Cinta, kasih sayang dan tanggungjawab mempunyai gradasi yang berbeda. Diibaratkan sebagai lautan, tanggungjawab merupakan permukaan lautan. Deburan gelombang, kerihuan riak-riak merupakan ornamen yang menghiasi permukaan. Demikian juga kalau kita melakukan setiap langkah dengan tongkat tanggungjawab. Terasa berat….
Kasih sayang sebagai di tengah kedalam laut. Bisa menyaksikan hiu hilir mudik atau binatang-binatang laut lainnya. Tetapi keindahan sebuah lautan hanya kita dapatkan pada laut yang terdalam. Karang, ikan dan segenap pernak perniknya….Cinta, berada pada laut terdalam..
Cinta menduduki level tertinggi dibanding kasih sayang dan tanggungjawab. Nabi Muhammad mencintai umatnya, Rumi, mencari dan menulis Jalan Menuju Cinta, Anand Krishna berbicara tentang cinta untuk mencapai titik nadir dalam hidupnya, Mahatma Gandhi dengan mencintai negaranya dia ada.
Kalau kita mencintai, di dalamnya ada kasih sayang dan tanggungjawab. Kalau kita mengasihi dan menyayangi, di dalamnya ada tanggungjawab. Kalau kita melakukan sesuatu atas dasar tanggungjawab, di dalamnya belum tentu ada cinta dan kasih sayang.
Mencintai berarti melakukan segala hal dengan sepenuh hati. Karena bukan cinta namanya kalau tidak dilandasi sepenuh hati. Buku-buku biografi dan otobiografi orang sukses dapat ditarik seutas benang merah yaitu begitu dalam sesorang yang telah berhasil menebar makna karena kedalaman cinta atas pekerjaannya. Seorang ibu yang berhasil menghantarkan putra putrinya menjadi orang yang berhasil dalam menebar makna dalam kehidupannya pastilah seorang ibu yang tidak hanya sekedar bertanggungjawab, tetapi juga mempunyai kedalaman cinta terhadap putra-putrinya.
Cinta kepada makluk dibumi adalah perwujudan cinta kita kepada Sang Pemilik Kehidupan. Cinta ada kalau ada dua hal yaitu keikhlasan dan rasa syukur. Keikhlasan dan rasa syukur merupakan bekal menuju hakikat cinta…
Keikhlasan seperti apa…yaitu keikhlasan ketika kita sudah melakukan ikhtiar dan doa. Serta beryukur atas apa saja yang menjadi “sajian” kita. Sajian atau bagian kita terdiri dari dua sisi seperti halnya sekeping mata uang, seperti halnya neraca, seperti halnya bergulirnya pagi menuju malam. Sisi positif dan sisi negatif, debet dan kredit. Kita tidak bisa menolak malam untuk sampai pada pagi, kita tidak bisa menolak negatif untuk menjadi positif, kita tidak bisa menolak kesusahan untuk mendapatkan keberhasilan. Seorang murid tidak bisa lulus ujian kalau menolak bersusah susah belajar. Dan juga, kita tidak dapat naik ke tingkat yang lebih tinggi kalau menolak kesulitan menghadapi ujian kenaikan tingkat. Hidup merupakan sebuah paket. Bersyukur atas paket kita, merupakan perjalanan menuju cinta…
Dua buah kata yang biasa kita lafalkan tetapi begitu sulit mengimplementasikan….bersyukur dan ikhlas…
Tahukah kawan, hari ini saya mengunjungi kerabat…sungguh menyedihkan, di jaman modern seperti sekarang ini, aku masih menyaksikan perjuangan Ibu Kartini belum selesai. Aku menyaksikan seorang istri yang harus merawat anak-anaknya dan anak-anak dari madunya. Dimadu saja bukan hal yang ringan dan ini Tanpa pilihan. Ini bukanlah contoh keikhlasan…ini bukan contoh rasa syukur….ini bukan bukti sebuah cinta…ini adalah contoh ketidakberdayaan….persis seperti yang dialami oleh ibundanya Ibu Kartini. Air mataku bergulir dan aku tersedu diperjalanan hingga tiba di rumah.
Sambil tersedu aku berfikir, lantas paket seperti apa yang kita syukuri. Apakah contoh tersebut sebuah paket yang harus dia terima?
Sisi hatiku yang lain mengatakan, paket yang harus kita syukuri dan ikhlas kita terima kalau kita sudah berikhtiar dan berdoa….Begitulah cara mencintai….I Gede Prama mengatakan, mencintai diri sendiri adalah langkah awal mengembangkan sayap-sayap cinta kita…Mencintai diri sendiri berarti menerima dan maklum atas segala kekurangan diri serta tidak mendzolimi diri sendiri. Menerima yang tidak bisa dia terima adalah pendzoliman atas diri sendiri.
Kawan, aku hanya bisa tersedu, berbicara dan berfikir dalam memaknai cinta…melaksankannya… tidaklah mudah….
Selamat mengembangkan sayap-sayap cinta…untuk mendapatkan CINTANYA….
salam manis
Satu lagi tulisan mbak Ririn yang membuat diriku merinding…..
Mbak Ririn, saya setuju dengan tulisan mbak mengenai cinta, memang benar dalam sebuah cinta ada kasih sayang dan tanggung jawab, dan dalam kasih sayang ada tanggung jawab.
Mbak Ririn, kadang-kadang kita tidak dapat mengelak dari apa yang menjadi kehendak Sang Maha Pencipta, seperti keadaan teman mbak yang mbak ceritakan, tp sebenarnya seperti komentar mas (Pak) Buandel Usyil bahwa hidup itu pilihan, jadi ya kita sebenarnya bebas memilih apa yang menjadi pilihan hidup kita. Benar juga yang mbak Ririn katakan kita harus banyak memohon kpd Sang Pencipta, berusaha dan beriktiar agar “paket” kehidupan yang diberikanNya kpd kita bisa membawa kita bahagia….Nah, salah satu cara untuk kita hidup bahagia adalah selalu bersyukur atas karunia yang telah diberikanNya kpd kita sampai saat ini….
Salam
Oleh: Tipri Rose Kartika on Mei 3, 2009
at 11:43 am
Terima kasih atas komentarnya Dik….kalau sy masih melihat dan menyaksikan air mata kerabat saya, maka saya berpendapat itu bukan pilihan, itu sebuah keterpaksaan. Setiap pilihan adalah menerima konsekuensi, sebuah pilihan adalah sebuah ikhtiar dengan dibarengi doa. Sebuah pilihan adalah “paket” kehidupan yang tersaji untuk kita. Pada “paket” seperti itulah kita menggenggam erat dua hal yaitu ikhlas dan bersyukur.
Mas Buandel Usyil setuju dan mendukung pendapat saya bahwa kemajuan perempuan adalah ketika kita bisa melakukan pilihan.
Dik Tipri, pada sebuah pilihan tidak boleh ada air mata…keterpaksaan, dipenuhi linangan air mata..
Diskusi kita ini lebih menyempurnakan pemikiran tentang cinta…tks ya…Mas Buandel Unyil mana komentarnya?…
salam manis
Oleh: ririnwulandari on Mei 3, 2009
at 7:20 pm
Hehehehe,, mba Ririn,,, saya pingin yakin dulu sahabat mbak yang bercucuran air matanya itu maksudnya “menangis karena sedih dan luaraaaaa” atau “menangis karena rasa syukur dan buahagiaaa”??? hehehe, soalnya saya pernah melihat seorang wanita yang menangis,, tetapi itu ungkapan bahagia dan syukur…..,
Bagi saya simple aja,,, kalau sudah benar2 “PILIHAN-nya”, ya semestinya dijalani dengan iklas, syukur, dan upaya maksimal untuk menjadikan apa yang dipilihnya itu membawa kebahagiaan,,,,bahwa nantinya “PILIHAN” bisa juga salah,,, ya santai aja,,, artinya akan dihadapkan pada “PILIHAN” baru lagi: mempertahankan PILIHAN-nya atau mengambil alternatif PILIHAN lain,,,,, kata Gus Dur,, “gitu aja koq repot!”. Lebih baik mengambil PILIHAN dan ternyata salah (asal segera dilakukan koreksi) daripada tidak pernah berani mengambil PILIHAN sama sekali…
Masalahnya akan timbul jika sudah menyadari bahwa PILIHAN-nya itu ternyata tidak lagi menjadi apa yang diinginkannya,, dan masih ragu untuk mengambil keputusan akan PILIHAN yang baru,, dan terus menerus meratapi PILIHAN-nya,, ya itu namanya,,, tidak adil terhadap diri sendiri (tapi kalau memang itu yang dimauinya,, ya berarti sudah menjadi PILIHANNYA,, dan nga boleh dong menangis!!),, sejauh bukan mudah menangisi PILIHANNYA yang disebabkan bukan karena pilihan itu yang salah,, tetapi karena dirinya TERLALU MUDAH MERUBAH APA YANG DIINGINKANNYA,,, (ya kalau yang gini apapun akan gampang kecewa – ini kategori yang sulit bersyukur…., merasa bisa menggapai apapaun yang diinginkannya,,dan cepat merasa bosan/tdk puas dengan PILIHANNYA).
Yang saya turut prihatin adalah,,, buanyakkkkkk yang tetap mempertahankan PILIHAN-nya yang jelas-jelas menyiksa batinnya,,,,,, hanya karena bimbang menentukan PILIHAN lainnya…,,, (terus berlindung dibalik kata2 “ini sudah kehendakNya — ya kalau yang ini,, saya hanya bisa prihatin,,).
Sorry,, topiknya terlalu berat buat saya,, jadi ya komentarnya “mbuletttttt”,,, dan “nguawurrrrr” lagi!!,, hehehe,, sukses buat mba Ririn dan dik Tipri untuk PILIHAN hidupnya,,,,,
Oleh: Buandel Usyil on Mei 4, 2009
at 4:18 am
Sayangnya tidak ada kamus cinta nyang pas di dunia ini mbak Ririn
, kecuali dalam Alqur-an, contoh :
7:24, 24:26
Infonya menyentuh banget mbak.
Oleh: Wandi thok on Mei 25, 2009
at 10:50 pm
masih ingat teori kita tentang cinta Bu, bahwa cinta adalah FATAMORGANA
Oleh: Rindu on Agustus 29, 2009
at 1:17 am
Mbak Ririn, saya setuju dan terharu membaca tulisan mbak, tapi, apa para bapak-bapak setuju dengan tulisan mbak ya? karena saya masih tak habis pikir kenapa masih ada juga perselingkuhan, sementara kata-kata cinta masih saja diumbar. Jika cinta itu seperti yang mbak tuliskan, pasti tak ada kata mendua dan dimadu.
Oleh: Rina Arifati on November 12, 2009
at 12:17 am
Rina..biarkan saja mereka menentukan cara hidup dan pilihan hidup…tetapi kita juga punya cara dan pilihan hidup…mari kita mulai dari diri kita untuk menentukan cara dan pilihan hidup kita dg sebaik-baiknya dan tentu saja bermanfaat dan bermakna bagi berbagai pihak terutama bagi diri kita….
Oleh: ririnwulandari on November 12, 2009
at 6:22 am