RSS

Inilah aku

09 Nov

Hm….tak banyak kata meluncur

Meningkahi senyapnya malam

membungkus degup jiwa tak beraturan

Inilah aku bersidekap menahan dinginnya malam

Inilah aku menarik kekang degup jiwa

Inilah aku tak hendak menantang kehidupan

Inilah aku berdiri tegak

hanya sekedar tak hendak lunglai dan menggigil

diterpa dinginnya malam

dan tamparan angin

Inilah aku

masih memandangmu dengan senyum

Sabtu, 8 Nov 2008. 11.00 pm

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada November 9, 2008 in Puisi

 

2 responses to “Inilah aku

  1. Joseph Prasetyo

    Desember 5, 2008 at 8:48 pm

    Sungguh sulit saya membayangkan bagaimana dinginnya waktu itu dan kenapa bisa begitu dingin. Jakarta tidaklah terlalu dingin kecuali di dalam ruangan AC, dipuncak ketinggian Monas, atau karena lagi sakit.

    Kalau lagi sakit, tidak mungkin berdiri tegak, tetapi…kalau lagi sehat kenapa hampir lunglai…??

    Saya menduga lagi di suatu tempat jauh dari Jakarta dan daerah dingin.

    Pertanyaan saya adalah : Siapa atau apa yang dipandangi dengan senyum pada saat itu. Pastilah bukan mantan pacar…he…he…. Masih bisa senyum meski sangat kedinginan, berdiri tegak dan hampir lunglai.

     
  2. ririnwulandari

    Desember 8, 2008 at 5:30 pm

    Ha..ha…terima kasih Pak….analisis anda tidak salah…tapi sebuah puisi bisa dimaknai dari berbagai sisi kan? Ditunggu komentarnya lagi ya….

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: