Sebuah pagi… jatuh dihadapanku…burung tekukur warna putih diselingi coklat muda…
Sebelah sayapnya terluka..
yang membuatku luka adalah sepasang matanya..
Sepasang mata yang menyiratkan ketidakberdayaan….
Sebuah pembelajaran yang terlambat..
Bagaimana mencari…pengisi perut…
Dan pagi itu aku memungutnya..membelainya…dan memberinya kandang yang nyaman..
tanpa berani memandang matanya…
Jatibarang, 2002
hehehe, mbak Ririn, aq jadi ingat bait lagu “wahai kau burung dalam sangkar”,,, takutnya mbak Ririn berbuat baik, ngasih kandang/sangkar yang bagus,, eeeeeh, ternyata semakin membuat burung itu sedih,,,, jangan2 pinginnnya tetap hidup dalam kebebasan meskipun sulit mencari makan,,,,. Susah ya,, kita terkadang membantu berbuat kebaikan,, tetapi belum tentu diterima oleh yang kita bantu demikian adanya,,,,, (resikonya kalau hanya bisa megandalkan dari sorot mata – krn burung nga bisa bicara,,,,, kita bisa salah duga),,, Mudah2an burung itu bahagia adanya,,,, di sangkar barunya…..sebaiknya mbak Ririn perhatikan lagi sorot matanya,, sudah berubah jadi bahagia belum???? hehehe,,,, – koq malah aq repot ngurusin burung gini,,,, habisnya nunggu pembimbing belum juga dapet,,,. Sukses ya mbak!,,,,,
Oleh: Aris on April 15, 2009
at 12:19 am
Tadi pagi aku denger burung..lewat dihalaman, aku jadi ingat burung tekukurku….langsung saja aku buka file nyari puisi ttgnya…itu kejadian beberapa thn yll….burung tekukurku sdh mati pd thn 2007…kelihatannya bahagia tuh….setiap aku masuk rumah…atau bangun tengah malam…selalu disambut dg suara merdunya…he…he…
Ketika burung tsb mati…seisi rmh takut menyampaikan kabar duka …anakku yg waktu itu kelas 2 mengatakan begini: Mama, kata teacher, segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT….itu adalah yg terbaik..mungkin kalau terus hidup akan membawa virus flu burung…
Ha…ha…ha..bicara ttg tekukur..ada dua pelajaran yg kupetik….ketika aku mendapatkan dan ketika aku kehilangan…
Sabar Mas….semakin kita ingin mendpatkan..semakin terasa tk tergapai…kita buang dulu keinginan tsb…dan kita masuk pd area titik nadir…(teorinya begitu..aku juga sulit melaksanakannya)….Tp sy berdoa smg cepat dapat pembimbing ya….sukses…dan terima kasih sdh singgah…
Oleh: ririnwulandari on April 15, 2009
at 5:16 am
kata2nya siiiip…lam kenal mba..
Oleh: rizalihadi on April 15, 2009
at 3:17 pm
Terima kasih Rizal…salam kenal juga ya…blognya bagus..puisi kunang2 sy suka…
Oleh: ririnwulandari on April 16, 2009
at 6:49 am
Saya jadi teringat sahabat saya yang menamakan dirinya burung pipit, yang ketika cinta melukai dan membasahkan sayapnya, dan saya berusaha mengeringkan sayapnya agar ia bisa kembali terbang ….
Kini setalah sayapnya kering, ia lupa pada saya yang mengeringkan sayapnya…
ah, barangkali memang manusia tak beda dengan burung ya bu?
Oleh: Rindu on April 18, 2009
at 8:51 am
NB: Bu, mohon maaf belum sempat datang untuk bimbingan maupun belajar hidup karena sayap saya sedang basah dan tak mampu mengepak…
I miss you, so miss you …
Oleh: Rindu on April 18, 2009
at 8:52 am
Rindu….setelah melakukan kebaikan..lupakan kebaikan tersebut…Itu adalah Jurus Ikhlas…
Biarkan takseorangpun menghitung kebaikan kita..karena Allah SWT Maha Tahu….
Jangan biarkan sayap kita basah dan tak mampu mengepak..jangan biarkan orang lain melakukan hal itu..keringkan segera…dan mengepaklah dengan indah…untuk berkarya, berkreasi dan menebar makna di sana sini….
Aku tunggu kepakan sayapmu….waktu mengejar kita…jangan biarkan kita ada tetapi tidak ada….jangan biarkan kita ada tanpa makna…Dg cara itu kita mengungkapkan kerinduan dan kegamangan pada siapapun atau apapun…
Salam manis selalu….
Oleh: ririnwulandari on April 18, 2009
at 6:43 pm
Kenapa mbak Ririn nggak berani memandang mata burungnya si Tekur?
Oleh: Wandi thok on Mei 25, 2009
at 10:55 pm
Mau dong aku jadi burungnya mbak
@@@@ Huzzt… kurangajar koe ndi railok tau @@@@
Oleh: Wandi thok on Mei 25, 2009
at 10:58 pm