RSS

Sepenggal Perjalanan, Beijing – Jakarta

04 Nov

Beberapa minggu ini aku menengok blog  sekilas saja.  Ada kerinduan untuk menulis, tetapi tugas-tugas sekolah dan kegiatan lain membuatku menikmati waktu luang di malam hari untuk segera tenggelam diantara empuknya bantal guling…untuk segera mengistirahatkan badan dari kepenatan.

 

19-25 Oktober 2008 aku mengikuti Internasional Agribusiness Field Trip Thailand-Hongkong-China yang diselenggarakn Program Manajemen Bisnis IPB. Rombongan berjumlah 37 orang dengan peserta 2 Wakil rektor IPB, Direktur dan Wakil Direktur Program MB IPB, beberapa Dosen Program MM maupun Dosen Program Doktoral, mahasiswa Program Doktor, mahasiswa MM dan beberapa orang staf program MB IPB serta beberapa diantaranya didampingi istri atau suaminya. Aku tidak mengikuti 100% waktu perjalanan bersama rombongan. Tanggal 24 Okt 2008 aku pulang lebih awal, dari Beijing menuju Jakarta.

 

 

Kali ini aku bercerita tentang sepenggal dari perjalanan tersebut. Di lain waktu aku akan bercerita sepenggal yang lain…Ceritaku kali adalah sebagai berikut:

 

Kota Beijing masih tidur, aku sudah siap dengan koper-koper yang terkunci dan isinya telah melalui perjuangan penataan agar dapat menampung baju-baju yang kubawa dari rumah dan belanjaan serta oleh-oleh. Jam 1 pagi  waktu setempat aku menyelesaikan penataan dan meringkuk tenggelam dalam selimut tebal.  Suhu mencapai 4 derajat C.

 

Dinginnya pagi, sekitar 6-7 derajat C tidak menyurutkan langkahku untuk mendahului rombongan pulang ke Jakarta. Beberapa obyek wisata yang akan dikunjungi rombongan pagi ini yang lumayan menarik aku abaikan. Pesan suami agar tanggal 24 Oktober  malam sudah tiba di Jakarta karena keesokan harinya ada acara yang harus kami hadiri dan keinginan untuk melakukan perjalanan sendirian  membuatku bersemangat untuk bangun ketika rombongan lain masih lelap. Aku berterima kasih untuk hal ini kepada teman sekamarku, Mbak Yayan yang membangunkanku jam 5 pagi waktu setempat. 

 

Taxi yang membawaku dan seorang local guide meluncur membelah kota Beijing.  Resto-resto dan kedai sudah siap menyambut pelanggan. Waktu itu menunjukkan pukul 6.00.  Aku lapar,  di tanganku bekal breakfast dari Hotel menunggu untuk kubuka dan meluncur memenuhi permintaan perutku. Hanya saja ngobrol dengan Eka, Local guide ternyata lebih mengasyikkan, melebihi keinginanku untuk makan pagi.  Sepanjang jalan dia bercerita tentang Tian An Men Square, Great Wall, Istana Kaisar, Gerbang Kedatangan. Semua belum kukunjungi, kecuali Gerbang Kedatangan. Itupun hanya kami lewati.

 

Mendengar ceritanya, aku berharap suatu saat aku dapat mengunjungi kota Beijing kembali. Eka menjelaskan bahwa datang ke Beijing sebaiknya antara bulan Maret sampai dengan awal September. Pada waktu tersebut Kota Beijing dalam musim yang bersahabat, tidak dingin, juga tidak panas.

 

Satu jam kemudian Beijing Capital International Airport menyambut kami…..

 

Beijing adalah kota metropolitan di wilayah utara Republik Rakyat Cina yang juga merupakan ibukota Republik Rakyat Cina.  Beijing termasuk satu dari empat kotamadya di Republik Rakyat Cina, yang sebanding dengan propinsi dalam struktur administrasi pemerintahan Cina.  Berbatasan dengan propinsi Hebei di Utara, barat, selatan dan beberapa bagian di timur, dan dengan Tianjin di Wilayah tenggara.

 

Kota Beijing luasnya adalah 16.800 km persegi dan memilii penduduk sebesar 17 juta jiwa.  Beijing juga merupakan kota terbesar kedua di Cina setelah Shanghai.  Penghubung transportasi utamanya adalah dengan menggunakan jalur kereta api, jalan raya dan jalan tol di segala penjuru kota. Beijing juga merupakan titik utama untuk penerbangan internasional ke Cina.  Beijing merupakan pusat politik, pendidikan dan kebudayaan di Cina, di mana Shanghai dan Hongkong menjadi pusat perekonomian.  Kota ini juga dipercaya sebagai tempat perhelatan terbesar olahraga dunia olimpiade 2008. 

 

Kemarin aku mengunjungi stadion terselenggaranya olahraga dunia olimpiade 2008.  Sarang Burung demikian Eka menyebut stadion tersebut.  Dengan latar belakang “sarang burung” aku berpose diantara angin kencang dan suhu berkisar 5 derajat C.

 

Beijing seperti itulah yang sebentar lagi aku tinggalkan.  Setelah check in, aku berpisah dengan Eka. Perjalanan seorang diri kumulai dari sini. Aku berjalan perlahan mencari gate yang tertera pada tiketku…sambil melirik jam…aku berbaur dengan aliran manusia… tergopoh dengan tujuan sama denganku… mencari gate..dimana pesawat  menunggu kami. 

 

Di dalam train yang membawaku pada gate yang ku tuju aku bersebelahan dengan seorang ibu, bersama anak kecilnya yang berumur sekitar 4 – 5 tahun dan suaminya…Pemandangan tersebut mengingatkanku pada anakku…..aku merindukannya.. Membayangkan transit selama  4,5 jam di Hongkong..membayangkan memasuki outlet demi outlet, butik demi butik, toko demi toko…menjelah bandara Hongkong yang membuatku penasaran karena beberapa kali aku berada di sana dengan waktu yang sempit, sehingga aku, kami harus tergopoh gopoh memasuki outlet outlet tersebut…Bayangan tersebut melerai sedikit kerinduanku pada anakku…Apalagi setelah aku menelponnya…mengabarkan bahwa malam nanti kita bersua…luruh sudah kerinduan tersebut..

 

Tiba di Bandara Hongkong, aku menuju lantai atas yaitu terminal kedatangan.  Gate tempat pesawat yang akan membawaku ke Jakarta belum tertera di Information Board.  Aku harus menunggu dua jam lagi untuk mendapatkan informasi tersebut.  Waktu dua jam kugunakan untuk memuaskan keinginanku menjelah dari satu outlet ke outlet lainnya, dari satu butik ke butik lainnya..

 

Tahukah kawan..? Keinginanku untuk berbelanja lenyap sudah…padahal keinginan tersebut yang membuatku bersemangat transit begitu lamanya di bandara hongkong.  Hongkong Internatiponal Airport atau HKIA. Nama lain dari bandara ini adalah Bandara Chek Lap Kok karena bandara ini terletak di pulau Chek Lap Kok.  Bandara yang merupakan salah satu pusat transit yang penting di dunia karena posisinya yang strategis.  Saat ini terdapat 2 buah landas pacu dengan panjang 3.800 meter dan selebar 60 meter.  Nama landas tersebut adalah 07L/25R dan 07R/25L yang berarti bisa juga dibedakan sebagai landasan utara dan selatan.  Bandara ini memiliki fasilitas dua terminal. Bandara  ini megah dengan desain arsitektur yang unik.

 

Keinginan belanjaku lenyap…aku lebih suka duduk di sofa, di salah satu sudut bandara yang megah ini…memperhatikan orang lalu lalang…ada yang tergopoh-gopoh menuju gate sesuai petunjuk arah gate…ada yang berjalan pelan, masuk  dan ke luar  salah satu outlet…atau memperhatikan petugas yang membantu penumpang mencari informasi gate atau informasi penerbangan pada Information Board…Beberapa petugas yang lanjut usia menarik perhatianku….Ingatanku melayang pada kakek kakek yang sering aku temui dalam perjalanku menuju rumah dari kantor…tentunya di Jakarta…Kakek-kakek yang lebih sering duduk beramai-ramai sambil memainkan kartu-kartunya…kakek-kakek yang lebih sering menghabiskan waktunya duduk tepekur di beranda rumah…sambil menunggu..entah apa yang ditunggu…Kakek kakek yang enggan merajut makna dan manfaat…kakek-kakek yang mati sebelum waktunya….

 

Kakek kakek yang aku temui kali ini adalah kakek-kakek yang menghabiskan waktu tersisanya untuk merajut amal dan makna…kakek-kakek yang tetap berusaha mandiri…kupandangi mata teduhnya…begitu bijak…wisdom…Untuk menemukan mata teduh dan bijak seperti itu tidak hanya dideretan panggung “Senat” terhormat yang di dalamnya terdiri dari Profesor-Profesor yang terhormat…tidak hanya di Mesjid- Mesjid…atau tempat peribadatan lain…..tetapi di bandara yang merupakan bandara Internasional kelima tersibuk dan megah seperti ini aku menemukan sepasang mata penuh bijak…sepasang mata bijak yang juga dimiliki oleh Almarhum Bapak…

 

Ternyata Bijak…Wisdom tidak ditentukan oleh strata pendidikan…Bijak atau Wisdom seseorang ditentukan seberapa besar yang bersangkutan ikhlas menjalani kehidupan…ikhlas dan tanpa pamrih membantu dan bermakna bagi lingkungan dan orang lain….Menjadi Ikhlas demikian dekat dengan kebijaksanaan….Ketika keikhlasan lenyap….lenyap sudah kebijaksanaan….

 

Masih tenggelam di sofa empuk yang tidak banyak kujumpai di bandara ini…aku mempertanyakan diriku…apakah dengan usaha dan doaku untuk mencapai pendidikan paling tinggi ini akan membuahkan Wisdom pada diriku..? jawabannya tentu saja harus…berbarengan dengan itu perutku melilit…inilah waktu untu beranjak dari sofa empuk dan menuju lantai tiga mencari makanan yang pas buatku…Hon Lon soup..ternyata pas buatku…buat seorang vegetarian sepertiku..

 

Jam 2 waktu setempat aku sudah mendapat informasi mengenai gate yang harus ku tuju…ternyata gate 70 berada pada terminal lain yaitu terminal dua…kembali aku naik train dan selanjutnya berjalan menuju gate 70 yang ternyata letaknya paling ujung…dengan demikian aku masih bisa window shopping.   Karena lelah atau mengapa aku tidak begitu berselera melakukan window shopping…lebih asyik duduk sambil memandang landasan pacu di luar sana…sambil memikirkan apakah kebahagiaan identik dengan kebenaran…lucu juga….kesendirianku kali ini membuatku justru banyak berfikir….

 

Tidak terasa di sebelahku berjejer antrian penumpang hendak memasuki pesawat..Aku bersiap-siap mengikutinya…Ketika kudongakkan kepalaku…di depanku berdiri seseorang yang sangat kukenal…Sedetik aku bingung…Di Hongkong kah diriku ini? atau di Kampus Pajajaran IPB?….Berdiri di depanku Bu Cherryta..seseorang yang memang ceria.  Allah SWT punya maksud atas pertemuan ini…tidak membiarkan diriku sendirian  menikmati perjalanan ini…bukankah waktu berfikir dan berdialog dengan diri sendiri sudah lebih dari cukup….Kinilah saatnya menikmati perjalanan ini dengan tertawa hik..hik…dan ha…ha…seperti yang kami lakukan di kelas, di tribun atas dan belakang…demikian aku menyebut tempat dudukku…

 

Dengan sopan aku meminta sesorang yang duduk di sebelahku untuk pindah menempati tempat duduk Bu Cherryta.  Bu Cherryta transit dalam perjalanan tugasnya Philipina – Jakarta. Sepanjang perjalanan,  jadilah kami hik…hik…dan..ha…ha…untuk hal-hal yang sederhana sekalipun….

 

Kejutan lain menjumpaiku lagi.  Ketika kami keluar dan menginjakkan kaki di bandara Sukarno Hatta..sesorang dengan sopan menghampiriku, memintaku untuk melayaniku….alhasil…kami berjalan bak pejabat, melawati antrian imigrasi…berdiri manis menuggu bagasi kami diurus…pokoknya kami tidak usah repot-repot…beberapa orang berseragam membantu dan melayani kami….Tahukah kawan….ulah siapakah itu…Itu adalah ulah ketua kelas kami…Pak Muchlis namanya….Kejutan itu berasal darinya…dari seseorang yang sampai sekarang aku belum dapat mengenalnya secara jelas…walaupun kami  satu kelompok belajar artinya kami sering bertemu…menurutku..Pak Muchlis adalah orang yang misterius….Demikianlah Pak Muchlis yang selalu duduk di depanku…di tribun tengah…..seseorang yang baik…seseorang yang berusaha menyenangkan teman-temannya…

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada November 4, 2008 in Pribadi, Sosial

 

3 responses to “Sepenggal Perjalanan, Beijing – Jakarta

  1. Abdurrahman

    November 15, 2008 at 5:13 pm

    mmm.. mau baca tentang al akhfiya di blog ku?

     
  2. nh18

    November 18, 2008 at 2:28 am

    Hmmm …
    MM Agrobisnis IPB …
    Direkturnya masih temen sekelas saya bukan yaa ?
    atau mungkin salah satu anggota rombongan ada yang temen sekelas saya dulu …

    Salam kenal saya ibu …
    NH

     
  3. ririnwulandari

    November 23, 2008 at 5:55 pm

    Terima kasih Pak….Salam kenal juga ya….maaf baru membalas..maklum sibuk…tugas-tugas menumpuk….

    Apakah bpk sekelas dengan Pak Dr Arief S?…kalau iya…beberapa anggota rombongan teman sekelas bpk….

    salam

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: