Oleh: ririnwulandari | April 22, 2009

Selamat Hari RA Kartini….

Hari ini, tanggal 22 April 2009, begitu ingin aku menulis tentang peringatan RA Kartini….kali ini aku mengesampingkan keinginan yang lain. Apalagi kemarin, pagi, ketika matahari masih enggan muncul, pembantuku membawa kertas orange dengan bentuk hati…Bu, ini dari Adik…aku membacanya, dan mengingatkanku bahwa tgl itu adalah tanggal 21 April 2009. “21 April is Kartini day. I’m sorry if I make you sad etc. I Love you mom! Mom, happy Kartini Day”. Begitu tulisnya. Aku hampiri, dan kukatakan bahwa ini adalah harinya juga…bahwa ini adalah harinya perempuan. I love you too my darling….Belajar yang rajin ya…supaya engkau adalah salah satu perempuan yang mempunyai banyak pilihan dan menjadi wanita yang hebat….
Kubuka FB, di status seorang teman berbunyi sebagai berikut: Apalagi ya gagasan Kartini yang yang belum terwujud. Aku tidak sempat mengomentari walapun kalimat2 sudah menggumpal dipikran siap untuk dituangkan. Persiapan untuk mengajar dapat melupakan keinginan tersebut. Di kampus, beberapa teman Dosen perempuan memakai pakaian semi kebaya, ada yang batik, tenun dan border. Sambil menuju kelas aku bertanya? Lho kok pada rapi? Salah seorang teman menjawab… hari ini Hari Kartini khan? Oh.iyaa…wooo.. aku bingung, kenapa kita merayakan Hari Kartini dengan memakai kain kebaya?…Pertanyaanku berhenti di batas pemikiran saja…kami terburu-buru masuk kelas masing-masing.
Menjelang tidur, aku baru sempat membuka-buka Koran pagi….artikel tentang Hari Kartini menjadi headline sebuah harian pagi…Iya..ya…hari ini adalah Hari Kartini pikirku…dan kembali aku “menelan” pikiran tersebut, karena aku lebih memilih tidur…hari itu demikian melelahkan.

Hari ini aku membuka laptop dengan niat yang pertama, untuk menulis tentang Hari Kartini. AKu yakin sebelum menulis tentang hal itu, aku tidak bisa mengerjakan hal lain.
Hari Kartini, saat ini tidak hanya kusikapi dengan mempersiapkan baju…tidak berfikir dengan berpuas diri mengingat Perempuan Indonesia demikian mengalami kemajuan pesat di berbagai bidang pekerjaan dan berbagai disiplin ilmu.

Apa perjuangan RA Kartini?….Bukankah perjuangan RA Kartini sekedar konsep? Belum memberikan bukti nyata seperti pejuang perempuan Indonesia lainnya, demikian pendapat seorang perempuan yang kita kenal namanya. Menurut saya, ada yang salah dalam pemikiran tersebut. Hari RA Kartini pantas diperingati, RA Kartini sangat pantas sebagai pahlawan emansipasi perempuan. Walaupun hasil karya terbesarnya adalah hanya sebatas pemikiran yang tertuang pada sebuah buku “Habis gelap terbitlah terang”. Pemikirannya bukan pemikiran yang biasa bagi kalangannya, bagi kaum perempuan di jamannya. Pemikirannya adalah sesuatu yang luar biasa, dasyat dan spektakuler. Pemikirannya merupakan benih yang tumbuh dan menjadi pohon dengan banyak ranting seperti sekarang. Tanpa adanya benih tersebut, tidak akan pernah ada pohon rindang seperti sekarang ini.
Benih yang ditebar RA Kartini adalah:
• Penolakan terhadap poligami dan perbedaan status kebangsawanan serta penolakan terhadap diskriminasi perempuan dan pria.
• Supaya perempuan dapat menghindari poligami dan tidak dibedakan berdasarkan status kebangsawanannya, maka solusi yang diupayakan adalah meningkatkan pendidikan perempuan.
• Pendidikan perempuan menurutnya adalah solusi agar perempuan mempunyai pilihan dan dapat disejajarkan dengan pria.
Mengapa ‘benih’ tersebut merupakan pemikirna yang spektakuler atau luar biasa pada saat itu?
• RA Kartini adalah seorang perempuan yang berasal dari golongan bangsawan. Empatinya terhadap Ibunya yang bukan bangsawan demikian menyentuh hati. Bagaimana kesedihan yang harus ditanggung menyaksikan Ibunya harus seatap dengan madunya yang seorang bangsawan. Bagaimana Ibunya harus mengalami diskriminasi status kebangsawanan, dan kesedihasn dimadu. Di sisi lain bagaimana RA Kartini juga memiliki empati mendalam terhadap Ibundanya (Ibu tirinya) yang karena status bangsawannya dipilih sebagai seorang ‘permaisuri’ dan bertanggungjawab terhadap semua anak-anaknya, termasuk anak dari madunya. Kalau beliau ‘orang biasa’, maka keadaan tersebut tidaklah melahirkan pemikiran-pemikiran pemberontakan. Karena bagaimanapun fasilitas yang diterima adalah fasilitas kelas satu di jamannya. Empati luar biasa yang mengalahkan kenikmatan sajian ‘kelas satunya’.
• Saat itu, RA kartini mempunyai solusi bagi kaumnya, yaitu meningkatkan pendidikan. Dia ingin menjadi contoh bagi kaumnya. Perjuangannya untuk hal itu menemui jalan buntu. Di jamannya, maupun jaman sekarang, menemukan solusi atas sebuah masalah tidaklah mudah. Apalagi dilakukan oleh seorang perempuan, di jaman perempuan dipandang sebagai sebuah objek ketimbang subjek. Apalagi sebuah solusi untuk kepentingan kaumnya. Perempuan harus meningkatkan pendidikannya adalah sebuah solusi yang luar biasa.
• RA Kartini berpendapat, dengan perempuan dapat meningkatkan pendidikannya, maka perempuan tersebut dapat menentukan pilihan hidupnya. Dengan demikian perempuan dapat disejajarkan dengan kaum pria. Emansipasi merupakan solusi yang ditawarkan.
Apakah pertanyaan seorang teman FB di atas dapat kita jawab? Apalagi ya gagasan Kartini yang belum terwujud…..? Demikian ditulis dalam statusnya. Saya tidak perlu menjawabnya di sini. Kemajuan perempuan di Indonesia tidak dapat diragukan lagi. Tetapi apakah dengan pendidikan yang tinggi perjuangan melanjutkan pemikiran RA Kartini selesai? Apakah perempuan tidak lagi berkutat di dapur dan tidak terkungkung di rumah untuk mengurus urusan rumah tangga, sebuah kecukupan dari perjuangan? Apakah hampir di semua lini dan profesi kehadiran kaum perempuan diperhitungkan sudah mencukupi cita-cita RA Kartini?, Apakah emansipasi telah terwujud di Indonesia?
Lantas, mengapa segudang masalah perempuan masih menghadang? Kekerasan, minimnya akses pendidikan. Kesehatan reproduksi, sumber daya ekonomi dan perdagangan perempuan (trafficking) masih menjadi isu yang diperjuangkan oleh LSM, organisasi perempuan serta kaum feminis dan masyarakat pemerhati perempuan?
Artinya perjuangan perempuan masih panjang. Dan hari ini, satu hari setalah perayaan Hari RA Kartini di tahun 2009 ini, aku memilih memikirkan dan menuliskan hal ini dibanding harus mengenakan baju yang sama dengan RA Kartini. Aku ingin memakai “semangat”nya saja dibanding bajunya. Selamat Hari Kartini…..

Salam manis
Ririn Wulandari, 22 April 2009


Tanggapan

  1. Ohhhhh ternyata Hari kartini tu maknanya kaya gitu tho mbak,,,,,?? saya malah baru tau,,,,, jadi kalau kaum perempuan berpendidikan setara dengan kaum lelaki, harusnya tidak ada lagi poligami, tidak ada lagi diskriminasi dalam segala hal,, (karena sama-sama memiliki PILIHAN). Benar juga sich logikanya,,, mudah2an tetap terjadi keseimbangan jumlah kaum lelaki dan perempuan secara merata di seluruh dunia ya mbak,,,,. yang saya takutkan jumlah salah satu jenis melebihi yang lainnya,, bisa2 poligami dan atau poliandri terjadi karena ketidakseimbangan,,,,, (atau kalau nga seimbang ya mudah2an banyak kaum perempuan dibandaing dengan lelaki,,,, coba bayangkan kalau banyak lelakinya) hehehehe TAPI TUHAN PASTI ADIL sich,,,,. Yang saya pasti setuju adalah, dengan pendidikan lebih baik, kaum perempuan memiliki PILIHAN,, yang sama dengan kaum lelaki,,, jadi ya,, sejauh itu pilihannya,,, mau di dapur, mau urus anak, mau karir, mau punya “laki-laki cadangan”, mau “berbagi tempat di hati satu lelaki”, mau “membagi tempat dihatinya untuk banyak lelaki”,,, mau “sehidup semati hanya untuk satu hati”,,, wiss pokoke mau apapun asal itu PILIHANNYA,, (dan diterima secara agama, hukum dan budaya) ya berarti Kartini berhasil,,,, SELAMAT MENGAMBIL PILIHAN TERBAIK DALAM HIDUP,, apapun itu!!!,, dan saya mengucapkan “selamat merayakan hari Kartini” untuk kaum perempuan di seluruh dunia…
    Sukses ya mbak,,, !!

  2. Mas Buandel Usyil…ha..ha…aku harus ngobrak-ngabrik blog ini unt mengetahui siapakah Mas buandel Usyilll…akhirnya aku tahu…Ya sudah..sebelumnya selamat mulai menyelesaikan proposal disertasi…sdh dapat pembimbing khan?

    Terima kasih atas tanggapan dan komentarnya….sungguh menjelaskan apa yang ingin saya jelaskan…ha..ha….itulah kesempatan untuk mengambil pilihan yang semakin terbuka bagi perempuan..tentu saja atas perjuangan Ibu Kartini…

    Tapi yang terjadi, banyak perempuan tidak berpendidikan maupun berpendidikan tidak dapat menentukan pilihannya…berbagai faktor menjadi alasannya…akibatnya LSM, Organisasi feminism, Menteri Pemberdayaan Perempuan masih sangat diperlukan di Indonesia ini….

    Terima kasih Mas…..jangan bosan2 mengunjungi blog saya ya….

  3. Mbak Ririn, selamat hari kartini walaupun terlambat, tdk apa2 ya mbak. Tanggapan dari mas buandel and usilll boleh jglah. Kayaknya orgnya mmg buandel and usill ya mbak. Sukses ya mbak

  4. Sama-sama Dik…..ya begitulah….Mas Buandel and usil bukankah penggemarnyan dik Tipri?….ha..ha…sukses juga ya….Tks..Dik..sudah berkunjung

  5. Bu Tipriiiii,,,, mohon maaf ya,, saya tidak bermaksud “membuandel-in dan mengusyil-in” siapapun dengan tanggapan saya diatas,,,,,, “habis sudah terlanjur terlahir jadi buandel dan usyil gini mau diapain lagi”,,, hehehehe,, tapi bener kata mbak Ririn,, saya buandel tapi juga merupakan salah satu (saja) dari sekian buanyakkkkkk penggemarrrr, pengagummmmmm, pemerhatiiiiii…(apa lah namanya) untuk ibu Tipri,,,,,

    Mau ralat aja,,,, mungkin kalau untuk ibu Tipri,,, saya bukan “Mas Buandel” lagi,, tapi “Pak,, atau Opa Buandel”,,, hehehehe,,,(double digit different),, kalau sama “mbak Ririn” ya ok lah “Mas Buandel” agak pantes,,,,masih “single digit different – kayaknya sich”,, hehehe – klo salah “minta maaf ya mba Ririn”! – age doesnt matter!.

    Sukses untuk semuanya….,

    Mbak Ririn,,, ditunggu lagi ya tulisannya,, klo bisa yang membangkitkan semangat,,, krn diriku baru drop,, males mikirin sekolah,,, takut DO aja,, (malu sama cucu).. hehehehehe


Beri tanggapan

Your response:

Kategori