RSS

Mulai Dari Kita

10 Jun

Jerawat di wajah kadang menambah manis, kata seorang teman…kalau hanya satu dan di tempat yang pas, lanjut saya…tetapi jerawat di wajah saya kali ini tidak hanya satu dan di tempat yang tidak tepat pula….itulah yang mendorong saya meringankan langkah menemui dokter kulit langganan..tentu saja dengan mendelet satu kegiatan yang harus saya lakukan. Dengan pertimbangan menemui dokter kulit langganan dan berbincang-bincang dengannya tidak bisa dilaksanakan sembarang waktu..

Seorang suster merawat dengan lembut wajah saya, sementara itu si dokter tidak jauh dari saya mengotak atik  wajah seorang pasien lainnya… dari sanalah perbincangan itu dimulai

Perbincangan tentang kondisi sosial, politik dan ekonomi Indonesia….Demonstrasi yang berdampak langsung yaitu menggangu ruas jalan….BLT…Kenaikan BBM…pemilu yang sebentar lagi tiba..dan sebagainya sebagainya….

Secara teori, BLT adalah sebuah langkah yang tepat. Subsidi yang selama ini dialokasikan ke BBM dialihkan ke subsidi  yang menyentuh langsung masyarakat. BLT mempunyai sisi positif, pertama lebih langsung dirasakan oleh penerima subsidi dibanding subsidi BBM karena subsidi BBM lebih dinikmati  kalangan menengah ke atas mengingat kalangan menengah atas sebagai konsumen terbesar.

Ketika harga minyak di pasar dunia melaju naik….kenaikan BBM tidak bisa dielakkan. Demikian juga BLT menjadi “penambal” sementara pun tidak bisa dielakkan. Walaupun sifatnya sementara “penambal ini” dapat menghindarkan golongan tidak mampu dari keterpurukan. Hal tersebut di dasarkan pada upaya menggeser kurva permintaan ke atas untuk mengimbangi pergeseran kurva penawaran. Dengan menggeser kurva permintaan tersebut diharapkan inflasi yang tak terkendali dapat dihindari….

Secara teori demikian…kenyataannya?….BLT tidak didukung oleh Data Base yang mumpuni dan Moral Hazard yang baik…dan dua hal tersebut ternyata mengurangi efektifitas BLT sebagai “penambal” kondisi saat ini?

Jadi…..jadi saya tidak perlu berfikir keras lebih lanjut….yang perlu saya pikirkan adalah apa yang seharusnya saya lakukan…bagaimana saya memberikan kontribusi terdasyat  berkenaan dengan kapabiltas, profesionalisme dan peran saya di berbagai lingkungan dan kondisi…..

Jadi…apakah saya menjadi ‘pendayung’ ataukah ‘pembeban’ dalam perahu di tengah badai seperti ini?

Jadi….semua di mulai dari kita….benar-benar di mulai dari masing-masing kita…untuk menuju kedasyatan kebangkitan Indonesia  yang bukan hanya sekedar mimpi…

Dan..ketika wajah saya sudah lebih berseri….perbincangan antara saya, dokter dan satu pasien yang lain dihentikan….ketika wajah saya sudah lebih berseri…di dalam hati saya menggumam….semoga Indonesia juga lebih berseri….. 

 

 

 
9 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 10, 2008 in Ekonomi

 

9 responses to “Mulai Dari Kita

  1. abe (college student)

    Juni 10, 2008 at 3:30 pm

    menurut saya BLT hny untuk kepentingan petinggi negara kita agar dapat simpatik dari ‘kaum papa’ karena sebentar lg akan PEMILU…
    btw congrats bu ririn.. saya suka dengan blog ibu…

     
  2. arrie spm

    Juni 10, 2008 at 7:26 pm

    saya sangat setuju dengan blog ibu. klau hanya karena BBm kita menjadi manusia yang hanya bisa menyalahkan permarintah. alangkah sia2sianya waktu yang kita punya. marin kita dukung program pemerintah strat dari diri kita sendiri bukan hanya dengan menyalahkan.
    ibu Conggrat ya. tulisan-tulisa ibu banyak bermanfaat bagi banyak orang dengan memberikan inspirasi

     
  3. Rindu

    Juni 13, 2008 at 10:07 am

    jerawat diwajah saya akan saya pertahankan… agar seperti bintang yang menerangi langit🙂

     
  4. Mita

    Juli 11, 2008 at 12:28 am

    i’m speechless!!
    i know mom’s always thinking bout sumthing. n i know that mom’s a smart-too much thinking-idealist person, so i’m not surprised when i read this blog:-).
    But it makes me think: do i really know bout my mom?
    overall,it’s a great blog…!!!
    keep writing mom!

     
  5. Baron

    Juli 11, 2008 at 4:22 pm

    Ibu, apa sih yg dipikirkan saat ini?
    Cinta itu bukan untuk menguasai.
    Cinta itu bukan untuk dicemburui.
    tapi
    Terimalah cinta itu apa adanya, seperti kita sedang berlayar
    kadang ombak besar, kadang tenteram sehalus buluh perindu. Kadang………dia datang begitu kejam, angin besar disertai gelombang besar dan keras.
    akankah kita mempertahankan biduk ini bersama atau……
    meloncat meninggalkan biduk ini dengan meninggalkan semua yang selama ini kita cintai?

    Panjatkan doa, semoga cobaan ini dapat dilalui dan mintalah kepada Nya, berikanlah aku cobaan, yang dapat aku lalui, jangan sesuatu yang tidak dapat aku maklumi.

    Makin tinggi pohon tumbuh, makin kencang angin yang akan menerpanya, adakah ini suatu ujian untuk naik pada tingkat yang lebih tinggi lagi?

    Wallahualam, semoga ibu berhasil. Amien

     
  6. ririnwulandari

    Juli 12, 2008 at 3:17 am

    My dear Mitta,

    How blessed I am to have you as a daughter. Your words and thoughts are inspiring. Worry me not my dear…just always be with me when I need you.

    Mom and daughter are in the same blooedline. Having read my blog, you will know how I feel everyday. this blog signifies our relationship for better communication. It is an expression of love and care. I love you so much!

     
  7. ririnwulandari

    Juli 12, 2008 at 8:22 am

    Salam kenal Pak Baron atau….adakah anda mahasiswa sy?
    Siapapun anda…terima kasih atas komentarnya….apakah anda berfikir saya sedang diterpa angin kencang setelah membaca tulisan-tulisan sy?..Alhamdulillah saya tidak seperti yang anda pikirkan…saya tunggu komentar-komentar anda selanjutnya…

     
  8. Baron

    Juli 12, 2008 at 9:45 am

    Ibu Ririn,
    senang mendengar jawaban ibu, barangkali keresahan itu adalah sebuah fatamorgana yang selalu muncul disaat panas mendera atau sebuah fenomena dibelantara modern.
    Ataukah. . . . . . . . . . ini hanya sebuah sindrom dari kegalauan melihat anak didik menghadapi titian masa depan yang penuh tantangan. Inilah naluri seorang ibu dan pendidik yang penuh memegang tanggung jawab sepenuhnya.

    Ibu, semoga dayung direngkuh dapat mencapai tepian diiringi semilir angin dipantai Probolinggo nan syahdu.

    Salam untuk si cantik yang sedang coass dan silucu yang menjelang dewasa.

    Semoga berbahagia selalu.

     
  9. ririnwulandari

    Juli 23, 2008 at 4:39 am

    Maaf Pak…baru di balas komentarnya..terima kasih komentarnya ya…lho kok tahu saya dari Probolinggo?

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: