Kalau aku berbicara terlalu banyak dan disertai konsep yang ideal di depan kelas, di blog ini, di milis ataupun diantara diskusi-diskusi tidak formal apakah aku lantas demikian sempurna? Apakah aku lantas pontang panting memoles diri agar “jerawat”, “kutil-kutil” menjadi bias ditimpa berbagai “kosmetik” agar aku nampak sempurna?
Aku tidak akan melakukan hal itu…aku akan berjalan dalam kehidupan ini dengan apa yang menurut hati nuraniku benar….aku tidak peduli dengan berbagai kelemahan yang mengiringi setiap mahluk hidup. …Aku biarkan saja kelemahanku yang ada, walau bukan berarti aku tidak berusaha menuju kebenaran sejati. Aku biarkan diriku berjalan dengan kelebihan dan kebenaran dengan disertai tujuan mencapai kebenaran sejati.
Perjalananku adalah perjalanku sendiri…..Aku biarkan saja orang sibuk menilai diriku dengan parameter parameter yang menurut dirinya benar…..Aku toh harus tetap berjalan menuju tujuanku…Mereka tidak peduli bagaimana aku terseok-seok, bagaimana aku tertawa, bagaimana aku kesakitan, bagaimana aku tersenyum, bagaimana aku bahagia dan bagaimana aku bersedih…mereka tidak peduli atas semua itu…Dengan demikian bukankah aku harus mencari bentuk diriku, bentuk penyelamatan diri atas medan yang begitu banyak tantangan seperti ini? Mencari bentuk dalam menyikapi perjalanan kehidupan….
Kini aku tahu mengapa Chairil Anwar menulis puisi dengan judul “AKU”. Bukan karena aku telah membaca sekelumit perjalanan hidup Chairil Anwar lewat sebuah buku yang tipis…Tetapi aku memahami ketika merenungkan hal ini…merenungkan perjalananku….merenungkan perjalanannya…dan perjalanan mereka…
Aku ya…beginilah diriku….begitu tentramnya diriku membiarkan diriku apa adanya seperti ini…….
Bagian dari rasa syukur adalah menerima AKU ini bu …. menerima kita apa adanya. Sebagimana adanya
Oleh: Rindu on Agustus 7, 2008
at 9:22 pm
Betul..sekali…tks
Oleh: ririnwulandari on Agustus 8, 2008
at 1:41 am