Siang sampai petang kemarin Prof Dr Gumbira Sa’id membawakan materi pendahuluan Filsafat, Sistem Nilai dan Etika Keilmuan dalam Hubungannya dengan Etika Bisnis dengan bagus…aku lihat wajah-wajah berfikir, menyerap dan menganalisa paparan beliau. Sementara itu kantukku yang amat sangat tidak bisa dhibur dengan paparan beliau yang menggelitik pemikiran. Aku kadang tanpa sadar memejamkan mata dan terlelap beberapa detik. Kantukku kali ini bukan karena bosan tetapi kali ini disebabkan keinginan luar biasa untuk sejenak tidur. Mengapa ada keinginan seperti ini diantara materi kuliah yang memang sudah aku tunggu? Jawabannya sederhana..aku kurang tidur… malam sebelumnya jarum jam sudah menunjukkan angka 02.30 tetapi mata ini belum juga terpejam…dan beberapa menit kemudian aku sudah dalam keindahan tidur yang nyaman….terbangun ketika azan masjid berkumandang…, selain itu..siang itu adalah siang yang tentram dan nyaman untuk tidur sejenak. Kalau siang hinggga petang ini hanya diwarnai ketidaksadaran yang berlangsung beberapa detik seperti ini…merupakan hal yang patut disyukuri karena aku masih bisa menyerap dan berfikir tanpa diliputi kelelahan…
Pertanyaan yang menggelitik dari beliau adalah apa output dari proses memperoleh gelar doktor seperti ini? Kantukku lenyap…pikiranku melayang ke suatu masa..puluhan tahun yang lalu…pagi ketika aku bertanya pada Bapakku..Bapak yang sedang membaca di meja kerjanya dengan ditemani kopi kental dan rokok kreteknya sejenak menghentikan aktifitas rutin paginya….terhenyak oleh pertanyaan anak berumur 13 tahun…Untuk apakah aku hidup? demikian pertanyaan yang menghentikan sejenak isapan rokoknya…”untuk menjadi bermakna anakku”…demikian jawabnya..seperti apakah menjadi bermakna? tanyaku lebih lanjut..”memberikan manfaat”…aku mengejarnya lagi dengan pertanyaan lanjutan…”semua bidang pekerjaan memberikan manfaat, petani bermanfaat menghasilkan bulir-bulir beras…demikian juga yang lain”….Bapakku terdiam..menghisap rokoknya dalam-dalam, menikmati kopi kentalnya dengan perlahan dan sepenuh hati..aku memandangnya tak berkedip dan menunggu jawaban selanjutnya. Bapak meletakkan rokoknya di asbak dan memandangku penuh sayang seraya berkata…”memberikan manfaat sepanjang masa…bermanfaat sampai kita hanya sekedar nama”.
Pagi itu adalah pagi ketika aku bertekad untuk belajar keras dan bercita-cita menjadi insinyur yang membangun gedung gedung sebagai simbol kemajuan peradapan. Bukankah dengan membagun gedung? Aku dapat menghasikan sesuatu yang bermanfaat sepanjang masa…
Pencarianku terus berlanjut….realita yang merupakan jawaban pertanyaanku berubah-ubah bentuk…Kini aku bukanlah seorang insinyur…apalagi membangun gedung. Tapi upayaku untuk menjumputi makna terus berlangsung..bukankah memungut gelas bekas mineral water di anak tangga kampus merupakan sejumput makna? bukankah gelas bekas bening di tengah keremangan dapat membahayakan mahasiswa yang asyik melamun, memikirkan ujian yang baru usai atau mahasiswa yang asyik bercengkerama, andai saja aku enggan menyingkirkannya…Bukankah berdiri di kelas…mengurai materi perkuliahan akuntansi, topik-topik hangat dan sedikit memotivasi mahasiswa adalah sejumput makna? Bukankah memikirkan, mengasuh, memotivasi dan mengarahkan anak menjadi anak yang sholeh dan punya semangat untuk mengotimalisasikan kemampuan dirinya adalah juga sejumput makna?…Bukankah menjadi istri yang penuh pemahaman adalah sejumput makna? Bukankah berinteraksi dengan rekan rekan disertai keinginan memberi secara tulus adalah sejumput makna?….Makna….bisa kita jumput, kita teteskan..detik demi detik, jam demi jam, waktu demi waktu sepanjang jantung kita masih berdetak
Pencarianku terus berlanjut….bermakna tidak sekedar membangun sesuatu yang besar…bermakna…dapat kita lakukan secara sederhana…dapat kita lakukan dengan bertetes tetes keringat…dapat kita lakukan dengan bercucuran air mata…dapat kita lakukan dengan senyum dan tertawa lebar…dapat kita lakukan dengan berbagai cara maupun tingkat upaya dan gaya….dengan syarat….sepenuh hati…meringankan dan tidak menyusahkan orang lain….bermanfaat…ikhlas dan menyadari bahwa kerja dan keberadaan kita semata mata untuk mengharap Ridho Allah swt..
Pencarianku terus berlanjut….Pertanyaan Prof E Gum menyadarkanku kembali….Aku duduk di kelas terhormat ini bukan karena memenuhi permintaan Almarhum Bapak…menjadi Doktor…tetapi karena aku ingin memberikan makna yang lebih besar…karena aku ingin memberikan inovasi yang lebih dasyat…karena aku ingin memberikan pembaharuan secara positif ke masyarakat. Agar lingkungan dan masyarakat mendapat manfaat dari keberadaanku sebagai orang yang memiliki pendidikan tertinggi…Doktor yang terhormat…
Karena aku masih duduk di kelas terhormat ini…itu berarti aku masih dalam kawah candradimuka menjadi Doktor yang terhormat…..maka semua itu…yaitu lebih bermakna, memberikan inovasi yang lebih dasyat, melakukan pembaharuan yang bermanfaat.. yang merupakan hasil diskusi kelas….masih sekedar cita-cita walaupun bukanlah sekedar wacana….
Proses menjadi Doktor adalah proses transformasi pengubahan knowledge menjadi wisdom…haloo….DMB4..siapkah kita mengubah knowledge menjadi wisdom….siapkah tiga hal yang merupakan hasil diskusi kita tersebut tidak sekedar cita-cita?….Tentu saja siappp….kalau kita bisa melakukan dengan baik dan optimal… apa saja yang dapat kita lakukan hari ini……apa saja yang bermanfaat….
Setuju Ibu Ririn yang baik, hidup itu harus mempunyai MAKNA dan saat ini kita berusaha untuk memberikan MAKNA dalam kehidupan yang singkat ini.
Wisdom adalah sebuah jembatan untuk bermakna.
Semoga ibu bahagia selalu dan dapat bermakna bagi keluarga dan kita2 ini yang selalu ngomentarin blog ibu.
Oleh: Baron on Juli 15, 2008
at 6:43 pm
Terima kasih Pak Baron…Semoga demikian adanya. Wah..ini..inspirasi baru…”Wisdom adalah sebuah jembatan untuk bermakna”…sy setuju…sepertinya anda adalah teman sekelas saya ya…..Siapakah anda?
Oleh: ririnwulandari on Juli 16, 2008
at 1:29 am
Ibu Ririn,
Siapa saya itu tidak penting kan,
yang pasti saya mengagumi ketabahan dan ke ariefan ibu dalam mengarungi hidup ini.
Mudah2an saya bisa seperti ibu ya.
salam,
Oleh: Baron on Juli 16, 2008
at 3:32 am
Ibu cantik, ternyata ibu seorang yang puitis, hehehe…aku lagi kurang kerjaan, lebih tepatnya burnout sama tugas kantor, dan iseng liat blog ibu….menarik bu….!….
Oleh: anita maharani on Juli 16, 2008
at 11:20 pm
Pak Baron,
Saya bukanlah seorang yang tabah dan arif, tetapi saya hanya seorang yang sedang berenang menuju tepian…hanya berusaha ke tepian dengan selamat…
Oleh: ririnwulandari on Juli 17, 2008
at 8:21 am
Ibu Anita yang manis,
Selamat bergabung di blog ini…semoga Ibu selalu sehat…selamat membaca blog ini…tapi jangan lupa dengan tugas-tugas Ibu…he..he…
Oleh: ririnwulandari on Juli 17, 2008
at 8:24 am
Wah, ini sudah kelas berat–ada bakat juga jadi filsuf, he he he
EJ
Oleh: Edhi on Agustus 4, 2008
at 8:41 am
Wah…kalau sang pakar dan pengamat sudah bicara begini..tiada lain yang dapat sy lakukan kecuali “tepuk dada” dan terima kasih Pak….he…he…jadi filsuf atau sastrawan?
Oleh: ririnwulandari on Agustus 4, 2008
at 9:44 am