Oleh: ririnwulandari | April 3, 2009

Ketika aku bersyukur

Tadi malam adalah malam yang agak longgar..walaupun berkas ujian mahasiswa menunggu untuk “kusentuh”, proposal penelitian menunggu kuperbaiki untuk kukirim ke teman tim, walaupun kamarku menunggu untuk kurapikan…tetap saja malam sabtu..tadi malam adalah malam yang agak santai…karena aku tak perlu mempersiapkan materi maupun makalah untuk sekolah hari sabtu…sekolah yang melelahkan..tetapi sangat menyenangkan…

Sekolah yang semoga menjadikanku banyak belajar tentang keilmuan, dunia usaha, tentang pergaulan, tentang persahabatan, tentang etika, tentang makna akan kehidupan dan tentang sisi lain kehidupan yang belum aku kenal….serta tentang harapan untuk bermanfaat lebih banyak…

Sekolah yang karenanya aku harus lebih banyak duduk di meja kerjaku, sementara anakku yang lucu…menungguiku kadangkala, duduk juga di meja belajarnya tak jauh dari meja kerjaku…atau merelakan aku tidak hadir di sekolah untuk kegiatan eksulnya yang diselenggarakan hari sabtu…

Sekolah memang melambungkan harapan seperti aku sampaikan tadi…tetapi bagiku sekolah menjadi doktor adalah sebuah kesepakatan antara ayahku dan aku….jauh ketika aku belum paham benar tentang apa itu gelar doktor…

Karena sebuah kesepakatan..maka aku menjalani dengan sepenuh hati..walaupun kadang sangat melelahkan…melelahkan bukan dalam menangkap materi perkuliahan atau mengerjakan tugas2 atau menghadapi ujian2 yang frekuensinya seperti berondongan peluru dari segala penjuru….bukan karena itu…

Melelahkan yaitu dalam menyeimbangkan berbagai faktor…dengan keseimbangan tersebut kepala menjadi jernih dan segala kreatifitas bermunculan, segala masukan tersintesa dengan baik….dan..kepala menjadi jernih adalah syarat mengikuti sekolah dengan baik….

Demikianlah, tadi malam aku bermewah mewah membaca bukunya Dewi Lestari/Dee…”Rectoverso”…salah satu untaian kalimat yang aku suka adalah:
“Sebotol mahal anggur putih ada di depan matamu, tapi kamu tak pernah tahu. Kamu terus menanti, Segelas air putih”…

Kalimat yang sangat indah, kita memang masih merasa kurang walaupun 90% keindahan dan kebaikan dunia sudah dalam genggaman kita..dan kita selalu mempermasalahkan 10% yang kita tidak punya….Aku juga demikian….ya ampun..demikianlah diriku..

Menyadari hal tersebut…selayaknyalah kalau pagi ini kumulai dengan menggenggam…memeluk erat…menikmati serta bersyukur atas 90% keindahan yang dipercayakan olehNYA untuk kumiliki..10% adlah sesuatu yang tak bisa kujangkau…dan kurelakan untuk tidak kumiliki….

Aku tidak perlu tergagap lagi ketika aku menoleh kebelakang…aku kehilangan banyak…karena aku kini memiliki tak kalah banyaknya…keindahan yang begitu tak terhingga…

Pintu yang tidak terbuka untuk kita..tidak perlu kita paksa untuk kita buka..karena masih banyak pintu pintu kebaikan yang kan menunggu….(tks Mbak Yulis atas artikelnya/www.yulism.wordpress.com)

salam manis

ririnwulandari

Oleh: ririnwulandari | April 2, 2009

Penerimaan dan Kesabaran

Kalau kita membukan jalan bagi orang lain, maka sebenarnya ada jalan yang terbuka untuk kita atas bantuan orang yang lain…

Kalau kita memudahkan urusan orang lain, maka kita dimudahkan urusan kita oleh orang lain yang berbeda…

Kalau ada kesedihan di sana..ada kebahagian di sini…atau ada kebahagian di tempat sama dengan waktu yang berbeda…

Kalau ada pagi..tentu ada malam…demikian juga musim selalu berganti…(setuju dg lirik lagu Badai Pasti Berlalu)…

Semua itu karena di dunia ini menganut hukum keseimbangan…

Menyadari hal tersebut mengapa kita begitu asyik menonton dan berdiskusi tentang infotainment….mengapa kita merasa diri benar ketika orang lain bersalah…mengapa kita tidak berempati bahkan ikut menyalahkan ketika orang lain ditimpa kemalangan?

Menyadari bahwa adanya hukum keseimbangan…menyadari CINTA dan KARUNIA Allah SWT…kuuntai dan kebungkus rapi kesabaran dan penerimaan atas jalan kehidupan yang disajikanNYA untukku…sebuah perjalanan yang kadang tidak mulus…sebuah upaya yang tidak mudah…

Sabar dan penerimaan yang dalam mengingatkanku akan dinginnya puncak Merapi, Merbabu, Rinjani dan Lawu… kita tidak bisa melawannya selain menerima dingin yang menggigit…sehingga atas penerimaan itu, dingin berganti kehangatan yang mengantarkan kita untuk bisa menikmati keindahan malam di puncak gunung…

Saya kira, demikian juga hidup…penerimaan dan kesabaran akan membawa kita kepada pintu-pintu lain..jalan-jalan lain yang memberikan kehangatan dan penyelesaian…sehingga keindahan kehidupan dapat kita nikmati….sehingga kehidupan dapat kita pandang dari sisi keindahan…

Perjalanan kehidupan seperti apa yang kita iringi dengan penerimaan dan kesabaran?…jawabnya yaitu ketika perjalanan itu kita pilih sesuai hati nurani…sesuai bisikan Allah SWT….atau  ketika perjalanan itu disiapkan olehNYA untuk kita.. tanpa kita bisa menolaknya….

salam manis
ririnwulandari

Oleh: ririnwulandari | April 1, 2009

Selamat pagi dunia…

Kebenaran pilihan hidup adalah ketika kita mendengarkan bisikan nurani….lewatnya Allah SWT membisiki sebaik-baiknya jalan yang harus kita tempuh…

Pagi ini aku mempertanyakan bisikan nurani…tidak ada jawaban..
yang ada kebekuan suasana ….biasa biasa saja
artinya jalan memang harus terus dilalui..seperti mengalirnya air di anak-anak sungai menuju muara harapan…

Apapun yang tejadi ada ujung yang dipenuhi harapan..bukan sekedar mimpi..kalau kita memang meletakkan dengan manis harapan tersebut pada qolbu….

Seorang teman menulis bahwa segala masalah akan menemui swapenyelesaian..bukan swapenyelesaian tetapi itu adalah jalan yang memang dirancang untuk kita atau siapapun yang menuai masalah…

Jalan kehidupan tidaklah seperti jalan tol, tetapi dapat dilihat sebagai perjalanan air di sepanjang aliran sungai…ada yang begitu tenang…ada yang berliku melewati belokan-belokan terjal, bongkahan-bongkahan batu…tetapi ada juga yang turun deras sebagai airterjun…demikianlah adanya kehidupan….

Menyadari hal itu, mengapa kita mesti riuh dan terlalu bergembira terhadap keberhasilan, mengapa pula terlalu bersedih atas kegagalan…jawabannya adalah karena kita manusia yang digerakkan oleh qolbu yang bergerak-gerak….dinamis…menarik kekang terhadapnya bukanlah upaya yang mudah….

Maka, kita tergolong seorang yang bijak apabila selalu dapat membuat keseimbangan dengan menarik kekang qolbu….menurunkan emosi kegembiraan…pada titik keseimbangan….dan menaikkan emosi pada saat kesedihan menggulung kita….tanpa banyak kesombongan dan kegembiraan dan tanpa banyak kesedihan dan ketidakpuasan diri…

Bijak disertai kecerdasan yang memadai merupakan syarat sebagai seorang pemimpin (Prof. Bungaran Saragih). Apabila kita mempuyai dua hal tersebut, maka kita dapat dikategorikan sebagai seorang pemimpin. Pemimpin yang sukses dan penuh makna adalah pemimpin yang dapat memimpin dirinya sendiri. Pemimpin yang dapat menarik kekang atas dinamika pergerakan qolbunya…

Pagi ini….saya ingin menyapa…selamat pagi dunia… dan selamat menjadi pemimpin atas diri sendiri…

Salam manis..

Oleh: ririnwulandari | Maret 30, 2009

Mimpikan saja

Mencintai dengan sederhana..kata seorang penyair…
Bukan mencintai dengan sederhana kataku….
Mencintai dengan pemahaman…
paham…
sederhana….

Bahwa begitulah adanya dengan cinta….
Seperti Ikal dengan A Ling…
dipagut mimpi terus menerus…

Jangan mimpi kata sesorang…
Mengapa tidak kataku….
Mengapa tidak kata Ikal….

‘Jangan dan tidak’ menjadi kata yang kadang berarti kadang pula tidak bermakna…
Apa peduli tentang makna sebuah kata
Kalau pikiran ini menggumuli terus menerus

Seperti Orhan Pamuk berdialog dengan dirinya…
menyusuri kota lama…mimpinya…mimpi yang tanggal
entahlah
keindahan suatu tempat terletak pada kemurungannya..tulisnya
apakah demikian kataku…..
apakah keindahan suatu mimpi karena hanya sekedar mimpi..
karena pergulatan pikiran menjadi tak seragam…
pencarian boleh berlanjut…..

Kutulis ini dengan sebuah kerumitan…
karena kesederhanaan menjadi barang mewah…
keserdehanaan dan pemahaman menjadi padu padan
olahan yang begitu nikmat..pas…
begitu sulit terjangkau….
sederhana..
paham…
terus mengiang…
kutanggalkan saja…..
semakin menyesakkan….

mimpikan saja….bukankah sebuah keindahan?

*Ikal dan Aling, dalam tetraloginya Andrew Hirata

Oleh: ririnwulandari | Maret 28, 2009

sejengkal transformasi

Bagaimana aku mengatakan kalau air mengalir dibebatuan adalah air dengan kebeningan hati..
Bagaimana aku mengatakan kalau langit berubah warna pada setiap detik
Bagaimana aku mengatakan kalau panasnya matahari tak kan membakar bumi
Bagaimana aku mengatakan dibalik hujan deras kan menanti segurat pelangi nan indah
Bagaimana aku mengatakan inilah kehidupan
Kehidupan yang perlu disikapi dengan kesegenap pemakluman atasnya
Dan aku tak perlu mengatakan apapun
karena tak ada kata yang dapat mengungkapkan
tak ada koma yang membendungnya
tak ada titik yang menghentikannya
tak cukup dengan sejengkal upaya
namun berkilo kilo meter perjalanan mesti dilalui
mesti terjadi penaklukan terhadap diri
terhadap segala kehendak

Itu adalah baru satu episode..
Episode lanjutan adalah tiadanya matahari bersinar
kegelapan disana sini..
hanya zikir….
penghambaan di titik nol
menjadi asesori yang tak boleh ditaggalkan
hingga tujuan kehidupan di ambang kota..

Entahlah..di episode ke berapa aku berapa
itu tidaklah penting
Yang terpenting adalah …bagaimana aku tanpa kata
berada pada titik mana saja
menggeliat dalam upaya pemujaan dan kepasraha yang padu padan
menggeliat mengukir detik demi detik..jengkal demi jengkal
tak peduli angin kanmeluruhkan ataukan bersahabat membawa kabar gembira
dan aku bisa berkata..
inilah aku yang bisa menyongsong Mu dengan segenap jiwa..

Oleh: ririnwulandari | Maret 15, 2009

HANYA SEKEDAR CATATAN

Kelembutan semilir angin
Membiaskan segala rupa lara
Bercengkerama manis pucuk pucuk palem mengendurkan segala letih
Hanya sebatas bias dan kendur
Berdiri tegakpun hanya agar tak oleng
Apa yang telah terukir semakin tak kentara
Kehilangan bentuk dan rupa
Hari ke hari hanya berkutat pada sebuah penantian
Tuk sekedar mengoles betadin…membalut..
Oh….begitulah rupa sisi kehidupan…
Amatlah sulit membalikkan ke sisi yang lain…
Pun ketika kukatakan pada gemericik air mengalir
Nikmati…seruput habis..sajian di depanmu…
Tak usah lagi mencari yang tak tersaji…..
Pun ketika kukatakan pada segerombolan ilalang
Tak usah mengeluh sekedar jatuh tuk bisa berjalan..
Pun ketika kukatakan pada pucuk-pucuk daun yang bergelayut
Segala rupa..bentuk dan bidang miliki berbagai sisi…minimal dua sisi…
Sebuah paket tak bisa tak ada….
Tengoklah……
Sebenarnya..ini adalah sebuah kemewahan….
Senyum manis …bertaburan…dipenuhi esok yang makin indah
Esok yang bisa menjadi apa saja…
Dan aku ingin menyaksikannya….bunga bermekaran di sana sini….
Demikianlah…
Tak perlu lagi mengendus jejak lalu…
Tak perlu lagi peduli terukir ataukah tidak…
Tak perlu lagi peduli bisikan luka
Semuanya diam bisu…ketika ku tak peduli..
Biarkan saja…
Kuhanya peduli tentang bunga bermekaran….

ririnwulandari
Maret 2009….di sebuah pagi….

Oleh: ririnwulandari | Maret 12, 2009

Sistem Pengendalian Manajemen 1


Sistem Pengendalian Manajemen atau Management Control System adalah salah satu mata kuliah Program Studi Akuntansi. Untuk Memahami SPM perlu memahami perusahaan secara global. Serta perlu mensintesakan dari berbagai disiplin ilmu. Untuk memberikan pengajaran yang baik, saya melakukan pengamatan, mendengar, membaca, bertanya tentang perusahaan secara menyeluruh, disembarang waktu dan tempat ketika kesempatan itu terbuka. Sintesa dari konsep dan upaya saya tersebut keluar dengan lancar di dalam kelas. Kelas adalah panggung saya. Di luar itu kadang saya lupa akan hasil sintesa saya. Untuk itu saya minta bantuan kepada mahasiswa intensif ABFI I Perbanas, yaitu kelas yang diselenggarakan malam hari untuk memenuhi kebutuhan mereka yang sudah berkerja dan ingin melanjutkan pendidikannya dari D3 ke S1. Salah satu yang berhasil mencacat dan menuliskan dengan baik, benar serta enak dibaca apa yang saya sampaikan adalah Galih Aninditha Nandiwardhana (D3 STAN dan bekerja di salah satu kantor Pajak di Jakarta). Berikut ini tulisan tersebut

PUSAT LABA SEBAGAI JENIS PUSAT PERTANGGUNGJAWABAN TERBAIK

BAGI MANAJEMEN

Topik mengenai pusat pertanggungjawaban selalu menarik untuk dibahas. Menarik karena selain berkaitan erat dengan strategi-strategi organisasi dalam mencapai tujuannya, pembahasan pusat pertanggungjawaban juga memaksa kita untuk melihat permasalahan dari sisi manajemen puncak. Seorang manajer puncak harus dapat menetapkan jenis pusat pertanggungjawaban yang tepat bagi organisasi yang dipimpinnya sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan organisasi. Manajer puncak juga harus mampu membuat kebijakan-kebijakan serta menyusun struktur organisasi yang sesuai dengan jenis pusat pertanggungjawaban tersebut, sehingga dapat mengakomodasi kegiatan bisnis organisasi agar berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Penetapan jenis pusat pertanggungjawaban pada unit-unit kerja di dalam organisasi menjadi sangat krusial karena berdasarkan itulah kinerja diukur. Suatu unit kerja yang ditetapkan sebagai pusat laba, kinerjanya diukur atas laba yang dihasilkan, yaitu selisih antara penerimaan dan biaya. Semakin tinggi laba, maka kinerja dinilai semakin baik. Pada pusat pendapatan, yang menjadi dasar pengukuran kinerjanya adalah jumlah pendapatan yang diterima, tanpa memperdulikan biaya yang digunakan, sehingga semakin tinggi pendapatan maka semakin baik pula penilaian kinerja dari unit kerja tersebut. Sedangkan pada unit kerja sebagai pusat biaya, kinerjanya dinilai hanya berdasarkan biaya yang keluar. Artinya, unit kerja dinilai baik jika biaya yang dikeluarkan semakin rendah.

Banyak perdebatan yang timbul mengenai jenis pertanggungjawaban apa yang tepat bagi suatu organisasi. Yang banyak menjadi perhatian beberapa waktu terakhir adalah perusahaan maskapai penerbangan, terkait dengan seringnya terjadi kecelakaan pesawat. Tidak sedikit pihak yang menjatuhkan tuduhan pada lemahnya kontrol maintenance pesawat, sehingga menyebabkan kondisi pesawat tidak prima dimana hasilnya adalah terjadinya kecelakaan-kecelakaan tersebut. Salah satu sebab dari lemahnya kontrol maintenance adalah diterapkannya pusat biaya, bukan pusat laba, sebagai pusat pertanggungjawaban pada Divisi Maintenance di perusahaan maskapai penerbangan. Karena kinerja Divisi Maintenance dinilai berdasarkan rendahnya angka biaya, maka terjadilah efisiensi biaya di segala kegiatan bisnis dalam divisi tersebut, termasuk biaya pemeliharaan pesawat. Dengan ditekannya biaya pemeliharaan, maka terjadi penurunan kualitas dari komponen-komponen teknis pesawat. Bisa berupa ditundanya perbaikan karena dianggap belum urgent, dapat pula berupa diturunkannya kualitas sparepart komponen yang diganti, misalnya menjadi KW2, yang akhirnya dapat menimbulkan dampak yang sangat fatal. Dengan sistem pusat laba, diciptakan mekanisme transfer produk antar divisi, dalam hal ini produknya adalah sparepart dan jasa servis oleh Divisi Maintenance. Dengan mekanisme tersebut, Divisi Maintenance akan berfungsi sebagai unit bisnis yang melakukan “penjualan produk”, sehingga manajer Divisi Maintenance tidak perlu takut jika total biaya yang dikeluarkan dalam satu periode menjadi sangat tinggi, karena kinerjanya tidak semata-mata dinilai dari biaya tapi juga dari pendapatannya. Dari perubahan jenis pusat pertanggungjawaban tersebut, angka kecelakaan diharapkan dapat berkurang karena lebih terjaganya kualitas komponen-komponen pesawat. Contoh perusahaan penerbangan yang sudah menerapkan Divisi Maintenance sebagai Pusat Laba adalah Singapore Airlines dan diikuti PT Garuda Indonesia.

Isu lain yang berkembang adalah masalah efisiensi di lingkungan instansi pemerintahan, dalam hal ini yang akan saya sampaikan adalah di Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Kenapa DJP? Karena DJP adalah organisasi yang menerapkan pusat pendapatan pada unit-unit kerjanya, yaitu pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP). Kinerja KPP diukur dari besarnya penerimaan pajak yang berhasil dihimpun yang kemudian dibandingkan dengan target penerimaan yang telah ditetapkan pada awal tahun. Pada kondisi yang terjadi sekarang, penggunaan biaya pada tiap-tiap KPP memang tidak diukur karena fokusnya adalah pada penerimaan negara, sehingga tidak diketahui pula apakah kegiatan-kegaiatan dalam rangka memperoleh penerimaan negara itu telah dilakukan secara efisien dari segi biaya atau belum. Hal ini terjadi karena segala biaya yang timbul telah dianggarkan dimulai dari anggaran Direktorat Jenderal sampai akhirnya dibag ke KPP-KPP. Agar efisiensi biaya dapat diukur, harus dipertimbangkan untuk merubah KPP dari pusat pendapatan menjadi pusat laba. Tetapi untuk dapat menjadi pusat laba, diperlukan perombakan besar di bidang penganggaran yang dampaknya tidak hanya di DJP saja tapi juga akan merembet ke perubahan sistem penganggaran pemerintahan secara keseluruhan. Akan sangat baik jika pengeluaran instansi-instansi pemerintah dapat diukur efisiensinya, namun dengan pertimbangan di atas, sudah selayaknya instansi atau departemen terkait duduk bersama untuk melakukan pembahasan mengenai wacana perubahan tersebut.

Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pusat laba adalah jenis pusat pertanggungjawaban yang terbaik. Namun perlu diketahui, pusat laba juga bukannya tanpa kelemahan. Kelemahan dari pusat laba diantaranya adalah munculnya perselisihan antar unit bisnis mengenai harga transfer produk dan adanya kepentingan manajer unit bisnis untuk lebih memfokuskan profit jangka pendek terkait dengan penilaian kinerjanya. Untuk dapat meminimalkan akibat dari kelemahan-kelemahan itu, diperlukan pengawasan dan koordinasi yang baik oleh manajemen di atasnya dalam bentuk kebijakan-kebijakan sehingga pelaksanaannya tidak melenceng dari tujuan organisasi.

salam manis

ririn wulandari

Oleh: ririnwulandari | Maret 12, 2009

KATA KATA TAK ADA…..

Gugusan kata mengalir

Menjadi guratan padu padan

Melaju diselingi ketipak air pancuran

Adalah terbilang kenyamanan

Apakah cukup dua jalan seiring

Apakah menjadi satu titik memedarkan pelangi jingga

Sebuah tanya ditingkahi senja kian matang

Kopi mengepul dan roti menguning terpanggang

adalah pelengkap kematangan senja

Senja kan berubah esok yang segar

Ditingkahi kegelapan tak lekang

Apa peduliku atas semua itu

Tak perlu jawaban

Hanya detak detak sepatu bersahutan

Tapak demi tapak terus membentuk jejak jejak jiwa

Bermekaran….. kuncup…. meradang ….

Kususuri pantai dikegenitan ombak mengalun…

Kuterabas terik mentari dikesunyian tak berbekas…

Mengurai….menciut….

Ini adalah kata kata tak ada koma dan tak ada titik

Terbuka lebar…

Dan aku membiarkan dipagut dan menyerah

Bahwa ada bingkai lebar…ada pengurai serabut serabut tak berujung ini…

.

ririnwulandari/maret 2009

Oleh: ririnwulandari | Januari 28, 2009

Perbincangan tentang Poligami

Pagi ini seharusnya aku menuntaskan koreksi nilai UAS dan nilai terstruktur. Seorang teman menelpon ingin berjumpa. Dimana kita bisa ketemu katanya via telepon. Di rumah kataku…maka, rencana untuk menyelesaikan koreksi kuabaikan..bisa kukerjakan nanti malam..batinku..toh tugas-tugas sekolah belum begitu deras….

Dipelupuk matanya nyaris bergulir anak anak sungai, namun demikian dia masih menyapaku dengan senyuman. Kupersilahkan dia duduk ditempat yang paling nyaman di ruangan keluarga. Sofa yang dapat menenggelamkan kami dengan nyaman dan memberi kesempatan kepadaku untuk sesekali memandang cucuran air merembes diantara susunan batu batu tak teratur rapi membentuk bidang yang tertata rapi. Segerombol melati tak beraturan menjuntai ke sana kemari. Berbagai jenis Anggrek yang sedang tak berbunga oleh-oleh kakakku sekembalinya bertugas dari Merauke berjejer rapi di teras belakang. Kubiarkan berbagai jenis tanaman tumbuh dan bergerak tak beraturan. Ada kebebasan di tamanku untuk mereka. Temanku, tidak berkesempatan memandang keindahan tamanku sepanjang pagi hingga siang, dia menatap lekat padaku, mendengarkan tentang apa yang kukatakan, sesekali dia menyela atau mengiyakan, sambil menahan diri untuk membendung gulir air mata di matanya. Hot chocolate dihidangkan untuk kami berdua. Semula dia menolak, HC bisa membuatku gemuk katanya. Kutimpali, saat ini yang paling nikmat adalah minum secangkir HC. Aku pernah membaca bahwa coklat mengandung zat yang dapat menenangkan dan bermanfaat bagi kesehatan jantung. Tetapi bukan karena itu aku menjadi ‘keranjingan’ hot chocolate. HC adalah minuman pengganti kopi. Sejak kecil hingga aku menyelesaikan S2, kopi adalah minuman ‘teman’ belajar dan menikmati senja… hingga suatu ketika tubuhku menolaknya…berdebar-debar dan perutku melilit. Cerita tentang kopi, merupakan cerita yang amat panjang, keharuman kopi masih bisa membuatku melayang…hehe..(layangan kali…). Marilah kembali ke perbincangan kami. Aku dan temanku…

“Bulan Mei suamiku kawin”…katanya…aku diam saja tak menimpali…mataku lekat memandang melati yang menjuntai tak beraturan…”Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan…diam saja di sini tak bergerak dan menerima, ataukah bergerak mencari hidupku sendiri”, lanjutnya. Aku masih diam tak berkata-kata, kali ini aku yang menahan agar bulir-bulir air mataku tak turun. Aku semakin memandang lekat melati…baumu begitu menenangkan, karena itu di setiap rumahku selalu ada melati (beberapa tahun belakangan ini aku pindah dari satu kota ke kota, dari satu rumah dinas ke rumah dinas, sebelum aku menempati ‘istanaku’ ini). Sejenak aku bisa menguasai diri. Keputusan ada ditanganmu, kataku…’Mengapa engkau tetap ingin diam tak bergerak dan menerimanya?’ tanyaku..’Dia meminta dan tak ingin melepasku sementara dia perlu perempuan itu untuk mengisi hidupnya. Sisi hatiku yang lain mengatakan..aku tak mampu menghadapinya. Aku tak mau berdesak-desakan mengisi hatinya…aku tidak bisa menerima dan tidak dapat ikhlas menjalaninya. Sementara hatiku yang lain mengatakan…aku harus tetap diam saja dan menerima dan membiarkan anakku berkembang dengan kasih sayang kami berdua’…

‘Aku tidak punya jawaban. Itu adalah sebuah persimpangan jalan. Di persimpangan jalan, siapapun yang akan melanjutkan jalannya harus memilih dengan segala konsekuensinya. Masing-masing pilihan mengandung baik dan buruk. Sekali kita memilih salah satu alternatif, maka kita juga harus siap dengan sisi baik dan buruknya. Alternatif manapun yang kita pilih adalah satu paket yang terdiri dari kesedihan dan kebahagian, baik dan buruk. Yang membedakan adalah kesedihan paket mana yang bisa kita atasi dan kesedihan paket mana yang tidak bisa kita atasi. Itulah data yang relevan. Mengenai sisi kebahagian tidak perlu kita pertimbangkan, karena kebahagian di paket manapun pastilah dapat kita nikmati.
Kesedihan di paket mana yang bisa kita tanggung dan kita atasi, kesedihan di paket mana yang tidak bisa kita tanggung dan kita atasi. Pilihan ada pada kesedihan pada paket mana yang tidak dapat kita tanggung’., demikian jawabanku dengan nada yang sangat rendah….(aku benar-benar kehilangan energi). Engkau tahu..lanjutku…yang akan aku sampaikan ini adalah hasil perbincangan dan diskusi dengan banyak teman, hasil pengamatan dan sintesa dari beberapa buku yang aku baca……Setiap orang mencintai hanya kepada satu orang…(mencintai lawan jenis maksudku)….di sana luruh…maka akan muncul di sini, di sini muncul…maka di sana luruh. Kalau ada kasus seseorang nampaknya mencintai lebih dari satu orang, sebenarnya keadaannya bukan begitu. Dia mencintai salah satunya, dan menyayangi serta belas kasih kepada yang lain….maka, lanjutku….daun-daun melati menjuntai-juntai menghiburku…Kalau dia memintamu untuk tetap bertahan mendampinginya….ada dua alternatif kedudukanmu di hatinya….engkaulah cintanya….atau engkaulah yang terhormat untuk disayang dan diberi belas kasihani….

Perbincangan pagi hingga siang yang memilukan……kami terdiam tepekur… hanya gemericik air yang meningkahi suasana ini…

28 Januari, di sore hari..ketika hujan mengguyur cinere….tidak mengguyur hatiku…..

Oleh: ririnwulandari | Januari 19, 2009

Sebuah Malam

Dan….sebuah malam… hanya ada keheningan..

menenangkan sejenak

Dan..segurat senyummu  berkata

Mengkikis banyak kata dalam diam

Mendengarkan alunan lembut dendang lagu tak berujung

adalah jalan terbaik

Tahukah engkau…

Bahwa Itulah melengkapi perbekalan jalanku

perbekalan yang begitu minim

mengurai….segala inginku

hanya sebuah jalan terang yang mengiming imingkanku untuk terus berjalan

sembari memandang berpedar pedarnya rembulan

Jalan terang kan datang

katamu….

Pasti kan datang….

hiburmu…

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »

Kategori