Pebukitan meliuk menyambutku
Penyaji senampan pagi yang lain
Sebuah pagi penyimpan jejak jejak tak tertimpa kabutpun
Serombongan pucuk kopi tak mampu bersenandung
tertelan bising sumbang pendendang
pengisi frekuensi tak hendak samar
Perjalanan ini makin jauh
Hanya mampu kuselinapkan pada
pepohonan berejer rapi di pebukitan
dermaga lut tawar
mentari amit mundur…
Begitukah cara mentari amit mundur…
menyisakan semburat merah diantara bukit bukit tersenyum malu…
kuterpana…
meraup keindahan pada sebuah senja
senja di bibir tanah gayo
Beginikah cara semburat merahku amit mundur…
menguak pokok pokok batang kopi bertengger angkuh..
menyapa pendulang…penyemai wewangian
menyebar makna…
menyibak pencarian…
kubertanya…
melipat pedih pada sebuah senja
Di perjalanan inipun tak bisa kuurai…
Sebuah perjalanan nan menenggelamkanku di kehangatan pagi
dan memagutku di keelokan senja…
Tanah harapan pengisi mimpi mmpi
dalam pencarianku…..
kusadari…
dalam selimut bukit bukit tanah gayo…
26 Juli 2009/ririnwulandari
ass,,,
slam knal kak aq andi
kak blangi di le puisi ma,,,!
taring si kak..?
Oleh: andi on Oktober 2, 2009
at 6:22 pm
puisimu mengingatkan aku tentang takengon
sebulan aku singgahi sebuah kota surgawi
yang ada di negeri ini yang pasti tapi bagai mimpi
karena hanya dengan hati puisimu akan ber arti
kini aku jauh dari mimpi sebulan tiada arti
menguak misteri
tanah
tinggi
takengon
yang simpatik
bukan ngeri
Oleh: zubaedi ahmad on November 24, 2009
at 2:03 am