DiK Tipri memberi komentar tentang “Indahnya memahami”…..menurutnya “pria juga harus memahami perempuan”…Aku perlu menjawabnya di sini, tidak di kolom tanggapan komentar karena…berdasarkan tanggapan tersebut…aku ingin menulis tentang perempuan dan pria
Apakah perempuan ingin dipahami seperti halnya pria?…jawabannya adalah iya…tetapi itu bukan kebutuhan utama. Kebutuhan utama perempuan adalah dicintai dan mendapatkan rasa aman dan nyaman. Rasa dicintai, rasa aman dan nyaman mengandung pengertian yang komprehensif…
Rasa dicintai menumbuhkan percaya diri yang luar biasa dan menimbulkan perasaan nyaman dan aman bagi seorang perempuan. Perasaan aman dan nyaman tidak hanya ditimbulkan oleh “rasa dicintai” tetapi ditimbulkan juga oleh rasa percaya terhadap pasangannya, minimalnya rasa takut ditinggalkan, serta tercukupinya kebutuhan jiwa dan raganya…
Perempuan, apabila mendapatkan tiga hal rasa seperti tersebut lengkaplah dunia baginya….tetapi apakah memang dunia sudah lengkap bagi kita?…Kitalah yang mencari kelengkapan tersebut….karena keberadaan kita memang mencarinya….hingga ujung waktu…
Mencarinya tidak dengan mengkais-kais sepanjang koridor kehidupan, tidak di bawah selimut-selimut kehangatan, tidak di ranah steril, tidak di gegap gempitanya kota tak berperasaan, tidak di keheningan atau semrawutnya sebuah rumah….tetapi cukup dengan memberi pemahaman kepada jiwa nan unik…jiwa nan unik itu adalah sang pria….pemahaman kepada jiwa nan unik bukanlah kebutuhan dasar seorang perempuan, maka berikan saja kepada sang pria..
Memberi dulu bukankah lebih baik dari pada meminta terlebih dulu?…maka kita berikan saja pemahaman itu lebih dulu…selanjutnya kita akan menerima cintanya, rasa aman dan nyaman darinya…
Wahai Pria, cintai dia sang perempuan dengan segenap jiwamu, berikan rasa aman dan nyaman…maka engkau akan mendapat pemahaman darinya….Bukankah memberi telebih dulu lebih baik dari pada memberi kemudian setelah meminta terlebih dulu?
Betapa indahnya sebuah keluarga, bahkan negara…apabila diantara perempuan dan pria berlomba-lomba untuk memberi terlebih dulu…maka perempuan sebagai tiang keluarga, tiang agama/ annisa’u imadul bilad (menurut komentarnya sang mantan kyai) dan tiang negara tidaklah “bergoyang goyang” justru berdiri tegak dengan indahnya….tidak menggoyangkan negara, tetapi justru menguatkan dan memperindah negara..
Aku….seorang perempuan….merupakan sebuah kenyataan….tetapi belum tentu sebuah kebenaran….apakah aku bisa memberi terlebih dulu….
AKu….hanya perempuan yang bernama ririnwulandari
Mbak Ririn, saya pribadi setuju dengan tulisan mbak yaitu perempuan akan sangat bahagia bila ada rasa dicintai, rasa dipercaya dan terpenuhinya kebutuhan jiwa raga. Tulisannya itu menyebutkan bahwa kita sebagai perempuan harus memahami dan memberi pemahaman dahulu daripada minta dipahami, tetapi sampai kapan ya mbak?? Menurut saya, semua ada batasannya karena kita juga butuh tumbuh dan berkembang, jadi harus ada jangka waktunya, kalau seumur hidup maunya diberi pemahaman terus, tanpa ada perubahan dari pria untuk juga berusaha memahami ya susah mbak Ririn……Hehehehehehhehe, apalagi jika faktor yang terakhir tidak pernah diberikan hehehehehe
Oleh: Tipri Rose Kartika on Agustus 31, 2008
at 9:40 pm
Sampai kapan…? Aku nggak bisa menjawab pastinya…kira-kira sampai kita tahu tanda-tanda dari Allah SWT bahwa kita perlu mengambil jalan lain…..sebelumnya kita mesti sabar dan berdoa lebih dulu…niscaya Allah SWT akan memberikan petunjuk itu….
Ketika petunjuk itu datang…maka kita akan mantap memilih jalan itu….dan ketika jalan apapun yang kita pilih…sebuah kesederhanaan berfikirlah yang harus mengiringinya…
DIk Tipri….aku perempuan bernama ririnwulandari….hanya berbicara sebatas teori?…mungkin iya mungkin tidak..(halah..semakin ngawur saja)
Oleh: ririnwulandari on September 1, 2008
at 4:13 pm
hmmm…, perempuan adalah bidadari
itu dulu kali
duhhh…, kini
perempuan hanyalah lubang birahi
Oleh: Apandi on September 7, 2008
at 1:18 am
He….he….Bung Apandi….perempuan masih seperti dulu, ada yang bak bidadari dan ada pula hanyalah sebagai lubang birahi….
Oleh: ririnwulandari on September 7, 2008
at 9:42 am
Saya sependapat sekali dengan tulisan Mbak Ririn, jika wanita dicintai dan merasa aman dia akan bahagia dan ketika wanita bahagia saya yakin bisa membawa keluarga dan seisi rumah serta lingkungan menjadi bahagia. Terimakasih
Oleh: yulism on September 7, 2008
at 1:49 pm
Betul Mbak Yulis, tapi bagaimana kalau wanita tidak merasa aman dan tidak merasa dicintai?…Temans banyak menanyakan hal ini….jawabanku adalah…disikapi dengan kesabaran dan ketulusan pada rentang waktu tertentu dengan harapan Alloh akan membalik dan memberikan hal yang kita harapkan….ini adalah konsep jawa ya mbak…bagaimana dengan konsep di sana?..terima kasih…
Oleh: ririnwulandari on September 8, 2008
at 8:14 am
tulisannya bagus. tks, bisa nambah referensi. kayanya bener2 dari hati yg paling dalam ini ya…
Oleh: nunoe on September 10, 2008
at 9:32 am
Terima kasih….semua yang saya tulis di sini meluncur begitu saja…Alhamdulillah kalau bermanfaat…
Oleh: ririnwulandari on September 11, 2008
at 3:01 am