RSS

EROPA AKU DATANG (Bag (II): Perjalanan dengan Kereta

16 Nov

PERJALANAN DENGAN KERETA
by Ririn Wulandari

Pesawat GA 88 mendarat di Schipol pagi hari tanggal 16 April 2012. Cuaca dingin di bawah 0 derajat menyambut kami. Beberapa jam kemudian, kami mulai perjalanan dengan kereta api keliling Eropa. Sebelumnya kami menyempatkan ke Keukenhof, taman dan perkampungan tulip terbesar di Belanda, terletak di desa ) Lisse, daerah administratif Hoofddorp, diantara kota, Leiden n Haarlem. Dari sana kami menuju Eindhoven untuk .menitipkan koper besar. Dua tujuan tersebut (Keukenhof dan Eindhoven) sebenarnya sudah menguras tenaga, serta menambah kelelahan yang belum sirna karena duduk sekitar 18 jam di dalam pesawat. Nanun, semangat, harapan, dan kegembiraan untuk memulai petualangan mengunjungi negeri “dongeng” mengalahkan rasa lelah. Begitulah, semangat , harapan, dan kegembiraan bisa memunculkan tenaga dan kemampuan yang tersimpan di diri kita.

Pukul 20.40, kami sudah duduk di dalam kereta api di stasiun Utrech. Nafas kami masih menderu, berkejaran dengan waktu. Hari itu, antara jam 11.00 hingga 20.40 kami berada dan mencicipi udara empat kota kota di Holand (Amsterdam, Hoofddorp, Eindhoven, Utrech). Tidak berlebihan kalau kalau hal itu membuat kami berkejaran dengan waktu. Dengan nafas yang masih memburu dan terengah-engah, saya mengamati EURAIL GLOBAL PASS yang ada di genggaman tangan. Cover tiket tersebut bergambar perempuan dan laki-laki sedang duduk di kereta, dengan latar gunung dan pepohanan di balik jendela. Tiket tersebut membawa kami dari satu kereta api ke kereta api lainnya yang berasosiasi dengan Eural Global Pass dan mengantarkan kami ke 11 kota dari 7 negara di Eropa. Malam itu kami berkereta api dari Utrech menuju Munich. Tiba di setasiun Munich sekitar pukul 07.10 waktu setempat. Artinya, malam itu kami bermalam di kereta.

Tidak hanya malam itu kami bermalam di kereta, tetapi beberapa malam-malam selanjutnya. Dari Utrech menuju Munich, dari Munich menuju Venice (Lucia), dari Venice menuju Roma (Termini), dari Roma menuju Milan (Central), dari Geneva menuju Barcelona, dan dari Madrid (Chamartin) menuju Paris Austerlitz. Dengan demikian 6 malam kami tidur di kereta. Beberapa kereta lain merupakan kereta yang membawa kami pada malam hari, tetapi tidak bermalam, karena waktu tempuhnya hanya sekitar 4 jam, yaitu dari Milan ke Geneve, dari Paris ke London. Dari Dari Munich ke Stazburg, dari Barcelona ke Madrid, kami menempuh perjalanan pagi hari. Dari Stazburgh ke Munich, serta dari London ke Rotterdam, kami menempuh perjalanan siang hari. Untuk menjelajah sebuah kota yang kami kunjungi, kami menggunakan kereta bawah tanah yang disebut sebagai METRO, selain dengan bis kota bis pariwisata, serta VW mini bus kedutaan WTO Geneva.

Begitulah, perjalanan kami adalah perjalanan dari satu kereta ke kereta lainnya. Sebagian hasil dari perjalanan tersebut adalah saya punya cara mudah untuk menaikkan dan menurunkan ransel dorong seberat 10 kg dari dan ke kereta, yang sebagian besar mempunyai ketinggian sekitar tungkai kaki saya. Sementara itu di punggung saya menempel manis ransel sekitar 3-5 kg, dan tas kecil hitam yang menyelempang di dada. Saya memilih mensyukuri penemuan tentang cara tersebut dibanding menggerutu betapa beratnya melakukan hal itu. Selain itu, saya semakin menyadari ternyata media yang menghantarkan kita tidur, bukanlah alasan untuk kita bisa tidur nyenyak atau tidak. Semua itu terletak pada rasa apa yang akan kita nikmati. Memang, terdapat beberapa pilihan rasa untuk menyikapi keadaan. Kalau kita bisa memilih rasa yang enak dan nyaman, kenapa harus memilih yang sebaliknya. Ya kan? Tapi begitulah kalbu kita sulit dikendalikan agar selalu pada posisi stabil, yang terjadi adalah sebaliknya, selalu berputar bak gasing. Dengan demikian, walaupun kita tahu pilihan rasa tersebut, kadang kita tidak memilih rasa yang positif.

Pemandangan yang saya lihat dari balik jendela kereta sangat menawan. Jam 20.00 setempat langit masih cerah seperti halnya jam 17.00 waktu Indonesia. Walaupun jam 18.00 kami sudah di kereta, kami masih bisa menikmati indahnya pemandangan yang kami lewati. Kadang-kadang di sisi kanan dan kiri kami terhampar lahan pertanian. Di antara hamparan tersebut terdapat rumah petani. Kadang-kadang kami juga melewati hutan pinus yang berdiri tegak dengan daunnya yang tak luruh oleh musim, atau deretan pohon-pohon yang masih gundul dan meranggas. Amboii saya juga menemukan seorang petani sedang memacu kudanya…hahaha..dengan latar lahan pertanian , beberapa rumah, serta bukit yang yang berjejer rapi dihiasi sedikit warna putih di pucuknya. Gambaran buku-buku cerita yang pernah saya baca menjadi tiga dimensi di depan saya, tidak hanya itu, benar-benar nyata. Sangat mempesona.

Kursi kereta dengan reclyning menjadi dipan yang nyaman. Goyangannya menjadi ayunan yang menyenangkan. Kami masing-masing mempunyai “ritual” begitu kami tiba dan duduk di kereta malam. Satu kesamaan kami adalah mencari stop kontak, namun tentu saja beda tujuan. Saya dan beberapa teman yang lain mencarinya untuk mencharge hp, kamera atau peralatan elektronik lainnya, semisal Samsung tab. Dua teman yang lain, mengawalinya dengan sibuk memasak air dan membuat minuman panas. Satu “ritual” saya yang lain adalah mengoleskan minyak wangi berbentuk padat di bantalan kursi bagian atas. Amboii, wangi ini menghantarkan saya dan teman sebelah saya tidur nyenyak. Tidur yang nyenyak oleh salah satu teman dinamai sebagai tidur yang dalam. Hahaha…malam pertama bermalam di kereta, saya dan teman disebelah saya mengalami tidur yang sangat dalam dan sepertinya bisa menjurai perlombaan mendengkur kalau saja diadakan lomba seperti ini. Sampai-sampai petugas imigrasi enggan membangunkan kami sehingga kami berdua memasuki wilayah Jerman tanpa proses imigrasi. Ha..ha..ha.. Di malam-malam selanjutnya, saya kira sebagian besar dari kami bisa mendapat tropi secara bergantian, kalaupun ada tropi untuk lomba mendengkur.

Kereta termewah yang kami tumpangi adalah kereta yang membawa kami dari Barcelona ke Madrid. Kereta mewah tentu diwarnai dan dipenuhi dengan penumpang kelas menengah ke atas. Di gerbong kami, sebagian besar adalah laki-laki berpakain lengkap dengan jas, saya menyebutnya sebagai laki-laki metrosexual. Tak ketinggalan wanita-wanita cantik dengan baju-baju rapi dan apik mengiringi sebagian mereka. Saya menduga sebagian mereka adalah penonton sepakbola antara Barcelona melawan Chelsea semalam. Kalau tidak salah dengar, harga tiket pertandingan sepakbola tersebut seharga tiket Jakarta Amsterdam PP.

Pada kereta mewah tersebut, kami mendapat sajian breakfast dengan menu komplit seperti halnya breakfast penumpang penerbangan jarak jauh. Disajikan oleh pramukereta-pramukereta yang rapi dan bersih. Rasa masakannya enak dan sesuai dengan kami. Saya mendapat sebotol kecil Red Wine. Bentuk botolnya lucu dan bagus. Toiletnya so pasti bersih, lapang dan wangi. Dan yang sedikit menyenangkan, saya disapa dan berbincang-bincang dengan laki-laki yang gambarannya seperti godfather di film2 atau di novel-novel…hehehe…Laki-laki itu beberpa kali menatap saya secara terang-terangan ketika saya melewatinya ke dan dari toilet, sebelum memberanikan menyapa saya. Laki-laki tersebut bukan pencopet atau perampok seperti halnya laki-laki ganteng yang menyapa dan diladeni oleh salah satu teman kami di Barcelona. Saya mempunyai indera keenam mengenai laki-laki (yang ini jangan terlalu dipercaya). Lalu kenapa sedikit senang? Hehehe…saya ternyata masih menarik, tidak lebih dan tidak kurang. Jangan khawatir (nggak ada yang khawatir kok ya…hehehe), sapaan dan bincang-bincang tersebut berakhir hanya sebatas itu. Btw, saya masih manusia kan? Tapi ingat, jangan meniru saya meladeni sapaan dan obrolan laki-laki asing selama perjalanan anda keliling Eropa…hehehe…siapa tahu mereka itu perampok, pencoleng, atau pencopet…siapa yang tahu kan?

Nah ini kebalikan dari keadaan dan fasilitas kereta sebelumnya yaitu kereta yang paling tidak nyaman. Kereta yang paling tidak nyaman adalah kereta yang membawa kami dari Roma ke Milan. Kami berenam berada pada satu bilik dengan enam kursi yang terbagi menjadi dua sofa. Dengan demikian, kami duduk bertiga dalam satu sofa. Sofa tanpa reclining. Karena malam itu kami harus tidur, maka kami berusaha tidur. Awalnya, sebentar-sebentar saya terbangun mengatur posisi. Berbagai gaya saya lakukan, miring ke kanan, ke kiri, terlentang, kaki menimpa paha teman, ataupun kaki lunglai ke bawah. Ulah saya tersebut tidak sendiri. Ulah kelima teman saya demikian juga. Membayangkan keesokan hari kami menelusuri kota Milan, dimana untuk itu perlu stamina yang kuat, akhirnya kami bisa menikmati tidur secara dalam. Keadaan kami tidur seperti halnya ikan pindang dalam wadah kotak bambu. Agak menumpuk dan berjejer tak beraturan.

Di malam lain, masih di kereta, kami berenam menempati satu kamar. Dua teman yang lain menempati kamar yang berbeda. Satu kamar berisi enam tempat tidur. Masing-masing sisi, berisi tempat tidur bertingkat tiga. Saya menempati sisi kanan pada tempat tidur tingkat 2. Teman kami yang mendapat dan memilih tingkat 3 mendapat kemudahan sholat dengan duduk. Kami berempat, sholat sembari tidur. Keadaan tersebut tidak mengurangi kegembiraan. Bagaimana tidak gembira, kami bisa berbaring dan meluruskan punggung. Sambil leyeh-leyeh kami ngobrol ke sana kemari. Tentu saja diselingi tertawa. Karena itu kami ditegur sebanyak 6 kali oleh petugas untuk tidak menggangu kamar yang lain. Selanjutnya kami ngobrol dengan berbisik. Namun demikian, suara saat kami tidur, itu yang tidak bisa kami kendalikan. Hehehehe… Salah satu teguran diterima oleh dua teman kami yang ngobrol sembari “mandi” di toilet khusus penyandang catat.

Wah, toilet penyandang catat sangat luas untuk ukuran toilet kereta. Kira-kira 3 kali luas toilet biasa. Pintu bisa dioperasikan secara otomatis. Tinggal pejet sana, pejet sini terbuka dan tertutuplah pintu tersebut. Saya paling tidak bisa berada di dalam ruangan tertutup dengan pintu seperti itu, namun saya ingin juga menggunakan toilet tersebut. Dengan mengendap-ngendap dan berusaha tidak berisik, saya dan Mbak Yuyun masuk ke dalam toilet tersebut. Kami mengendap-endap dan tidak berisik karena kamar petugas imigrasi dan penjaga gerbong berada di sebelah toilet tersebut, sedangkan kami tidak ingin mendapat tambahan teguran lagi. Jadilah saya “mandi” dengan ditemani Mbak Yuyun. Tentu saja dibarengi dengan mengobrol secara bisik-bisik. Saat kami mengendap-endap dini hari tersebut, saya teringat permainan masa kecil, yaitu petak umpet. Kegembiraan kembali mengguyur hati saya. Bagaimana saya bisa melupakan kejadian kecil seperti itu. Di umur yang hampir kepala lima, saya masih berkesempatan main petak umpet di kereta dan di negeri nun jauh…hahaha…

Pada perjalanan itu, kami memang harus menikmati segala hal yang terjadi. Berkaitan dengan hal itu, ada empat hal yang perlu kami perhatikan, yaitu bisa menikmati berbagai makanan dan minuman, tidur nyenyak, melakukan pembuangan secara lancar (pergi ke toilet), serta mengenakan pakaian sesuai musim. Apabila empat hal tersebut tidak bermasalah, maka lancarlah perjalanan kami. Artinya kami sehat dan kuat menghadapi keadaan yang tidak nyaman.

Salam jabat erat
Ririn Wulandari

Artikel ini telah diterbitkan di FB tgl 24 Mei 2012

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 16, 2012 in Ekonomi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: