertumbuhan ekonomi sekaligus merupakan tolok ukur keberhasilan sebuah pemerintahan. Tidak dimungkiri lantas pemerintah menjaga pertumbuhan ekonomi dan mewartakannya sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Namun, berkenaan dengan hal tersebut, terdapat beberapa pertanyaan yang perlu dilepas, di antaranya apakah pertumbuhan ekonomi merupakan alat ukur yang sudah cukup dan memadai? Kalau benar cukup, bagaimana dengan pertumbuhan sektor lain di luar sektor ekonomi? Bagaimana dengan keberlangsungan lingkungan alam? Bagaimana pemerataan kemiskinan?

Tolok ukur berkaitan dengan hal yang diukur, berkaitan dengan bagaimana segenap level pada sebuah organisasi memenuhi ukuran-ukuran tersebut. Ukuran-ukuran tersebut memengaruhi motivasi dan upaya pencapaiannya. Dengan demikian tidak berlebihan apabila yang terjadi adalah pertumbuhan ekonomi berjalan sendiri dengan meninggalkan keberlangsungan lingkungan alam, serta meninggalkan pemerataan kemiskinan.

Pertumbuhan Ekonomi dan Keberlangsungan Lingkungan Alam
Upaya pembangunan dengan mengabaikan keberlangsungan lingkungan alam merupakan upaya pembangunan sesaat dengan mengabaikan pertumbuhan ekonomi di masa mendatang. Hal tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa potensi Indonesia adalah sumber alam. Apabila potensi ini tidak dijaga, bahkan sebaliknya dirusak atas nama pertumbuhan ekonomi maka ada dua mudharat di kemudian hari yang akan kita petik. Pertama, perlu biaya mahal dan waktu yang panjang untuk memperbaiki lingkungan alam yang rusak. Itu berarti, untuk masa mendatang sumber-sumber produktif berkurang, selain perlu biaya besar untuk memperbaikinya. Padahal kekuatan kita selama ini terletak pada sumber alam tersebut. Akibatnya mulai terlihat dengan ditemukan kekagetan-kekagetan tentang permasalahan ketidakmandirian masalah pangan dan lain sebagainya. Sementara itu, kita sering lupa berapa luas sawah yang telah kita sulap menjadi perumahan-perumahan tanpa memperhatikan keberlangsungan lingkungan alam.

Kedua, mengabaikan potensi produk terbarukan, Kita seringkali terlupa untuk menghasilkan produk dan mencari sumber-sumber terbarukan pada setiap bidang kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kealpaan seperti ini membawa dampak yang tidak sederhana, karena memengaruhi perilaku dan gaya hidup segenap lapisan masyarakat dan pemangku kebijakan, baik untuk melaksanakan kehidupan sehari-hari maupun untuk pengambilan keputusan. Perilaku, gaya hidup, dan cara pengambilan keputusan tersebut memperparah kerusakan lingkungan dan memperbesar biaya atas akibat yang harus ditanggung. Sebagai contoh, perilaku dan gaya hidup menggunakan BBM (bahan bakar minyak) secara tidak bijak, pembangunan perkotaan-perkotaan yang tidak memenuhi konsep lingkungan, menyebabkan pemerintah harus menanggung subsidi BBM yang sedemikian besar hingga merontokkan APBN. Contoh lain, pelaku ekonomi sering lupa perlunya menggali produk-produk ramah lingkungan yang tidak saja menguntungkan dari segi kelestarian lingkungan alam, peningkatan daya tahan hidup konsumen (aman dikonsumsi), juga peningkatan nilai tambah produk tersebut.

Dengan demikian, pencanangan pertumbuhan ekonomi yang beriringan dengan kepentingan keberlangsungan lingkungan alam sudah menjadi keharusan. Mengaitkan dan menyejajarkan pertumbuhan ekonomi dengan kepentingan keberlangsungan lingkungan alam merupakan keharusan yang menguntungkan.

Pertumbuhan Ekonomi dan Pemerataan Kesejahteraan.
Dua hal di atas merupakan dua obyek yang tarik-menarik seperti halnya telur atau ayam. Meningkatkan pemerataan kesejahteraan ataukah meningkatkan pertumbuhan ekonomi? Perlu rencana komprehensif untuk menyandingkan keduanya. Berbagai bidang kajian yang terwakili pada kementerian perlu dikaji secara menyeluruh, dan tidak terpotong-potong. Upaya yang perlu dilakukan adalah menjadikan setiap bidang kajian merupakan potongan puzzle yang akan berbentuk indah apabila ditautkan dengan potongan puzzle lainnya.

Apabila pertumbuhan ekonomi tetap dilakukan dengan meninggalkan pemerataan kesejahteraan, secara jangka pendek kondisi negara baik-baik saja, namun secara jangka panjang, pun jangka menengah kita menghadapi keterpurukan ekonomi akibat produktivitas nasional yang sulit dipompa secara optimal. Kenapa? Bagaimana kita bisa memompa produktivitas, sementara sumber daya yang terpinggirkan semakin tak terbilang jumlahnya? Bagaimana kita bisa bergerak dengan cepat kalau “perahu” kita bermuatan lebih banyak pembeban dibandingkan pendayungnya. Tidak ada jalan lain, pemerataan kesejahteraan harus disandingkan dengan pencapaian pertumbuhan ekonomi.

Keseimbangan Pencapaian Ketiganya
Tiba saatnya kebijakan pembangunan didasarkan pada pencapaian ketiga hal tersebut, yaitu ekonomi, keberlangsungan lingkungan alam, dan pemerataan kesejahteraan. Dari tiga tujuan pencapian tersebut diturunkan tiga tolok ukur berikut: dari sisi ekonomi di antaranya pertumbuhan ekonomi; dari sisi non ekonomi adalah terjaganya keberlangsungan lingkungan alam baik dengan pemenuhan standar nasional maupun internasional, serta pemerataan kesejahteraan dengan persentase yang semakin meningkat.

Mengaitkan ketiganya merupakan keharusan, karena tiga tujuan tersebut merupakan satu kesatuan. Keberlangsungan lingkungan alam tidak bisa dicapai apabila pemerataan kesejahteraan tidak tercapai. Bagi masyarakat yang tidak menikmati pemerataan kesejahteraan, tidak bisa memikirkan dan turut serta menjaga keberlangsungan lingkungan alam karena masih berkutat pada kebutuhan primer. Demikian juga, pertumbuhan ekonomi yang stabil bisa diraih hanya dengan memperhatikan dan menjamin keberlangsungan lingkungan alam. Demikian sebaliknya, upaya menjaga dan kegiatan ekonomi yang berorientasi pada keberlangsungan lingkungan alam dapat mengurangi biaya dan meningkatkan nilai tambah produk.

Penulis optimis, dengan menjaga keseimbangan tiga tujuan tersebut, pertumbuhan ekonomi yang merupakan indikator keberhasilan ekonomi sebuah negara justru dapat dicapai secara memuaskan dan sesuai harapan pemerintah melalui upaya segenap komponen masyarakat Indonesia, terlepas dari isu terkini yang beredar di dunia internasional yang ditegaskan dalam konferensi Rio+20

Dr. Ririn Wulandari, SE, MM

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 24, 2012 in Ekonomi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: