Diskusi tentang korelasi mengawali pembicaraan tentang cinta. Korelasi Linear yang berkali kali kami pelajari…dan yang selalu kami lupakan kembali ketika ujian telah usai, ketika skripsi telah siap dan bahkan ketika Tesis sudah terjilid dengan rapi, atau ketika hasil penelitian telah kami laporkan. Ketika sang Profesor menjelaskan Korelasi Linear, kami, aku dan teman di sebelahku melakukan pencarian contoh dua variabel yang dapat diuji.
Kali ini kebuntuan ide terjadi….Seolah aku tidak pernah melakukan apapun dengan alat bantu korelasi, variabel-variabel begitu sulit aku temukan. Dengan terpaksa aku mencari bantuan ke teman sebelah…wah mudah itu katanya…sementara itu dia melanjutkan menuliskan ide-ide yang dapat didekati dengan alat yang bernama korelasi linear.
Mudah bagaimana tanyaku…Variabel pertama adalah Keputusan untuk menikah…variabel kedua adalah persetujuan orang tua…….ha…ha..aku tertawa..ini serius bung…aku juga serius katanya….Siapa yang mau menikah tanyaku?…Ini adalah contoh..lanjutnya…tapi ini terlalu sederhana. Kita sekolah S3..bukan D3…lanjutku kembali
Variabel tersebut tidak perlu ditentukan hubungannya atau bahkan tidak perlu dilakukan pengujian. Menurutku…Keputusan menikah adalah karena kedasyatan cinta, bukan karena variabel apapun. Kedasyatan Cinta adalah manifestasi Jodoh yang sudah ditetapkan oleNYA…
Kalau seseorang mengambil keputusan bukan karena kedasyatan cinta, maka hidupnya selalu diliputi perhitungan-perhitungan logis. Tambah kurang dan untung rugi….Mengenai hal seperti itu..aku enggan membahasnya.
Kedasyatan cinta seperti puting beliung, sebagian orang mengalami sekali, sebagian orang mengalami berkali kali dan sebagian orang tidak mengalami sama sekali.
Puting beliung sebentar saja terjadi…selanjutnya digantikan hembusan lembut atau hembusan kasar silih berganti atau yang ada hanya sebuah kegersangan…itu semua perlu upaya dan pemeliharaan yang terus menerus. Apakah upaya dan pemeliharaan adalah kegiatan yang melelahkan?
Tergantung bagaimana kita memandang dan menjalani…..hembusan lembut akan terasa kasar apabila kita merasakannya demikian, juga sebaliknya hembusan kasar akan terasa lembut dan bahkan kegersangan tidaklah berarti apa-apa, kalau kita menganggapnya bukanlah kegersangan…
Dan setelah kedasyatan cinta….hanya sebuah kesederhanaan memandang dan bersikap yang membuat segalanya indah…sebuah keindahan tak berujung.
Saya masih belum percaya kalau cinta itu ada Bu
Oleh: Rindu on Juni 29, 2008
at 6:57 pm
Cinta itu begitu indah….dan cinta datangnya dari berbagai penjuru. Di pagi hari cobalah keluar rumah, berdiri di pelataran, tutup mata,..nikmati aroma embun pagi…nikmati semilir angin…rasa yang engkau dapatkan..itulah cinta alam kepadamu…dan sadari…masih banyak cinta-cinta lain yang menunggumu….
seperti angin….yang menerpa wajahmu.. rasa itulah milikmu, bukan yang berlalu..melewati samping wajahmu…
Oleh: ririnwulandari on Juli 2, 2008
at 9:39 am