RSS

Arsip Kategori: Puisi

Violin for Violina by Zikra Maharani

Berikut ini Cerpen yang ditulis putri saya, Zikra Maharani, kelas 2 SMP. Cerpen yang keren dan menyentuh hati. Saya terbitkan di sini agar menjadi penyemangat baginya untuk melanjutkan novel yang sedang dia garap. Kepada pembaca, terima kasih sudah berkenan singgah.

Violin for Violina
by Zikra Maharani

She light up my world, yes she help my family to light it up. If sunshine will go away from me, from us when moonlight shining bright, her light will always shining bright, every minute, every hour, every day, every month, every year. No matter its rainy, snowy, night or day. But I don’t know why, she never know that she’s absolutely like that. She always close her heart. Close it tight. But I love her, and always do.

Dion Bernstein, Würzburg 27 Dezember 1968 ————————————————————————-

“Yes, Sunday!” said a pretty girl that love to play violin named, Violina. After she woke up, she went to the main door to check what kind of quotes & flowers she got. She always doing like this when Sunday morning, on the third Sunday in 1 months. She has a secret admirer who always send her quotes and flowers. Violina never know who is the real name of her secret admirer. Her secret admirer always write his name “dirst”. Violina never know who is he , but she likes every quotes that her secret admirer sent. Her secret admirer have sent her quotes since 7 months ago.

Rot, das ist die Liebe, sie darf niemals vergeh’n…

“another good poem from you, dirst..” Violina always said that after she read the quotes or the poem from Dirst. Its almost a year, but she still don’t know who is Dirst. Violina very want to know as soon as possible who is he. But she always failed. So, she always try to forget Dirst, she did some project to make her felt busy every day. But its useless. She’s tired for trying too long. Yea, she tried to ignore all things about “Dirst” for 3 months. Once again, its useless.

Kringg… her phone was ringing. Stopped her day dream this morning. “Hello” said her. “can I go to your house Vio?”

“who is this?”

“I said, can I go to your house today? Remember our homework with Jenna? Stop asking me, I ask you first”

”Oh you’re Dion. No you can’t. Until you have a good manor”

“What?”

“You’re not a deaf right?”

“Okey, I’m sorry. I repeat again, can I go to your house today Vio? I’m Dion. Remember our homework with Jenna?”

“yayaya. Yes you can. Around lunch time”
Every day Violina was always annoyed by his foe, Dion. Dion is a good and handsome boy. Every girl in Würzburg Good High School will agree about that. Except, Violina Filipova.
____

That’s just only a small piece of they memories for being an enemy for a long long time. Wan’t a good memories?

When WGHSC (Würzburg Good High School) Festival, Violina that known as a good violins have practiced for this big event. She will play 5 songs that very popular at that time. In 2 months, she didn’t eat the junk food, just go out for play at her friends house once, always did her homework at evening then at night she will start to practice that 5 songs step by step with her proffesional teacher.

2 Months later after practicing a lot, she only have 2 minutes before her perfomance begin so she start to pray, wish the luck from the God, Allah. Then she put her violin on a tabel at the backstage and……. boom.

Her violins was broke by the basket ball that threw by Dion. Everyone who saw that accident was shock. Violina Filipova start crying. She was very very angry to Dion.

“I’m so sorry Vio, it was just an accident….”

Violina ignored him. Then went to the stage with an anger inside her, and start playing the violin. Another violin but not her.
______

For 10 years she wasn’t talk to Dion. Dion always say sorry to her, but his appolagizes were not accepted.

Then one day when the snow start falling from the sky at Würzburg, Dion knocked Violina’s house. She opened the door, and start to shocked.

“Violina, remember me?

“Dion?”

“Yes. I’m so sorry about 10 years ago accident”

“It’s okay. I’m sorry too. I never accept your appolagize for this 10 years”

“Violina, this violin is for you. Rot, das ist die Liebe, sie darf niemals vergeh’n…
Will you marry me?”

“dirst……..yes I will”

Yes I’m Dirst, Dion Bernstein. That’s my story how I met my wife, what’s yours?
————————-

Jakarta, 12 Februari 2013

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 12, 2013 in Puisi, Tugas Perkuliahan

 

Pagi dan Senja di tanah Gayo

Pebukitan meliuk menyambutku
Penyaji senampan pagi yang lain
Sebuah pagi penyimpan jejak jejak tak tertimpa kabutpun

Serombongan pucuk kopi tak mampu bersenandung
tertelan bising sumbang pendendang
pengisi frekuensi tak hendak samar

Perjalanan ini makin jauh
Hanya mampu kuselinapkan pada
pepohonan berejer rapi di pebukitan
dermaga lut tawar
mentari amit mundur…

Begitukah cara mentari amit mundur…
menyisakan semburat merah diantara bukit bukit tersenyum malu…
kuterpana…
meraup keindahan pada sebuah senja
senja di bibir tanah gayo

Beginikah cara semburat merahku amit mundur…
menguak pokok pokok batang kopi bertengger angkuh..
menyapa pendulang…penyemai wewangian
menyebar makna…
menyibak pencarian…
kubertanya…
melipat pedih pada sebuah senja

Di perjalanan inipun tak bisa kuurai…
Sebuah perjalanan nan menenggelamkanku di kehangatan pagi
dan memagutku di keelokan senja…

Tanah harapan pengisi mimpi mmpi
dalam pencarianku…..
kusadari…
dalam selimut bukit bukit tanah gayo…

26 Juli 2009/ririnwulandari

 
8 Komentar

Ditulis oleh pada September 3, 2009 in Puisi

 

Tag:

Biarkan…atas apapun

Celuk wajah tertata sempurna

Menggambarkan siluet perjalananku nan taksempurna

menjadikanku hilang ingat apakah aku pernah berjalan sejauh ini

Tiba-tiba aku sudah di sini

hanya ada satu garis linier

memudar pula

dua buah bangunan indah di sampingnya

kupandangi…..dan kusentuh pelahan

aku tersenyum….

sejauh inikah perjalananku….

dua bangunan itu karyamu…kau tahu…suara berdesir mengelusku…

karya merger….

Konsolidasi..merger.. menyurut…mengkoreksi

Terbolak balik

debet menjadi kredit

kredit menjadi debet

menuju jurnal penyesuaian

di titik nol

Kau membolak baliknya

merger…konsolidasi kehilangan makna

debet kehilangan definisi

pun kredit

Kini….biarkan

Sisa nafas menjadi ornamen  tuk mencatat ulang

definisi tentang  debet…juga kredit

kumpulkan potongan-potongan yang masih berbentuk

kapitalisasi

menjadi  untaian keseimbangan sebuah Neraca

senyum manisku memompa degup nafas

menyadari dua bangunan

Dua bangunan pengisi bagian terindah neracaku

Neracaku kan kupersembahkan kepadaNYA

Kadang aku menghiba….biarkan waktu itu…kini

Kadang aku berdoa khusuk…jangan sekarang…Neracaku belum sempurna

Kau tahu…

hiba dan doa tak berarti

Karena waktuku takkan pergi kemana mana

kali ini jangan kau bolak balik lagi definisiku

atas apapun

Jakarta

Akhir Juni 2009

 
13 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 24, 2009 in Puisi

 

Strike

Arrow line…bola..
Adalah focus tak geming
Memandang kilatannya adalah memandang segaris wajah
Mengoyakkan pin pin harapan yang berjejer rapi
Strike…menjadi sebuah kepuasan satu lemparan
Lemparanku terus diselingi berbagai wajah…
Pin-pin yang berjejer rapi mestilah rubuh….
Tidak ada jalan lain
Mesti demikian
Harapanpun mesti rubuh…strike…

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada April 22, 2009 in Puisi

 

Tag:

Rasa ini

Bagaimana aku mengatakan
padamu
padanya
dan pada mereka
kalau ramuan rasaku begitu komplit
kubiarkan campur aduk…
tergulung dalam kepompong…
kepompong..kupu- kupu ..kepompong..kupu-kupu
silih berganti membentuk irama keteraturan…
pun matahari tak mengabaikan
bayang bayang siluet yang tak beranjak….
mengkristal menyendiri….
bola siluet..sebentuk wajah….

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada April 19, 2009 in Puisi

 

Tag:

Luka tapi tak melukai

Rahangmu masih saja menonjol diantara ke dua pipimu

Gemeletuk…membuyarkan anganku

Sendekap acuhmu adalah pemandangan tak jua usai

Menjadikanku  karang di pinggir pantai

Membuatmu tak juga mengendorkan urat lehermu..

Keindahan ini mencemburuimu

Melukaimu…katamu ditingkahi gelombang

Menjadi ornamen keindahan pantai masih belum cukup bisikmu meningkahi humbusan angin

Sebuah kecukupan ketika aku menjadi apapun yang kau suka….

Ornamen pantai juga…Angin juga….ombak juga…pasir juga…..

Menjadi ombak…angin…pasir …semua luka dan melukai

Lihat…

pori poriku terkikis ombang bergulung gulung…

Luka…tapi tidak melukai

Lukaku menjadikanku ornamen keindahan

Bentukku yang semakin abstrak menjadikanku sebuah  keunikan

pelengkap cerianya sebuah pantai…

Memandang mereka bergelayut..tertawa..berkejaran..

Adalah imbalan yg kudapat untuk lukaku…

Kubiarkan luka…tapi tak melukai

 
6 Komentar

Ditulis oleh pada April 16, 2009 in Puisi

 

Tag:

Tekukur…

Sebuah pagi… jatuh dihadapanku…burung tekukur warna putih diselingi coklat muda…

Sebelah sayapnya terluka..
yang membuatku luka adalah sepasang matanya..

Sepasang mata yang menyiratkan ketidakberdayaan….
Sebuah pembelajaran yang terlambat..
Bagaimana mencari…pengisi perut…

Dan pagi itu aku memungutnya..membelainya…dan memberinya kandang yang nyaman..
tanpa berani memandang matanya…

Jatibarang, 2002

 
9 Komentar

Ditulis oleh pada April 14, 2009 in Puisi

 

Hari ini

Hari ini adalah hari yang sempurna
Kupilin…kuuntai…kekemas…
dan kupilah pilah menjadi file-file yang teridentifikasi secara jelas
Kusimpan dalam kotak-kotak yang berbeda
nama kotak tidaklah penting benar karena aku tahu setiap kotak yang kujejer rapi..

Hari ini adalah hari yang sempurna ketika kebersimpuh dalam pencarian gerenjal pengganggu hari-hariku…
ketika aku tahu yang selalu kupungkiri

Hari ini adalah hari yang sempurna
ketika kuberputar bak gasing…
meluruhkan….
luruhlah…luruh….
mantra itu mendengung semaki keras…

wahai jiwa-jiwa…
jiwa ini kubungkus dengan begitu rapi…
dan perjalanan terus berlanjut….
pencarian terus berlanjut…

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada April 4, 2009 in Puisi

 

Tag:

Mimpikan saja

Mencintai dengan sederhana..kata seorang penyair…
Bukan mencintai dengan sederhana kataku….
Mencintai dengan pemahaman…
paham…
sederhana….

Bahwa begitulah adanya dengan cinta….
Seperti Ikal dengan A Ling…
dipagut mimpi terus menerus…

Jangan mimpi kata sesorang…
Mengapa tidak kataku….
Mengapa tidak kata Ikal….

‘Jangan dan tidak’ menjadi kata yang kadang berarti kadang pula tidak bermakna…
Apa peduli tentang makna sebuah kata
Kalau pikiran ini menggumuli terus menerus

Seperti Orhan Pamuk berdialog dengan dirinya…
menyusuri kota lama…mimpinya…mimpi yang tanggal
entahlah
keindahan suatu tempat terletak pada kemurungannya..tulisnya
apakah demikian kataku…..
apakah keindahan suatu mimpi karena hanya sekedar mimpi..
karena pergulatan pikiran menjadi tak seragam…
pencarian boleh berlanjut…..

Kutulis ini dengan sebuah kerumitan…
karena kesederhanaan menjadi barang mewah…
keserdehanaan dan pemahaman menjadi padu padan
olahan yang begitu nikmat..pas…
begitu sulit terjangkau….
sederhana..
paham…
terus mengiang…
kutanggalkan saja…..
semakin menyesakkan….

mimpikan saja….bukankah sebuah keindahan?

*Ikal dan Aling, dalam tetraloginya Andrew Hirata

 
4 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 30, 2009 in Puisi

 

sejengkal transformasi

Bagaimana aku mengatakan kalau air mengalir dibebatuan adalah air dengan kebeningan hati..
Bagaimana aku mengatakan kalau langit berubah warna pada setiap detik
Bagaimana aku mengatakan kalau panasnya matahari tak kan membakar bumi
Bagaimana aku mengatakan dibalik hujan deras kan menanti segurat pelangi nan indah
Bagaimana aku mengatakan inilah kehidupan
Kehidupan yang perlu disikapi dengan kesegenap pemakluman atasnya
Dan aku tak perlu mengatakan apapun
karena tak ada kata yang dapat mengungkapkan
tak ada koma yang membendungnya
tak ada titik yang menghentikannya
tak cukup dengan sejengkal upaya
namun berkilo kilo meter perjalanan mesti dilalui
mesti terjadi penaklukan terhadap diri
terhadap segala kehendak

Itu adalah baru satu episode..
Episode lanjutan adalah tiadanya matahari bersinar
kegelapan disana sini..
hanya zikir….
penghambaan di titik nol
menjadi asesori yang tak boleh ditaggalkan
hingga tujuan kehidupan di ambang kota..

Entahlah..di episode ke berapa aku berapa
itu tidaklah penting
Yang terpenting adalah …bagaimana aku tanpa kata
berada pada titik mana saja
menggeliat dalam upaya pemujaan dan kepasraha yang padu padan
menggeliat mengukir detik demi detik..jengkal demi jengkal
tak peduli angin kanmeluruhkan ataukan bersahabat membawa kabar gembira
dan aku bisa berkata..
inilah aku yang bisa menyongsong Mu dengan segenap jiwa..

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 28, 2009 in Puisi

 

Tag:

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.