Celuk wajah tertata sempurna
Menggambarkan siluet perjalananku nan taksempurna
menjadikanku hilang ingat apakah aku pernah berjalan sejauh ini
Tiba-tiba aku sudah di sini
hanya ada satu garis linier
memudar pula
dua buah bangunan indah di sampingnya
kupandangi…..dan kusentuh pelahan
aku tersenyum….
sejauh inikah perjalananku….
dua bangunan itu karyamu…kau tahu…suara berdesir mengelusku…
karya merger….
Konsolidasi..merger.. menyurut…mengkoreksi
Terbolak balik
debet menjadi kredit
kredit menjadi debet
menuju jurnal penyesuaian
di titik nol
Kau membolak baliknya
merger…konsolidasi kehilangan makna
debet kehilangan definisi
pun kredit
Kini….biarkan
Sisa nafas menjadi ornamen tuk mencatat ulang
definisi tentang debet…juga kredit
kumpulkan potongan-potongan yang masih berbentuk
kapitalisasi
menjadi untaian keseimbangan sebuah Neraca
senyum manisku memompa degup nafas
menyadari dua bangunan
Dua bangunan pengisi bagian terindah neracaku
Neracaku kan kupersembahkan kepadaNYA
Kadang aku menghiba….biarkan waktu itu…kini
Kadang aku berdoa khusuk…jangan sekarang…Neracaku belum sempurna
Kau tahu…
hiba dan doa tak berarti
Karena waktuku takkan pergi kemana mana
kali ini jangan kau bolak balik lagi definisiku
atas apapun
Jakarta
Akhir Juni 2009
Buandel Usyil
Juni 24, 2009 at 9:26 pm
mbaaaa,,, meski aku tidak sanggup memetik semua maknanya,, nga tau kenapa ada rasa nyaman membacanya,,,, OK, sukes ya,,, agak lama baru nongol lagi tulisannya,,,, sibuk ujian ya,,! sekali lagi Sukses!! buat mbak Ririn. thks
ririnwulandari
Juni 30, 2009 at 10:46 am
Iya Mas…..sibbuuk..he…he…setiap minggu ujian…sekarang sdg menyiapkan proposal disertasi..tgs Prof Ujang…sekalian embrio unt kolokium..he..he..
Terima kasih Mas atas apresiasinya…he..he..puisi memang untuk dinikmati..nggak perlu dimengerti..he..he.. gimana sdh masuk bab berapa..cepet lho…jangan sampai aku salip..he…
salam manis Mas
Embun Pagi
Juli 19, 2009 at 8:53 am
Ah….betapa. Betapa.
kiki
Juli 28, 2009 at 7:33 pm
ibu,,, puisinya bagusss,,, antara pujangga dan akunting,, hihi,, sukses ya bu,,,,
agoesman120
Juli 30, 2009 at 12:35 am
Puisi indah
Penyejuk hati
Pandai bermain kata
Salam Kenal
C.U
nashuha
Agustus 23, 2009 at 9:27 pm
Bagus sekali. Orang Sastra yang salah masuk kamar, hehehe……
Maria
Agustus 25, 2009 at 6:16 am
Puisinya unik lho mbak, tp syrat mkna.. Gmna si crany mmunculkan brain storming pngungkpan prsaan lwat kta2 tpat n indah? Bkat ato mbak mmang org sastra?
Rindu
Agustus 29, 2009 at 1:15 am
Ternyata teori akuntansi bisa jadi puisi ya Bu, SALUT [no future comment]
*I miss you Bu, bulan depan saya kembali ke Jakarta, mau mulai bimbingan lagi
*
ririnwulandari
September 3, 2009 at 5:36 am
Halo Embun Pagi….betapa apanya?…he..he..tks ya..
@Kiki….sukses juga buat Kiki ya…terima kasih sudah menikmati tulisan2 saya…salam manis..
@Nashuha….bagus beginilah…melalang buana pd berbagai bidang ilmu…puisi adalah penyeimang..kelengkapan otak kanan dan otak kiri..terima kasih ya…salam..
@Agoesman….terima kasih sudah menyukai puisi sy…terus singgah ke sini ya…salam…
@Maria…terima kasih pujiannnya…he..he..saya bukan orang sastra…bidang ilmu sy gado2…akuntansi, marketing dan sekarang tertarik pada sertifikasi ekolabel… ya….puisi bagi sy adalah upaya mengeluarkan file yg tak perlu dalam pikiran….supaya penuh…..sehingga siap diisi oleh ilmu2 baru…
@Rindu…begitulah….sepulang mengajar Teori Akuntansi, buka Laptop…pingin bikin puisi…jadilah puisi seperti itu..,,,I miss you too…terima kasih ya…atas smsnya hingga sy buka blog ini lagi…maklum keasyikan FB ria…he,.he.
Rina Arifati
November 12, 2009 at 12:24 am
Mbak Ririn, puisinya keren abisss, lam kenal ya….boleh dong bagi-bagi ilmu akuntansi yang dipuisikan.
ririnwulandari
November 12, 2009 at 6:19 am
Terima kasih Rina….boleh..kapan2 saya buatkan puisi lagi ya…
zubaedi ahmad
November 24, 2009 at 5:08 am
kredit dan debet adalah dua hal yang berbeda tapi akan selalu ada dimanapun kita berada begitu juga takengon dan jakarta akan tetap ada walau berbeda
ririnwulandari
Desember 7, 2009 at 6:10 pm
Begitulah…hidup memang harus diisi dg keseimbangan/ keadilan..sebuah neraca..
Pada Surat Ar-Rahmaan ayat 7 dan 8 Al-Qur’an, dinyatakan bahwa: (ayat 7) Dan Allah telah meninggikan langit dan dia meletakkan neraca (keadilan)/keseimbangan. (ayat delapan ) Supaya kamu jangan melampaui batas neraca itu..
Terima kasih sudah mengunjungi blog saya…