RSS

sejengkal transformasi

28 Mar

Bagaimana aku mengatakan kalau air mengalir dibebatuan adalah air dengan kebeningan hati..
Bagaimana aku mengatakan kalau langit berubah warna pada setiap detik
Bagaimana aku mengatakan kalau panasnya matahari tak kan membakar bumi
Bagaimana aku mengatakan dibalik hujan deras kan menanti segurat pelangi nan indah
Bagaimana aku mengatakan inilah kehidupan
Kehidupan yang perlu disikapi dengan kesegenap pemakluman atasnya
Dan aku tak perlu mengatakan apapun
karena tak ada kata yang dapat mengungkapkan
tak ada koma yang membendungnya
tak ada titik yang menghentikannya
tak cukup dengan sejengkal upaya
namun berkilo kilo meter perjalanan mesti dilalui
mesti terjadi penaklukan terhadap diri
terhadap segala kehendak

Itu adalah baru satu episode..
Episode lanjutan adalah tiadanya matahari bersinar
kegelapan disana sini..
hanya zikir….
penghambaan di titik nol
menjadi asesori yang tak boleh ditaggalkan
hingga tujuan kehidupan di ambang kota..

Entahlah..di episode ke berapa aku berapa
itu tidaklah penting
Yang terpenting adalah …bagaimana aku tanpa kata
berada pada titik mana saja
menggeliat dalam upaya pemujaan dan kepasraha yang padu padan
menggeliat mengukir detik demi detik..jengkal demi jengkal
tak peduli angin kanmeluruhkan ataukan bersahabat membawa kabar gembira
dan aku bisa berkata..
inilah aku yang bisa menyongsong Mu dengan segenap jiwa..

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 28, 2009 in Puisi

 

Tag:

3 responses to “sejengkal transformasi

  1. Iyung Pahan

    Maret 29, 2009 at 9:18 am

    Rin, too melancholic. Puisi adalah cerminan jiwa. Jiwa yang tenang maupun yang bergelora. Dia kan merana sambil terkadang meradang, menerjang terjangan. Seperti episode Dragon Ball the Evolution, Goku adalah sosok lentur yang damai, tetapi di balik gerhana matahari total akan bertransformasi menjadi monster seperti kutukan Picollo. Hanya dirinya sendiri yang dapat mengalahkan monster di dalam jiwanya. Gue koq jadi tereduksi dan melantur dalam variasi vokal dan konsonan. Selamat ya, semoga bukunya cepat terbit.

     
  2. Aris dmb3

    Maret 29, 2009 at 6:46 pm

    hehehe,, mba Ririn,,, membaca tulisan itu jadi “nga peduli lagi kapan dapet dosen pembimbing,, yang tak kunjung tiba,,,” dan nga peduli lagi kapan mau selesai disertasi,,,,yang kutahu,, di setiap episode kehidupan akan saya nikmati aja….., karena toh semua orang menuju ke suatu “tujuan yang sama”,,,, dan pasti sampe “disana”…., jadi ya yang penting “diperjalanannya enjoy aja”. Thanks ya,,, atas pencerahannya,, sukses buat mba Ririn (jangan terlalu serius ya sekolahnya….., rugi dong! udah bayar mahal,, seharian Sabtu meninggalkan keluarga,, koq dapetnya “serius” juga)……

     
  3. ririnwulandari

    Maret 30, 2009 at 12:03 am

    @Pak Iyung, tks berat atas komentarnya….sy kan bukan Goku…tentunya nggak bakal jadi monster….kalau toh ada monster dalam diriku..kupilin…kubawa pada titik nadir….dan kukatakan..kehidupan bukanlah apa-apa….membuatnya sebagai apa itulah kehidupan….he..he…lho kok qw tambah bingung..btw kalau sang penyair mengatakan ini layak terbit…wow senangnya…siap boss..tunggu tanggal mainnya ya..

    @Pak Aries, Alhamdulillah kalau puisi ini inspiratif dan menenangkan…karena anakku (si cantik) selalu protes..katanya puisiku nggak boleh berakhir kesedihan…harus diakhiri solusi..gitu katanya..jadilah puisi2ku seperti ini…yee….Mas…siapa yg serius?….nggaklah..nggak serius…Pak Iyung tuh yg serius mendengarkan dan aktif sepanjang hari…kalau aku mana bisa..fokus ke satu hal sepanjang hari…?Sambil mendengarkan dosen, bikin puisilah…potret sana potret sinilah…fblah…dengan tidak fokus seperti itu aku malah menangkap intisari materi kuliah…kadang-kadang aku nggak enak sama dosen..tapi begitulah caraku sekolah dari dulu kala…ha…ha…ha….kok yg seperti ini dibilang serius?…he he…mungkin kalau lagi bertanya di kolokium kelihatan serius ya….aku nggak mau kuliah dapatnya serius juga…sependapatlah kita…ha…ha…yg pentig jadi doktor khan?

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: