Aroma lebaran sudah santer tercium. Lebaran yang identik dengan mudik adalah satu waktu yang kita tunggu. Waktu yang tepat untuk berlabuh sejenak. Waktu yang tepat untuk melihat seberapa marak kenangan yang telah kita ukir. Serimbun apa taman kenangan yang kita punya.
Lebaran adalah saat yang tepat kita berada di dalam taman tersebut. Rehat di dalamnya sembari menakar kenangan yang telah mewarnai segenap diri kita, menjadikan kita dalam bentuk kekinian.
Ternodakah kenangan itu? Menjadikan warna-warna yang indahkah kenangan itu? Sama sekali tak bisa kita hapus selayaknya kita menghapus tulisan di buku dengan penghapus sederhana ataukah tip ex. Kita perlu membiarkan taman kenangan menjadi rimbun dengan aneka pernik, bunga, belalang, ataupun hama di dalamnya.
Membiarkan kenangan apa adanya adalah bentuk pemahaman atas kenangan. Memahami berbagai kenangan merupakan jalan terbaik, dibandingkan menolak dan mengabaikan mentah-mentah. Yup, sebaik kita menerima taman kenangan dengan segala isinya.
Pada Lebaran seperti ini kita menerima taman kenangan, kita memahaminya kenapa harus ada. Memaklumi segala kenangan yang pernah singgah. Mendekap sisa kenangan yang ada. Memeluknya sembari melepas lelah dalam perjalanan mengukir kenangan-kenangan baru.
Membiarkan kita diselimuti kenangan seperti halnya kita membuka kenangan itu. Namun, kenangan tidak bisa kita buka dari bungkusnya terus menerus. Kita perlu membukanya sekali-sekali, lalu mengemasnya kembali dengan rapi, meletakkannya dalam gendonganan kita, lalu kita berjalan terus…perlahan, ataupun dalam kecepatan sedang, maupun dalam keepatan tinggi..tidak masalah, asalkan tidak pernah berhenti. Karena, ketika kita menghentikannya, jatuhlah kita, selaksa kita menaiki sepeda, perlu terus-menerus menjaga keseimbangan, salah satunya dengan terus menggenjot agar sepeda selalu berjalan.
Demikianlah ceritaku tentang kenangan
Selamat membuka kenangan sahabatku,
Selamat memahami kenapa kenangan seperti itu harus ada,
lalu membungkusnya kembali untuk menghadapi kekinian dengan semangat dan jiwa membara
salam jabat erat selalu
RIrin Wulandari