Mudik selalu menjadi rehat yang manis. Untuk itu berbagai upaya ditempuh sebagian besar masyarakat kita dalam menjalani ritual tersebut. Mudik menjadi rehat manis karena di dalamnya ada serupa penambahan energy baru, charging of energy, setelah setahun menjalani rutinitas yang menggulung hampir semua kepentingan sangat pribadi. Menjadi mur-mur ekonomi yang berputar tak ada hentinya. Perekonomian yang kita bangun dan sekaligus menghancurkan masing-masing dari kita, kalau kita tidak was-was menyikapinya. Menghancurkan nurani yang kinclong menjadi berdebu tebal, menghancurkan kepentingan yang paling bersih menjadi kepentingan yang abu-abu. Sekali lagi kalau kita tidak was-was menyikapinya dalam putaran perekonomian nasional, perusahaan, hingga rumah tangga.
Lalu gasing itu berhenti sejenak di hari fitri, menghitung apa saja yang telah kita lakukan dalam setahun, Menakar sejauh mana kita melangkah. Sementara itu tatap rindu mengering terguyur rinai hujan. Dibilas tatapan mata tua, kasih dan rangkulan nan hangat, serta udara dengan bau kanak-kanak yang sangat akrab. Siapa yang kan sanggup melewati mudik seperti ini?
Bagaimana bila tatapan mata tua, kasih, rangkulan hangat, serta udara dengan bau kanak-kanak yang sangat akrab tak lagi kita punya? Kemana kita akan mudik?
Sebenarnya kita bisa selalu mudik, pada tafakur separuh malam, iringan kicauan burung, goyangan lembut daun-daun, bercengkrama dengan mentari, memandang langit nan pekat yang kadang disinggahi bintang, bulan, serta pada hati kita yang lapang. Kita selalu bisa melakukan rehat yang manis…
Aih mudik…aku ingin mudik, membaui udara dengan bau kanak-kanak yang sangat akrab. Bagaimana dengan anda?
Selamat mudik, selamat rehat, semoga berbahagia, dan selamat merayakan Idul Fitri..luv u all.
Salam jabar erat
Ririn Wulandari