RSS

Memandang Berbagai Tatapan

16 Jul

Memandang berbagai tatapan adalah sebuah keasyikan. Pagi ini aku merindukan karena beberapa hari ini aku tidak memandang berbagai tatapan.  Berbagai tatapan dapat mengurai kepenatan, menguapkan kegundahan dan meluruhkan segala rasa takterdefinisikan…

 

Berbagai tatapan….. yang memunculkan rasa belas kasih, rasa sayang, kegeraman, ketakberdayaan dan kasihan.  Belas kasih dan rasa sayang memandang mata-mata polos dan semangat menyerap apa saja yang keluar dari pikiran dan intonasi suaraku. Rasa sayang dan belas kasih memandang kerapian, kecantikan dan ketampanan dan keceriaan berbagai wajah, mengingatkanku pada “si cantikku”  yang sedang bersemangat mempelajari dan mempraktekkan bidang ilmunya.  “Si Cantikku”  yang bersemangat menjadi seorang Dokter…”ijinkan aku menjadi Dokter..  karena aku ingin bermanfaat Ma”…demikian katanya  lima tahun  yang lalu ketika aku dalam kebingungan menuruti kehendak ayahnya agar dia memilih institut no 1 di Indonesia yang juga terkenal karena arogansinya  ataukah kehendaknya memilih Fakultas Kedokteran di Semarang. Dia lulus seleksi untuk dua perguruan tinggi negeri tersebut…

 

Kegeraman dan ketakberdayaan…. akan muncul ketika memandang mata-mata tanpa ekspresi dan keengganan yang takterperikan.  Geram karena aku berfikir mereka menyia-nyiakan kesempatan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dibanding sebagian besar generasi muda Indonesia. Mereka itu pasti belum membaca “Laskar Pelangi”  dan “Sang Pemimpi” nya Andrea Hirata.  Bagaimana perjuangan  Andrea Hirata yang sungguh dasyat mengupayakan dan membiayai dirinya hingga ke jenjang Strata 2. Strata 2 di Luar negeri, tepatnya Perancis…luar biasa…dan bagaimana “kampung”nya Andre Hirata adalah gambaran sebagaian besar pelosok Indonesia….dan mereka….mahasiswaku mestinya bersyukur….

 

Tak berdaya…. karena aku tidak dapat melakukan banyak hal untuk mereka.  Yang aku bisa lakukan hanya kata-kata yang entah terserap ataukah tidak.  Aku sering menggelitik “kemauan” mereka dengan bertanya: “Apa tujuan anda mempelajari mata kuliah ini?”…Mereka bingung sebentar dan kemudian berbagai jawaban terlontar…Aku sering tidak mendengar jawaban mereka karena aku tidak butuh jawaban. Yang membutuhkan jawaban sebenarnya adalah mereka sendiri. Selanjutnya aku melontarkan pertanyaan lanjutan..”Apa target nilai anda untuk mata kuliah ini? Tanpa berfikir panjang mereka selalu menjawab serentak “A…..Bu”.  Aku selalu mengatakan: “Anda Bisa….ketika anda mengatakan Bisa maka segenap aliran syaraf, aliran darah bersinergi mengirim pesan ke otak, rasa dan segenap bagian tubuh untuk bergerak menuju kemauan anda tersebut…sehingga enggan, malas belajar, bosan dan cepat menyerah yang merupakan penghalang “Anda Bisa” tersebut dapat tersingkirkan. Dan jangan pernah anda mengatakan “Tidak Bisa”.  “Anda Bisa” ataupun “Anda tidak Bisa” adalah sebuah “Mau”. Segala hal dimulai dengan “Mau”, diikuti dengan Ikhtiar dan Doa. Apabila anda mempunyai 3 tiga hal tersebut…anda sebagai generasi muda siap menjawab tantangan….tantangan sebagai “pendayung negeri”.

 

Dengan cara tersebut tersebut aku mengatasi kegeraman dan ketakberdayaan…atau dengan cara memberikan empati, menyapa mereka di kelas ataupun  di luar kelas.. ternyata hanya itu yang dapat aku lakukan.

 

Rasa lain  Memandang Berbagai Tatapan adalah “Kasihan”…Kasihan, ketika aku memandang satu atau lebih pasang mata yang diliputi kesedihan atau keputusasaan.  Memandang pasang mata seperti itu membuatku miris dan iba…Apa yang membuat mereka dalam kesedihan seperti itu.  Kadang aku menemukan seorang penceria di minggu-minggu sebelumnya dan berubah drastis menjadi seorang dengan pasang mata penuh kesedihan dan keputus asaan. Untuk kasus seperti ini aku menegurnya sepintas lalu  diantara urainku tentang mata kuliah….”halo….kenapa anda berbeda dari minggu yang lalu”.  Setelah usai kelas, dia menemuiku dan bertanya: Mengapa Ibu tahu apa yang saya rasakan”…Aku tidak menjawab dan hanya tersenyum…dengan begitu meluncurlah sebuah cerita…kadang membuatku ikut bersedih…kadang aku maklum…Cerita yang membuatku ikut bersedih kalau cerita tentang keluarganya…Cerita yang bisa kumaklumi adalah cerita tentang cinta….

 

Demikianlah cerita tentang “Berbagai Tatapan”….Jujur…aku merindukan “Berbagai Tatapan” pagi ini…dan aku harus menunggu dan menahan kerinduan beberapa minggu hingga usainya liburan semester.

 

 

 

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 16, 2008 in Pribadi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: