RSS

Slilit dan Manajemen

oleh: Ririn Wulandari

Slilit adalah makanan yang tertiggal di antara gigi-gigi. Slilit cukup menggangu. Selesai makan, sembari memandangi lukisan bunga-bunga abstrak, tepat di depan dibatasi meja makan yang menjulur, sy disibukkan oleh slilit yang cukup mengganggu.

Saya mulai berfikir untuk membuat skedul mendatangi Dokter Gigi langganan. Slilit memang bersalah dan menggangu kenyamanan, tidak begitu sakit, tetapi ada tekanan tak mengenakkan menghujam daerah sekitar gigi, dn mempengaruhi seluruh tubuh.

Langkah pertama adalah mengamankan kenyamanan dengan membuang slilit. Namun, apakah saya harus sibuk membuangnya setiap selepas makan?. Slilit ataukah penyebab timbulnya slilit yang perlu dihilangkan?

Struktur gigi atau kerapatan gigi barangkali menjadi penyebab, dan perlu penyelesaian dari penyebab tersebut. Dengan demikian, pemikiran saya untuk mengunjungi Dokter Gigi sugguhlah tepat.

Demikian juga yang terjadi pada organisasi atau perusahaan. Slilit berupa gangguan dari seorang pekerja atau sekelompok pekerja dapat menghambat jalannya operasional organisasi atau perusahaan, pada ujungnya mengganggu pencapaian tujuan organisasi atau perusahaan.

Mengeluarkan, atau memberi pusnisment kepada seseorang atau sekelompok orang yang menjadi “slilit” bagi organisasi atau perusahaan, kali pertama memang menjadi sebuah solusi. Namun, apabila terjadi slilit yang berulang kali, maka tidak ada jalan lain untuk mengevaluasi keberlangsungan manajemen. Perlu mengkaji sistem koordinasi, perencanaan, hingga perlu untuk mengkaji dan mengevaluasi struktur organisasi.

Menurut saya, evaluasi dan pengkajian terhadap pengendalian struktur organsisasi informal merupakan langkah paling praktis dan hemat biaya.

Slilit, dimanapun apabila sudah dicabut, sungguhlah melegakan. Seperti halnya pengalaman saya baru saja sebelum mengetik tulisan ini. Lukisan bunga-bunga abstrak nampak semakin indah.

Jakarta, 12 Agustus 2016
RW

 
 

Ridho adalah aku mencintaiMU, ENGKAU mencintaiku

Ridho atas semua kejadian yang kita alami adalah penyerahan diri atas takdir yang digariskan oleh Allah SWT.

Kalimat tersebut, sering kita lafadzkan, sering kita baca, bahkan sering kita menghafalnya. Namun, untuk menjalaninya tidak semudah yang kita lakukan tersebut. Perlu penyerahan diri yang total.

Penyerahan diri bisa kita lakukan dengan mengurai harapan, mengurai keinginan, dan menekan ego yang paling mengusai diri. Dengan kata lain meringankan diri dengan membuang pembeban-pembeban tersebut.

Laiknya, menjadikan sebongkah batu menjadi batu apung yang akan mengapung ringan dalam gulungan ombak yang paling dasyat, atau meniadakan diri dalam kepasrahan berayun-ayun mengikuti irama deru dan desah angin bersama paralayang.

Dengan demikian doa yang kita lantunkan menjadi indah dan intim bersama Tuhan, Allah SWT. “Ya Rob, Allah SWT, Aku Ridho atas segala takdirMU. Aku mengalun dan melayang bersama kehendakMU”.

Maka pupus sudah segala kesedihan, bias sudah beban yang menggayut. Hidup terasa ringan. Ringan, segala kesedihan menjadi tak berarti. Aku mencintaiMU dan ENGKAU menicintaiku.

Jakarta, 10 Agustus 2016
Ririn Wulandari

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 10, 2016 in Motivasi

 

Perjalanan

Perjalanan memang tidak selalu lurus, tidak selalu mudah, dan tidak selalu melewati keindahan. Tidak seperti melewati jalan tol yang lapang dan lenggang, tidak seperti melewati jalan datar, juga tidak selalu melewati kebun bunga.

Perjalanan selalu bervariasi. Tidak bisa tidak, Kita mesti melewatinya. Persoalannya adalah bagaimana cara melewatinya? Apakah dengan hati yang sejuk, lapang dan luas? Ataukah dengan cara sebaliknya?

Pemberontakkan atas jalan yang mesti dilalui bukan penyelesaiaan. Sebaliknya, mencari alternatif jalan, merupakan ihktiar yang disarankan.

Bagaimanapun dan apapun jalan yang kita lalui, baik melalui pilihan-pilihan ataupun sebuah keharusan, semestinya diterima dengan ikhlas dan penuh syukur, hingga sampai pada jalan yang seperti yang Kita inginkan. Itupun Kita mesti tetap berjalan, tak boleh berhenti, hingga Tujuan Hakiki membawa Kita ke sana.

Persoalannya memang bukan bagaimana menyikapi hasil sebuah perjalanan, namun bagaimana menyikapi proses perjalanan. Memperindah cara pandang atas sebuah proses. Apapun itu..

Salam Tabik…

Ririn Wulandari/Jakarta/28 Mei 2016/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 28, 2016 in Motivasi

 

STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA KECIL MENENGAH UNTUK MENGUASAI PASAR MEA

Oleh:
Dr. Ririn Wulandari, SE, MM

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) menjadi kekinian, masuk bak angin, menelusup, pelan-pelan mematikan, atau menyegarkan. Tantangan dan peluang menjadi pilihan yang perlu disikapi biasa-biasa saja ataukah sebuah perjuangan tak kenal batas.

Pada Era MEA, Usaha Kecil Menengah (UKM) adalah sekoci usaha yang rentan dilibas pesaing dari Negara Asean. Hambatan tarif yang menjadi pembeda harga bagi barang-barang masuk ke Indonesia, sudah tidak ada. Efisiensi menjadi hal utama untuk bersaing secara global.

Untuk memproduksi produk secara efisien, diperlukan hal-hal berikut, antara lain: skala ekonomi besar (produksi masal), tenaga kerja terlatih, bahan baku murah, dan infrastruktur yang memadai

TINGKAT EFISENSI UKM

UKM tidak mampu memproduksi secara masal dengan skala ekonomi besar. Hal ini yang menyebabkan beberapa tahun lalu industri garmen berskala UKM gulung tikar. Dengan skala ekonomi yang relatif kecil, komponen biaya tetap menjadi bagian biaya produksi yang tidak bisa ditekan, berakibat melemahkan daya saing.

Selain itu, pembelian bahan baku pada jumlah relatif sedikit dikenakan harga lebih tinggi dibandingkan dengan pembelian dalam jumlah yang relatif besar. Hal tersebut menyebabkan biaya bahan baku juga sulit ditekan. Persoalan biaya bahan baku menjadi melebar apabila bahan baku berasal dari impor.

Sebagai ilustrasi, skala ekonomi besar dijalankan oleh sebagian besar pabrikasi di China, salah satunya adalah Pabrik Mebel. Mebel dari China membanjiri Indonesia dengan harga yang relatif murah. Salah satu penyebabnya adalah karena mereka mampu menekan biaya produksi. Pabrik mebel di sana, sebagain besar adalah pabrik mebel yang mempunyai tempat produksi seluas satu kelurahan, berskala ekonomi besar, serta pembelian bahan baku dalam jumlah besar. Jauh sekali bila dibandingkan dengan skala ekonomi UKM, sehingga UKM kesulitan bersaing dengan produk mereka yang melenggang masuk ke Indonesia. Hal tersebut merupakan salah satu sebab beberapa tahun lalu UKM Mebel Jepara gulung tikar, hingga kini sulit bangkit kembali. Dengan keterbukaan dan peniadaan tarif, khususnya diberlakukannya MEA, dikhawatirkan ketidakmampuan bersaing semakin tinggi.

Selain hal tersebut, tenaga terlatih juga menjadi bagian penting dalam memproduksi secara efisien. Tenaga terlatih diperlukan dalam perencanaan produk, proses produksi, dan pengemasan, serta pengelolaan keuangan. Tenaga kerja terlatih ada di setiap UKM yang berhasil. Namun, hanya beberapa yang berhasil mengembangkan tenaga kerja untuk mengiringi pengembangan usahanya. Sehingga persoalan UKM adalah kesulitan untuk meningkatkan kemampuannya naik ke level usaha menengah, selain perlu upaya sungguh-sungguh untuk bertahan. Hal tersebut merupakan kendala dengan adanya MEA, dimana pasar semakin luas, di sisi lain diikuti pesaing yang semakin bertambah.

Permasalahan lain adalah Indonesia jauh ketinggalan dalam hal infrastruktur dibandingkan Negara-negara lain. Infrastruktur yang tidak memadai menjadi salah satu penyebab adanya biaya tinggi. Mendekatkan antara pabrikasi dengan konsumen, pelabuhan dan bandara merupakan salah satu upaya memperkecil biaya. Walau infrastruktur menjadi salah satu bagian penting dalam menekan biaya, namun pembangunan infrastruktur perlu memperhatikan skala prioritas mengingat adanya batasan sumber dana.

STRATEGI UKM

Berdasarkan paparan di atas, yaitu tentang keterbatasan UKM dalam hal kesulitan mencapai efisiensi, bukan berarti UKM harus menyerah begitu saja, namun perlu melakukan strategi yang tepat dan berbeda. Dalam hal ini UKM harus menghasilkan produk yang sesuai kebutuhan dan keinginan konsumen pada tingkat harga yang dikehendaki konsumen (willingness to pay).

Dengan demikian strategi efisiensi perlu dilawan bukan dengan strategi yang sama, sebaliknya dengan strategi yang berbeda. Salah satu satu strategi yang perlu dipilih agar produsen mampu menembus Pasar Asean adalah memproduksi produk-produk unik sesuai kebutuhan konsumen. Produk unik dimaksud merupakan hasil penggalian talenta, sumber daya manusia dan alam. Selain itu, produk unik mengedepankan kualitas produk yang diinginkan dan dibutuhkan konsumen, bukan produk masal, serta bukan mengedapankan efisiensi, serta perlu strategi pemasaran yang tepat untuk menyasar segmen pasar secara tepat, sehingga willingness to pay pada tingkat yang tinggi berakibat tambahan nilai (value added)nya juga tinggi.

Indonesia terdiri dari beberapa daerah yang mempunyai sumber daya manusia, talenta, sumber daya alam, serta proses produksi yang berbeda. Sumber daya tersebut perlu disinergikan oleh masing-masing daerah sehingga menghasilkan produk andalan. Potensi ini bisa dikembangkan untuk memproduksi produk unik. Produk unik berdasarkan konsep kearifan lokal perlu dicarikan format dan dikembangkan untuk diterapkan oleh seluruh Daerah. Sementara itu, Pemerintah Pusat perlu menyusun strategi menyeluruh dan terintegrasi. Di sisi lain, Pemerintah Daerah diharapkan mampu mengembangkan konsep yang menjadi bagian konsep terintegrasi tersebut.

17 Mei 2016
RW

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 17, 2016 in Ekonomi

 

RENUNGAN DI HARI PENDIDIKAN NASIONAL

Oleh:
Dr. Ririn Wulandari, SE, MM
Kadep Pendidikan Dasar dan Menengah DPP Gerindra

Hari ini, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional, hari di mana Ki Hajar Dewantoro lahir. Seorang Pahlawan yang berani menentang kebijakan pendidikan pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau orang kaya saja yang bisa mengenyam bangku pendidikan.

Hari ini, mari meluangkan waktu sejenak merenungkan dan memikirkan kemajuan pendidikan di Indonesia. Sesuaikah dengan harapan Beliau dan kita bersama? Bagaimana pendapat kita mengenai kemajuan pendidikan di Indonesia? Apakah perjuangan Ki Hajar Dewantoro terbayar lunas? Ataukah masih ada PR yang menggunung?

Sepertinya sudah tidak ada perosalan apabila kita memandang dari perspektif di mana kita berada. Kita, keluarga, teman-teman, saudara-saudara, tetangga dan lingkungan di mana kita bergaul mempunyai semangat, materi, kemauan, dan kesempatan untuk mendapat pendidikan. Cakrawala terbentang luas.

Namun benarkan demikian yang terjadi pada seluruh masyarakat Indonesia?. Benarkah secara kuantitas tidak ada persoalan, tidak terjadi kesenjangan kesempatan? Benarkah secara kualitas tidak ada persoalan? Benarkah moral dan karakter positif mengikuti tingginya jenjang pendidikan?

Tentu saja masih ada persoalan
Masih banyak yang harus kita perjuangkan

Tidak bisa kita pungkiri, kesenjangan kesempatan masih terjadi. Hal tersebut bisa ditinjau dari kenaikan Gini Rasio tahun 2015 menjadi sebesar 0,43 yang artinya gap kesejahteraan masyarakat lumayan lebar. Artinya masyarakat miskin semakin bertambah, Di sisi lain, terdapat pengaruh dan hubungan antara kemiskinan dan kesempatan sekolah sehingga berpengaruh terhadap penambahan usia sekolah yang tidak mendapat kesempatan sekolah. Sesuai hasil penelitian Unicef (2014) di Indonesia bahwa 50% dari anak-anak berasal dari keluarga miskin tidak mampu yang dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama, serta anak-anak yang berasal dari rumah tangga miskin memiliki kemungkinan putus sekolah 4 x lebih besar daripada mereka yang berasal dari rumah tangga berkecukupan.

Usia sekolah dasar yang tidak mendapat kesempatan sekolah sebesar 3% dari total usia sekolah dasar. Belum lagi apabila ditinjau dari pemerataan mengenyam pendidikan di dasarkan pada kondisi sosial di perkotaan dan pedesaan. Di pedesaan, dari mereka yang belajar di bangku sekolah dasar, hampir 1 dari 5 anak tidak dapat melanjutkan ke sekolah menengah pertama, dibandingkan 1 dari 10 anak di daerah perkotaan. Dengan demikian persoalan pemeratan pendidikan masih perlu diperjuangkan agar lebih baik lagi.

Pesoalan lain adalah Kualitas Pendidikan. Berdasarkan fenomena sosial, sungguh menyedihkan karena sebagian masyarakat yang mengenyam pendidikan tidak mempresentasikan dirinya sesuai pendidikannya. Belum adanya korelasi antara pendidikan yang semakin tinggi dengan karakter baik, antara lain jujur, empati, kemadirian berfikir, serta adanya keinginan bekerja cerdas, gigih, keras dan optimal, namun sebaliknya yang terjadi yaitu menginginkan hasil instan dan melakukan jalan pintas.

Berdasarkan hal di atas, Ada dua persoalan utama Pendidikan di Indonesia, yaitu Kuantitas Pendidikan (Pemerataan Pendidikan) dan Kualitas Pendidikan.

Hal tersebut menjadi “PR” bagi Eksekutif maupun Legislatif untuk mencarikan jalan keluar, salah satunya dengan menyusun Strategi Global Pendidikan di Indonesia, khususnya untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. Strategi Global meliputi, Kurikulum, Rencana Belajar Semester, Kualitas Guru, Kualitas Sarana dan Prasana, serta Sistem Pendidikan yang kondusif sesuai motto Ki Hajar Dewantoro yaitu Tut Wuri Handayani.

Strategi Global Pendidkan Indonesia perlu memasukkan unsur Karakter Unggul sebagai Tujuan Pendidikan agar Pendidikan yang Berkualitas dapat tercapai, yaitu adanya korelasi Peningkatan Pendidikan dengan Peningkatan Karakter Unggul.

Selain itu perlu disosialisasikan cara berfikir visioner bagi orang tua dan cara berfikir pengutamaan makna proses dalam menjalani kehidupan, bukan sekedar pencapian materi.

Begitulah, sebagai penerus Ki Hajar Dewantoro, kita masih harus terus berjuang demi tercapainya pendidikan berkualitas dan merata.

Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional, Salam Indonesia Raya..

Jakarta, 2 Mei 2016

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 2, 2016 in Sosial

 

EVALUASI STRATEGI PEMASARAN BANK

OLEH:
Dr. RIRIN WULANDARI, SE, MM
Artikel ini telah diterbitkan pada Economic Review

PENDAHULUAN

Bank adalah perusahaan yang salah satu keberhasilannya dihasilkan dari kepercayaan nasabah khususnya, masyarakat pada umumnya. Dengan demikian, pelayanan, keyakinan nasabah atas kesehatan dan penguatan asset bank, serta produk yang sesuai kebutuhan, merupakan hal yang penting. Berdasarkan hal tersebut, Manajemen Bank perlu menetapkan strategi pemasaran untuk meyakinkan nasabah atas kredibilitasnya, serta untuk mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan produk yang ditawarkan (Abdoolahzade & Sheikhhossini, 2013).

Nasabah sebagai “pembeli” produk perbankan, baik dari sisi sebagai debitur, maupun dari sisi kreditur, memerlukan produk-produk yang diperlukan dari perbankan yang mereka percaya.

Bertemunya kebutuhan produk yang diperlukan dengan produk berkualitas yang dihasilkan bank terpercaya memunculkan transaksi diantara keduanya.

Terjadinya transaksi tersebut dimulai dengan kesadaran, ketertarikan, dan kebutuhan dari nasabah. Transaksi tersebut atau pengambilan keputusan pemilihan produk perbankan bagi nasabah, didasarkan pada gaya hidup, budaya masyarakat, serta tingkat ekonominya. Dengan demikian, perbankan perlu memahami perilaku nasabah.

Strategi pemasaran dimulai dari penetapan perilaku nasabah, selanjutnya dari perilaku nasabah dapat digunakan untuk mengelompokkan nasabah ke dalam segmentasi. Dari segmentasi ditentukan strategi pemasaran untuk mencapai target konsumen, sehingga tercapainya positioning perbankaan tersebut di pasar perbankan. Berikut bagan untuk menjelaskan hal tersebut:

PERILAKU, SEGMENTASI, DAN TARGET NASABAH

Perilaku konsumen adalah semua kegiatan, tindakan, serta proses psikologis yang mendorong tindakan tersebut pada saat sebelum membeli, ketika membeli, menggunakan , menghabiskan produk dan jasa setelah melakukan hal-hal di atas atau kegiatan mengevaluasi (Sumarwan, 2015). Komponen yang membentuk perilaku konsumen antara lain: motivasi, kepribadian, konsep diri dan kebutuhan produk, pengetahuan, sikap, dan proses belajar, serta agama.

Perilaku yang berbeda dengan adanya perbedaan salah satu komponen, beberapa komponen, atau keseluruhan komponen, menyebabkan munculnya konsumen atau nasabah yang berbeda. Perbedaan tersebut perlu disikapi oleh Perbankan, serta perlu diberikan perlakuan yang berbeda atas perbedaan perilaku tersebut. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan pengelompokkan nasabah atau disebut segmentasi nasabah. Dengan adanya segmentasi yang tepat, maka penentuan target juga bisa dilakukan secara tepat, selanjutnya apa dan bagaimana perlakuan terhadapnya bisa ditetapkan secara tepat pula.

Segmentasi menjadi dasar dalam penyusunan strategi pemasaran, selain menjadi dasar penetapan target konsumen. Strategi Pemasaran direncanakan berdasarkan pada segmentasi konsumen, target pasar, serta kondisi pasar dan lingkungan bisnis.

STRATEGI PEMASARAN 4 P

Strategi pemasaran yang dikenal adalah strategi 4 P, yaitu Strategi Product, Price, Promotion, dan Place. Walaupun konsep strategi tersebut merupakan strategi konvensional, namun strategi tersebut masih relevan dan tepat digunakan untuk mengevaluasi strategi pemasaran bank (Islam & Rahman, 2015; Gupta, 2014).

Strategi Product pada perbankan adalah sejauh mana sebuah bank memahami perilaku nasabah, mengemasnya dalam segmentasi dan penentuan target, serta mewujudkannya di dalam penetapan jenis-jenis produk dari sisi funding, maupun landing. Sebuah bank yang mempunyai produk dengan berbagai jenis, lebih mampu menyasar nasabah dari berbagai segmentasi dan berbagai target nasabah, dibanding dengan bank yang tidak mempunyai produk secara variatif. Selain itu, adanya produk tertentu yang disajikan oleh sebuah bank, mengindikasikan bahwa bank tersebut memahami konsep perilaku, segmentasi, dan target konsumen. Sebagai contoh: Produk Pelayanan Prioritas merupakan sebuah layanan atau produk yang memahami perilaku konsumen, di mana konsumen dengan tingkat sosial menengah ke atas menginginkan pelayanan yang khusus dan spesial. Interaksi intensif dan kekeluargaan antara petugas pelayanan menjadi hal yang perlu dikedepankan, kekhususan pelayanan menjadi hal yang utama, sehingga perlu diwujudkan dengan kenyamanan pribadi sebuah kantor khusus, serta pelayanan yang pribadi. Pendirian kantor Pelayanan Prioritas sebaiknya menekankan pada bagaimana “melekatkan” antara nasabah dengan sebuah bank. Kekhususan, kemewahan kantor, serta pegawai yang cantik dan menarik belum menjadi jaminan keberhasilan kantor dimaksud bila nasabah prioritas tersebut tidak merasa berada di ‘rumah”.

Strategi Price adalah strategi harga. Pada perbankan, strategi ini ditunjukkan dengan penetapan bunga simpanan dan pinjaman. Walaupun sudah ada pagu bunga dari BI, manajemen perbankan diberi keleluasaan berstrategi, khususnya untuk menjaring nasabah. Penetapan bunga menjadi ujung tombang keberhasilan suatu bank, khususnya untuk menjaring nasabah-nasabah baru atau yang belum “fanatik”, mengingat strategi Price bukan menjadi hal penting bagi nasabah-nasabah yang sudah menaruh kepercayaan besar terhadap suatu bank, serta bagi nasabah yang loyal. Tarik menarik nasabah di dalam pengambilan keputusan untuk memilih produk perbankan sekaligus pemilihan bank dipengaruhi berbagai faktor, tidak hanya faktor harga. Penetapan strategi price tidak terlepas dari pertimbangan siapa nasabahnya atau siapa target nasabahnya, serta berada pada kelompok mana target nasabah tersebut (segmentasi). Penetapan Strategi Price perlu mempertimbangkan motivasi, awareness, dan tingkat kepercayaan nasabah terhadap sebuah bank. Dengan mengetahui segmentasi serta target konsumen didasarkan perilaku nasabah tersebut, bunga yang ditetapkan bisa diterima dan menjadi daya tarik nasabah.

Strategi Promotion dibagi menjadi dua yaitu Strategi Promosi Above The Line dan Below The Line (Manral, 2015). Strategi Promosi Above The Line (ATL) adalah strategi yang digunakan untuk memperkuat merek, serta memperkuat keberadaan suatu bank di tengah-tengah nasabah dalam persaingan perbankan. Strategi Above The Line (ATL) meliputi kegiatan promosi melalui iklan di media masa, iklan billboard, iklan di telivisi serta iklan lainnya yang dapat menjangkau nasabah secara luas. Merek perbankan dibentuk melalui kelekatan kepercayaan nasabah terhadap suatu bank. Promosi ATL mengarahkan kepada awarness tentang suatu bank, lebih lanjut membentuk persepsi tentang suatu bank yang bisa dipercaya.

Strategi Promosi Below The Line (BTL) merupakan strategi promosi yang memerlukan interaksi diantara nasabah sebagai konsumen maupun calon konsumen, dengan perbankan atau suatu bank. BTL perlu dilakukan oleh perbankan mengingat gaya hidup konsumen sudah mengarah kepada komunitas-komunitas. Munculnya fenomena komunitas dipicu dengan maraknya media sosial dan kebutuhan “menjadi anggota dari kelompok”. Promosi dengan BTL diharapkan mampu menghubungkan antara nasabah dengan sebuah bank melalui pemenuhan fenomena kebutuhan yaitu menjadikan nasabah sebagai satu komunitas dengan perbankan. Contoh promosi BTL yang dilaksanakan oleh sebagian besar bank dalam industri perbankan Indonesia adalah gathering. Hampir dari keseluruhan perbankan yang dinilai, menyelenggarakan acara gathering. Namun, tujuan dari penyelenggaraan gathering belum sepenuhnya dipahami, sehingga ketika gathering selesai, selesai juga kelekatannya antara sebuah bank dengan nasabah. Dengan demikian Bank-Bank perlu mencari bentuk gathering yang lebih intens sehingga terjalinnya hubungan yang berkelanjutan, serta sesuai tujuan promosi BTL.

Strategi BTL juga meliputi penyelenggaraan pameran, penyebaran brosur kepada pribadi terpilih, serta “pasukan” pemasaran yang mampu melekatkan antara sebuah bank dengan nasabahnya, dengan catatan jumlah dan kualitas tenaga pemasaran sebaiknya diarahkan ke arah upaya menjalin interaksi berkesinambungan diantara nasabah dan bank.

Dengan demikian, BTL tidak sekedar gathering, penyelenggaraan pameran eksklusif, penyebaran brosur secara pribadi, maupun diterjunkannya “pasukan” pemasaran. Namun lebih dari itu, upaya-upaya tersebut perlu diarahkan ke tingkatan lebih tinggi yaitu terjalinkan kelekatan antara perbankan atau sebuah bank dengan nasabahnya secara berkesinambungan.

Upaya-upaya perusahaan di luar perbankan bisa diadobsi, misalnya yang dilakukan oleh PT Starbuck, yaitu dengan membentuk komunitas konsumen di media sosial, di mana masing-masing anggota komunitas merasa menjadi bagian dari perusahaan, mereka menjadi bagian stakeholder. Upaya yang menghasilkan kelekatan kuat antara konsumen dengan perusahan terjadi dengan adanya interaksi intens antara konsumen yng menjadi anggota komunitas dengan perusahaan. Konsumen tersebut dapat mengusulkan produk inovatif Starbuck, di mana perusahaan tersebut menguji ide-ide tersebut dan mewujudkan, serta menyampaikannya dalam bentuk produk baru. Selain itu, konsumen yang bukan anggota komunitas juga bisa memesan produk minumannya dengan resep yang bisa ditentukan oleh konsumen sendiri. Bagi konsumen, upaya tersebut membentuk persepsi bahwa produk PT Starbuck mewakili dirinya, sebaliknya demikian juga.

Contoh upaya promosi BTL yang telah dilakukan oleh salah satu bank adalah upaya promosi BTL PT BRI, Tbk. Menurut Penulis, PT BRI, Tbk adalah Bank yang sudah berhasil melaksanakan strategi BTL di setiap jenjangnya, sejak sebelum maraknya pelayanan prioritas. Keberhasilan BRI Unit dan BRI Cabang, khususnya yang terletak di kota-kota kecil seluruh Indonesia adalah sebagian besar terjadi karena adanya kelekatan antara BRI dimaksud dengan nasabah. Pendekatan yang dilakukan pegawai BRI adalah pendekatan persaudaraan berkesinambungan. Pegawai BRI mengenal secara kekeluargaan nasabahnya, demikian juga sebaliknya, mulai dari satpam, hingga manajernya. Selain itu, acara pengundian hadiah semisal undian Simpedes adalah acara yang ditunggu-tunggu oleh nasabah. Saat itu nasabah merasa menjadi ‘pemilik’ bank dimaksud. Dengan demikian, memasuki kantor BRI Cabang dan Unit dimaksud, nasabah merasa seperti berada di “rumah”. Penciptaan kantor sebagai “rumah” adalah konsep pemasaran BTL yang harus diterapkan oleh perbankan.

Strategi promosi BTL perlu juga ditentukan bentuk dan jenisnya dengan didasarkan pada budaya masyarakat. BPR Sukawati Pancakanti telah membuktikannya dengan menerbitkan buku, yaitu Buku Undang-Undang Adat Bali. Adat Masyarakat Bali merupakan hal yang sakral untuk dilanggar. Pendokumentasian adat ke dalam buku menjadi magnet tersendiri untuk menjaring nasabah baru dan menguatkan nasabah lama. Buku tersebut menjadi jembatan antara nasabah dengan bank tersebut. Buku tersebut menghantarkan kelekatan diantara keduanya, mengakibatkan naiknya pertumbuhan nasabah baru sehingga menjadi pendorong kenaikan laba.

Strategi Place di dalam industri perbankan meliputi jumlah kantor yang tercukupi, penempatan kantor, mendesain kantor sehingga nasabah merasa “di rumah”, serta pembentukan jaringan-jaringan. Untuk melaksanakan hal tersebut, target nasabah serta perilaku nasabah menjadi pertimbangan. Seberapa besar jaringan yang dibentuk, berapa dan di mana kantor-kantor cabang dan kantor level di bawahnya dibentuk, desain kantor seperti apa yang diinginkan oleh nasabah, bagaimana kantor pelayanan menjadi “rumah” bagi nasabah adalah pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab dengan memperhatikan budaya masyarakat dimana nasabah berada, persepsi, serta awareness nasabah terhadap bank dimaksud.

Keempat strategi di atas menjadi satu kesatuan yang perlu diramu sedemikian rupa untuk menentukan bagaimana dan berapa komposisi yang tepat. Setiap bank berbeda dalam menentukan “ramuannya” tersebut. Namun, satu hal yang menjadi catatan adalah keberhasilan sebuah bank dalam mencapai visi, misi, dan tujuannya, salah satunya ditentukan dengan adanya perencanaan dan pelaksanaan 4 Strategi Pemasaran secara tepat tersebut.

Daftar Pustaka:

Battacharyay BN. 1989. Marketing Approach to Promoting Banking Service. J of Vicalpa 14 (2).

Gupta D, Sigh A, Rizwan M. 2014. Analytical Study of Marketing Mix Strategies of SBI. Int J of Research in Mgt, Ec, and Commerce 4 (4).

Islam MF, Rahman MM. 2015. Service Marketing Mix and Their Impact on Bank Marketing Performance: A case Study on Janata Bank Limited, Bangladesh. J for Wordwhile Holistic Sustainable Dev 1 (1); 16-32.

Kouchesfahani MM, Sejedi A, Abdoolahzade M, Sheikhhossini A. 2015.
The Importance of Marketing in The Bank. Interdisiciplinary J of Conteporary Research in Business 5(1).

Manral K. 2011. Difference Between Above The Line and Below The Line Advertising. The Advertising Club. August 2011.

Sumarwan U. 2015. Perilaku Konsumen, Teori dan Penerapannya dalam
Pemasaran. Bogor: Ghalia Indonesia.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 10, 2016 in Marketing

 

Kalau Bisa Memilih Bahagia Mengapa Tidak?

Oleh: Ririn WUlandari

Kebahagian adalah sebuah pilihan diantara berbagai alternatif rasa. Tak peduli berada pada kondisi seperti apa dan bagaimana, kita berhak menentukan pilihan.

Sebuah pilihan yang sederhana, seperti ketika kita memilih bercengkerama dengan pagi, memulai hari dengan berdoa dan meneruskannya dengan melakukan aktivitas bermanfaat secara riang gembira.

Tak peduli dalam keadaan terpuruk, kita boleh memilih bahagia. Seperti halnya emas dalam kubangan, tetaplah menjadi emas yang bernilai. Demikian juga ketika ketika memilih bahagia.

Bahagia dan syukur adalah paduan yang harmonis. Entah Syukur, lalu merasa bahagia, atau bahagia dulu baru syukur. Terpenting dari itu, keduanya saling berkaitan dan tak terpisahkan, seperti halnya sepasang sepatu. Anda tidak bisa “mengenakan” salah satu dari keduanya.

Rasa bahagia akan menular. Berbeda dengan penyakit menular, bahagia justru sebaliknya, memberikan manfaat kepada semua mahluk yang ditulari, baik manusia, binatang, maupun tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan juga? ya, coba nyanyikan setiap hari tumbuh-tumbuhan anda, hasilnya hampir selalu tumbuh-tumbuhan tersebut turut berbahagia dan tumbuh serta berbuah sesuai yang kita harapkan.

Sesuai dengan Hadist Nabi, junjungan kita Nabi Muhammad, SAW bahwa “Senyum adalah Ibadah”. Karena senyum adalah pengejawantahan dari bahagia. Bahagia menularkan bahagia. Menularkan hal baik adalah upaya memberikan manfaat. Selanjutanya, Pemberian manfaat adalah Ibadah Horisontal..

So, selamat berbahagia sahabatku, apapun yang terjadi….
Selamat meniti kehidupan dengan sebaik-baiknya cara, dan tetaplah tersenyum..

Kalau bisa memilih bahagia mengapa tidak?

Salam jabat erat
RW/1 Maret 2016/di siang hari/

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 29, 2016 in Motivasi

 
 
%d blogger menyukai ini: