Oleh: ririnwulandari | Januari 13, 2009

Ketenangan

Ketenangan tercipta ketika sebagian keinginan luruh
Meluruhkan keinginan bagaikan memindahkan sepucuk gunung…
Begitu berat…namun memungkinkan

Malam ini ketenangan mengendurkan syaraf kepala
mengalun lembut
sebagian keinginan kuremas dan kulempar ke sembarang arah
kubiarkan amit mundur dari pandanganku
Pun sekedar memandang bintang berpedar pedar

Oleh: ririnwulandari | Januari 11, 2009

untuk jiwa jiwa

rembulan kan kupetik
deburan ombak kan kudekap erat
daun daun berserakan kan kupunguti
untukmu…untukmu
untuk kalian
agar cukup menerangi jiwa jiwa
sementara biarkan aku
meleleh perlahan
karena hanya kekuatan itu yang aku punya
sementara biarkan aku menyanyikan lagu sumbang
lamat lamat tak terdengar

tersenyumlah wahai jiwa jiwa
agar aku tahu
yang kuberikan adalah sebuah kecukupan
kecukupan yang menentramkan
bukti jiwaku bermekaran

Oleh: ririnwulandari | Januari 11, 2009

Tak ada

Tak ada satu kalimatpun yang meluncur
mengisi bait bait cita ataupun duka
apalagi dipenuhi koma atupun titik..huruf kapitalpun beringsut tak mendapat tempat
pun…pada tataran yang taksemestinya
lembaran lembaran meringis kubolak balik
tak kutemukan kalimat kalimat yang mengalun lembut
semuanya diam membisu….

kebisuan ini begitu melengkapi
mengaburkan debaran
mengurai rasa tak terperikan
takkan dapat bertransformais dalam bentuk apapun…
tetap saja remah-remah ini menjadi bongkahan
mengkristal

Biarkan saja aku berjalan pelan…berlari kencang…berselonjor sambil menatap bulan sabit… ..biarkan saja aku mengubah deburan air laut menjadi deburan dada

Biarkan saja aku bersembunyi di kenyamanan selimut tebal
berdendang hingga pemancar manapun kehilangan frekuensi

Sambil Kutelisik tanpa lelah
yang ada hanya kalimat di kebisuan
senyap

Oleh: ririnwulandari | Desember 11, 2008

Bagaimana Aku Bisa

Bagaimana aku bisa membuat puisi indah untukkmu
Kalau matahari membakar kepekaan kulitku

Bagaimana aku bisa membuat puisi indah untukmu
Kalau panas tubuhku melarutkan kesadaran jiwa
Terurai tak berbentuk
Hingga
AHP, metode ataupun kurva kehilangan fungsi

Bagaimana aku bisa membuat puisi indah untukmu
Kalau belaian itu hanyalah tikaman tak berujung
Mengoyak jantung kehidupan hingga semuanya gelap

Bagaimana aku bisa membuat puisi indah untukmu
Kalau aku membiarkan diriku disedot putaran waktu
Hingga…
Sampai…
Puisi indah tercipta untukmu

Oleh: ririnwulandari | Desember 11, 2008

Begitulah namaku

Bulan penuh…
Begitulah namaku….

Kini sinarnya menukik dan memagutku
Lantas kalimat apa lagi yang kuperlukan
Selain menghampirimu
Memandang sinarmu

Bulan penuh….
Begitulah namaku…..

Selalu saja menyadarkanku

Oleh: ririnwulandari | November 12, 2008

Demikianlah

Diam terpaku

Mengelola tsunami dalam dada

Mneggeleparkan dan membucah sel-sel kesadaran

Akhir sebuah harapan

Ketika engkau melewati pintu itu

Kenapa mesti diam

Karena itulah pelajaran yang kuterima

Ketika berjalan dengan takzim mendaki puncak Merapi, Merbabu, Slamet dan Rinjani

mesti diam dalam penerimaan ketika dingin menggigit seluruh tubuh

ketika rintangan memerlukan penyatuan jiwa dan hasrat

Kenapa mesti diam

Karena itulah pelajaran yang kuterima

Ketika thawaf tawadhu mengelingi Ka’bah

dalam kerumunan dan himpitan jiwa nan teduh ataupun angkara

Diam dalam genggaman CINTANYA….

membuatku terus berjalan untuk menyatukan cintaku dan CINTANYA

Penerimaan ini……..

tetap saja menghadirkan anak sungai di pipi

Menghadirkan ruang  kosong dan pilu

Tetap saja diamku tak terusik…

Oh..demikianlah…..Aku kehilangan cintamu….

tapi tak usah risau….aku selalu dalam balutan CINTANYA

dan Menunggu JANJINYA……

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan  ada kemudahan

Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”*

Menunggu….

Layaknya janin mencari jalan keluar dari haribaan bundanya

Jadi… demikianlah

kata-kata tak perlu mengalir lagi……

*Al-Qur’an, Surat Al-Insyirah ayat 5, 6

Oleh: ririnwulandari | November 10, 2008

hanya

Hanya satu kalimat yg ingin kutulis hari ini:

“Memaafkan dan memaklumi atas segala ketidakmampuan dan kelemahan diri sendiri adalah hal yang tersulit, dan aku melakukannya hari ini”

Oleh: ririnwulandari | November 9, 2008

Inilah aku

Hm….tak banyak kata meluncur

Meningkahi senyapnya malam

membungkus degup jiwa tak beraturan

Inilah aku bersidekap menahan dinginnya malam

Inilah aku menarik kekang degup jiwa

Inilah aku tak hendak menantang kehidupan

Inilah aku berdiri tegak

hanya sekedar tak hendak lunglai dan menggigil

diterpa dinginnya malam

dan tamparan angin

Inilah aku

masih memandangmu dengan senyum

Sabtu, 8 Nov 2008. 11.00 pm

Oleh: ririnwulandari | November 9, 2008

Kalimat nan Indah

“Aku tak henti-henti bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan untuk kesempatan, kenikmatan, keberhasilan, luka, dan semuanya yang pernah aku alami dalam hidup.  AKu memaafkan semua orang, aku juga memaafkan kesalahanku sendiri.  Intinya aku banyak belajar untuk berdamai dengan diriku sendiri”

(Kompas, Minggu 9 November 2008, hal 31)

Kalimat-kalimat indah yang ditulis oleh seorang sahabat Psikolog Kristi Poerwandari.  Seseorang yang harus berjuang untuk hidupnya bagaikan mempertahankan nyala lilin yang meredup ditingkahi angin lembut.  Seseorang yang hampir melihat ujung kehidupannya…

Sebenarnya kalimat-kalimat tersebut juga untuk kita.  Kalimat-kalimat yang harus diperjuangkan untuk dilaksanakan bagiku dan bagi anda semua….Kalimat-kalimat tersebut adalah kalimat-kalimat yang dapat membersihkan hati, meluruskan niat dan juga memperkuat keikhlasan.  Ikhlas…seberapapun beratnya kehidupan yang harus kita jalani.

Kadangkala jiwa ini begitu lalai untuk bersyukur, kadangkala… 1%pun yang diharapkan tidak terealisasi kita anggap sebagai sebuah kegagalan, karenanya kita tidak bersyukur.  Kelalaian ini walapun hanya sebutir debu akan menggumpal menjadi bongkahan-bongkahan setelah melewati detik demi detik, menit demi menit dan tahun ke tahun…Ah…aku melakukan ini…kalau qolbuku sedang terpelintir…goyah..

Memaafkan semua orang, memaafkan kesalahan diri sendiri dan menerima bagaimanapun perjalanan hidup yang telah kita lewati, dan berdamai dengan diri sendiri bukanlah perkara mudah….seperti halnya untuk selalu bersyukur….

Tetapi kalau tidak kita lakukan sekarang…kapan?…Apakah menunggu ujung kehidupan sudah mulai nampak….tentu saja tidak, bukan?

Berdamai dengan diri sendiri dan berdamai dengan kehidupan mesti kita lakukan sekarang juga sehingga perjalanan menuju mimpi kita akan lebih lapang dan mudah…disertai kebulatan ikhlas…woo…begitu indahnya….

Dan itu adalah kalimat-kalimat untukku dan untuk anda…..

Di minggu malam, 9 Nov 2008

Oleh: ririnwulandari | November 4, 2008

Sepenggal Perjalanan, Beijing – Jakarta

Beberapa minggu ini aku menengok blog  sekilas saja.  Ada kerinduan untuk menulis, tetapi tugas-tugas sekolah dan kegiatan lain membuatku menikmati waktu luang di malam hari untuk segera tenggelam diantara empuknya bantal guling…untuk segera mengistirahatkan badan dari kepenatan.

 

19-25 Oktober 2008 aku mengikuti Internasional Agribusiness Field Trip Thailand-Hongkong-China yang diselenggarakn Program Manajemen Bisnis IPB. Rombongan berjumlah 37 orang dengan peserta 2 Wakil rektor IPB, Direktur dan Wakil Direktur Program MB IPB, beberapa Dosen Program MM maupun Dosen Program Doktoral, mahasiswa Program Doktor, mahasiswa MM dan beberapa orang staf program MB IPB serta beberapa diantaranya didampingi istri atau suaminya. Aku tidak mengikuti 100% waktu perjalanan bersama rombongan. Tanggal 24 Okt 2008 aku pulang lebih awal, dari Beijing menuju Jakarta.

 

 

Kali ini aku bercerita tentang sepenggal dari perjalanan tersebut. Di lain waktu aku akan bercerita sepenggal yang lain…Ceritaku kali adalah sebagai berikut:

 

Kota Beijing masih tidur, aku sudah siap dengan koper-koper yang terkunci dan isinya telah melalui perjuangan penataan agar dapat menampung baju-baju yang kubawa dari rumah dan belanjaan serta oleh-oleh. Jam 1 pagi  waktu setempat aku menyelesaikan penataan dan meringkuk tenggelam dalam selimut tebal.  Suhu mencapai 4 derajat C.

 

Dinginnya pagi, sekitar 6-7 derajat C tidak menyurutkan langkahku untuk mendahului rombongan pulang ke Jakarta. Beberapa obyek wisata yang akan dikunjungi rombongan pagi ini yang lumayan menarik aku abaikan. Pesan suami agar tanggal 24 Oktober  malam sudah tiba di Jakarta karena keesokan harinya ada acara yang harus kami hadiri dan keinginan untuk melakukan perjalanan sendirian  membuatku bersemangat untuk bangun ketika rombongan lain masih lelap. Aku berterima kasih untuk hal ini kepada teman sekamarku, Mbak Yayan yang membangunkanku jam 5 pagi waktu setempat. 

 

Taxi yang membawaku dan seorang local guide meluncur membelah kota Beijing.  Resto-resto dan kedai sudah siap menyambut pelanggan. Waktu itu menunjukkan pukul 6.00.  Aku lapar,  di tanganku bekal breakfast dari Hotel menunggu untuk kubuka dan meluncur memenuhi permintaan perutku. Hanya saja ngobrol dengan Eka, Local guide ternyata lebih mengasyikkan, melebihi keinginanku untuk makan pagi.  Sepanjang jalan dia bercerita tentang Tian An Men Square, Great Wall, Istana Kaisar, Gerbang Kedatangan. Semua belum kukunjungi, kecuali Gerbang Kedatangan. Itupun hanya kami lewati.

 

Mendengar ceritanya, aku berharap suatu saat aku dapat mengunjungi kota Beijing kembali. Eka menjelaskan bahwa datang ke Beijing sebaiknya antara bulan Maret sampai dengan awal September. Pada waktu tersebut Kota Beijing dalam musim yang bersahabat, tidak dingin, juga tidak panas.

 

Satu jam kemudian Beijing Capital International Airport menyambut kami…..

 

Beijing adalah kota metropolitan di wilayah utara Republik Rakyat Cina yang juga merupakan ibukota Republik Rakyat Cina.  Beijing termasuk satu dari empat kotamadya di Republik Rakyat Cina, yang sebanding dengan propinsi dalam struktur administrasi pemerintahan Cina.  Berbatasan dengan propinsi Hebei di Utara, barat, selatan dan beberapa bagian di timur, dan dengan Tianjin di Wilayah tenggara.

 

Kota Beijing luasnya adalah 16.800 km persegi dan memilii penduduk sebesar 17 juta jiwa.  Beijing juga merupakan kota terbesar kedua di Cina setelah Shanghai.  Penghubung transportasi utamanya adalah dengan menggunakan jalur kereta api, jalan raya dan jalan tol di segala penjuru kota. Beijing juga merupakan titik utama untuk penerbangan internasional ke Cina.  Beijing merupakan pusat politik, pendidikan dan kebudayaan di Cina, di mana Shanghai dan Hongkong menjadi pusat perekonomian.  Kota ini juga dipercaya sebagai tempat perhelatan terbesar olahraga dunia olimpiade 2008. 

 

Kemarin aku mengunjungi stadion terselenggaranya olahraga dunia olimpiade 2008.  Sarang Burung demikian Eka menyebut stadion tersebut.  Dengan latar belakang “sarang burung” aku berpose diantara angin kencang dan suhu berkisar 5 derajat C.

 

Beijing seperti itulah yang sebentar lagi aku tinggalkan.  Setelah check in, aku berpisah dengan Eka. Perjalanan seorang diri kumulai dari sini. Aku berjalan perlahan mencari gate yang tertera pada tiketku…sambil melirik jam…aku berbaur dengan aliran manusia… tergopoh dengan tujuan sama denganku… mencari gate..dimana pesawat  menunggu kami. 

 

Di dalam train yang membawaku pada gate yang ku tuju aku bersebelahan dengan seorang ibu, bersama anak kecilnya yang berumur sekitar 4 – 5 tahun dan suaminya…Pemandangan tersebut mengingatkanku pada anakku…..aku merindukannya.. Membayangkan transit selama  4,5 jam di Hongkong..membayangkan memasuki outlet demi outlet, butik demi butik, toko demi toko…menjelah bandara Hongkong yang membuatku penasaran karena beberapa kali aku berada di sana dengan waktu yang sempit, sehingga aku, kami harus tergopoh gopoh memasuki outlet outlet tersebut…Bayangan tersebut melerai sedikit kerinduanku pada anakku…Apalagi setelah aku menelponnya…mengabarkan bahwa malam nanti kita bersua…luruh sudah kerinduan tersebut..

 

Tiba di Bandara Hongkong, aku menuju lantai atas yaitu terminal kedatangan.  Gate tempat pesawat yang akan membawaku ke Jakarta belum tertera di Information Board.  Aku harus menunggu dua jam lagi untuk mendapatkan informasi tersebut.  Waktu dua jam kugunakan untuk memuaskan keinginanku menjelah dari satu outlet ke outlet lainnya, dari satu butik ke butik lainnya..

 

Tahukah kawan..? Keinginanku untuk berbelanja lenyap sudah…padahal keinginan tersebut yang membuatku bersemangat transit begitu lamanya di bandara hongkong.  Hongkong Internatiponal Airport atau HKIA. Nama lain dari bandara ini adalah Bandara Chek Lap Kok karena bandara ini terletak di pulau Chek Lap Kok.  Bandara yang merupakan salah satu pusat transit yang penting di dunia karena posisinya yang strategis.  Saat ini terdapat 2 buah landas pacu dengan panjang 3.800 meter dan selebar 60 meter.  Nama landas tersebut adalah 07L/25R dan 07R/25L yang berarti bisa juga dibedakan sebagai landasan utara dan selatan.  Bandara ini memiliki fasilitas dua terminal. Bandara  ini megah dengan desain arsitektur yang unik.

 

Keinginan belanjaku lenyap…aku lebih suka duduk di sofa, di salah satu sudut bandara yang megah ini…memperhatikan orang lalu lalang…ada yang tergopoh-gopoh menuju gate sesuai petunjuk arah gate…ada yang berjalan pelan, masuk  dan ke luar  salah satu outlet…atau memperhatikan petugas yang membantu penumpang mencari informasi gate atau informasi penerbangan pada Information Board…Beberapa petugas yang lanjut usia menarik perhatianku….Ingatanku melayang pada kakek kakek yang sering aku temui dalam perjalanku menuju rumah dari kantor…tentunya di Jakarta…Kakek-kakek yang lebih sering duduk beramai-ramai sambil memainkan kartu-kartunya…kakek-kakek yang lebih sering menghabiskan waktunya duduk tepekur di beranda rumah…sambil menunggu..entah apa yang ditunggu…Kakek kakek yang enggan merajut makna dan manfaat…kakek-kakek yang mati sebelum waktunya….

 

Kakek kakek yang aku temui kali ini adalah kakek-kakek yang menghabiskan waktu tersisanya untuk merajut amal dan makna…kakek-kakek yang tetap berusaha mandiri…kupandangi mata teduhnya…begitu bijak…wisdom…Untuk menemukan mata teduh dan bijak seperti itu tidak hanya dideretan panggung “Senat” terhormat yang di dalamnya terdiri dari Profesor-Profesor yang terhormat…tidak hanya di Mesjid- Mesjid…atau tempat peribadatan lain…..tetapi di bandara yang merupakan bandara Internasional kelima tersibuk dan megah seperti ini aku menemukan sepasang mata penuh bijak…sepasang mata bijak yang juga dimiliki oleh Almarhum Bapak…

 

Ternyata Bijak…Wisdom tidak ditentukan oleh strata pendidikan…Bijak atau Wisdom seseorang ditentukan seberapa besar yang bersangkutan ikhlas menjalani kehidupan…ikhlas dan tanpa pamrih membantu dan bermakna bagi lingkungan dan orang lain….Menjadi Ikhlas demikian dekat dengan kebijaksanaan….Ketika keikhlasan lenyap….lenyap sudah kebijaksanaan….

 

Masih tenggelam di sofa empuk yang tidak banyak kujumpai di bandara ini…aku mempertanyakan diriku…apakah dengan usaha dan doaku untuk mencapai pendidikan paling tinggi ini akan membuahkan Wisdom pada diriku..? jawabannya tentu saja harus…berbarengan dengan itu perutku melilit…inilah waktu untu beranjak dari sofa empuk dan menuju lantai tiga mencari makanan yang pas buatku…Hon Lon soup..ternyata pas buatku…buat seorang vegetarian sepertiku..

 

Jam 2 waktu setempat aku sudah mendapat informasi mengenai gate yang harus ku tuju…ternyata gate 70 berada pada terminal lain yaitu terminal dua…kembali aku naik train dan selanjutnya berjalan menuju gate 70 yang ternyata letaknya paling ujung…dengan demikian aku masih bisa window shopping.   Karena lelah atau mengapa aku tidak begitu berselera melakukan window shopping…lebih asyik duduk sambil memandang landasan pacu di luar sana…sambil memikirkan apakah kebahagiaan identik dengan kebenaran…lucu juga….kesendirianku kali ini membuatku justru banyak berfikir….

 

Tidak terasa di sebelahku berjejer antrian penumpang hendak memasuki pesawat..Aku bersiap-siap mengikutinya…Ketika kudongakkan kepalaku…di depanku berdiri seseorang yang sangat kukenal…Sedetik aku bingung…Di Hongkong kah diriku ini? atau di Kampus Pajajaran IPB?….Berdiri di depanku Bu Cherryta..seseorang yang memang ceria.  Allah SWT punya maksud atas pertemuan ini…tidak membiarkan diriku sendirian  menikmati perjalanan ini…bukankah waktu berfikir dan berdialog dengan diri sendiri sudah lebih dari cukup….Kinilah saatnya menikmati perjalanan ini dengan tertawa hik..hik…dan ha…ha…seperti yang kami lakukan di kelas, di tribun atas dan belakang…demikian aku menyebut tempat dudukku…

 

Dengan sopan aku meminta sesorang yang duduk di sebelahku untuk pindah menempati tempat duduk Bu Cherryta.  Bu Cherryta transit dalam perjalanan tugasnya Philipina – Jakarta. Sepanjang perjalanan,  jadilah kami hik…hik…dan..ha…ha…untuk hal-hal yang sederhana sekalipun….

 

Kejutan lain menjumpaiku lagi.  Ketika kami keluar dan menginjakkan kaki di bandara Sukarno Hatta..sesorang dengan sopan menghampiriku, memintaku untuk melayaniku….alhasil…kami berjalan bak pejabat, melawati antrian imigrasi…berdiri manis menuggu bagasi kami diurus…pokoknya kami tidak usah repot-repot…beberapa orang berseragam membantu dan melayani kami….Tahukah kawan….ulah siapakah itu…Itu adalah ulah ketua kelas kami…Pak Muchlis namanya….Kejutan itu berasal darinya…dari seseorang yang sampai sekarang aku belum dapat mengenalnya secara jelas…walaupun kami  satu kelompok belajar artinya kami sering bertemu…menurutku..Pak Muchlis adalah orang yang misterius….Demikianlah Pak Muchlis yang selalu duduk di depanku…di tribun tengah…..seseorang yang baik…seseorang yang berusaha menyenangkan teman-temannya…

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »

Kategori