Ririn Wulandari

Meniti Ilmu …

Kali ini aku menang Agustus 22, 2008

Diarsipkan di bawah: Pribadi — ririnwulandari @ 6:56 am

Hari ini aku mengunjungi W&C, setelah itu aku bebas menentukan rencana-rencanaku.  Baju merah, tas merah kukenakan. Aku mesti bersemangat pagi ini.  Traffic Light perempatan Kemang Prapanca menghentikan mobilku.  pandanganku singgah ke sebuah rumah yang belakangan aku tahu bahwa rumah tersebut adalah Mess.  Seorang nenek-nenek bongkok sedang menyapu dengan asyik.  Begitu penuh perasan dan telatennya nenek tersebut menyapu daun-daun kering dan kotoran-kotoran yang ada.  Layaknya Nyoman Nuarta sedang mengukir dan memahat patung-patungnya…..

 

Nenek tua dengan keasyikannya menampilkan wajah sumringah.  Membuatku berfikir…akankah aku bisa menjadi nenek-nenek?…..Kalaupun bisa…apakah aku bisa terus konsisten menikmati kehidupan ini dengan antusias dan keasyikan seperti halnya nenek tersebut?….

 

Baju merah, tas merah kukenakan pagi ini, agar aku bersemangat.  Agar  aku tetap berdiri tegak ketika seseorang di W&C mengharuskan aku bertemu dengannya di theater 1, 2 atau 3….keputusannya yang membuatku ketakutan kali ini.  Beberapa kali dia mengharuskan aku keesokan harinya bertemu denganya di theater….wajar kalau pagi ini adalah puncak ketakutanku…beberapa kali dalam hidupku……

 

Selesai mengajar, aku terburu-buru menuju Women & Children hospital….seseorang itu adalah dokterku…Dokter yang berkali-kali dalam hidupku mengatakan bahwa tidak bisa ditunda…kita ketemu di theater 1, 2, 3…Theater 1,2 ataupun 3 adalah ruang operasi di sebuah rumah sakit.  Rumah sakit yang bertengger dengan megah di keramaian Jakarta…

 

Selesai melakukan pemeriksaan, aku menatapnya dengan cemas….dan dia mengatakan sesuatu yang membuatku begitu lega….Kali ini aku mengalahkan kista….kista yang beberapa bulan lalu sudah 2 cm…kini sama sekali bersih…..Kista yang tidak bosan-bosannya  membawaku diam tak berdaya di theater….diam dengan kepasrahan….diam dengan semburat pertanyaan…akankah dapat siuman kembali?

 

Kista yang hampir dua puluh tahun datang dan kugempur….datang lagi….kuenyahkan lagi…..datang lagi….kuusir lagi….begitu berkali kali….itulah yang menyebabkan aku beberapa kali berhubungan dengan pisau bedah, theater dan petugas medis berbaju putih……..Kista…yang menyebabkan aku setiap  6 bulan beberapa kali berhubungan dengan jarum suntik….jarum suntik yang memberikan efek agak lumayan…panas dan pusing….panas dan pusing yang kualihkan dengan berjalan-jalan di mall….berjalan terus…dari satu pintu ke pintu lain…sembari mengagumi dan terheran-heran…kok ya..ada barang-barang semahal itu….

 

Kistaku…yang tergolong jenis kista ganas…kista endometreosis….dengan gejala….demam setiap menjalankan aktifitas agak berat, sakit di perut bawah, nyeri luar biasa di sepanjang kaki…..dan sakit serta demam ketika haid….Kista…berbeda dengan kanker…kista memang tumbuh dan menempel, tetapi tidak merusak jaringan sel-sel.  Tidak demikian halnya dengan kanker.  Kanker dapat merusak jaringan sel-sel…dalam hitungan detik..menit…jam…hari…bulan…ataupun tahun….Dan aku masih bersyukur…karena hanya kista yang menggangguku….

 

Kali ini aku mengalahkan kista….itu patut lebih kusyukuri…semangat sekolah kah yang membuatku lebih kuat dibanding waktu-waktu yang lalu ataukah karena aku mengadakan perubahan dalam menyikapi “tetek bengeknya” kehidupan dan perjalanan kehidupan?…..

 

Cara baru menyikapi hidup….yang aku canangkan ketika terakhir terbaring di sebuah kamar mewah, dengan peralatan medis yang lengkap dan jendela lebar…..dengan pemandangan gunung salak…..kamar sebuah rumah sakit di pinggiran kota…..

 

Semangat baru….untuk menjadi Doktor……yang hanya sebatas mimpi dan wacana berpuluh tahun lalu…kini sudah di depan mata…..

 

Pemahaman atas diri dan pemahaman atas orang lain…..

 

Mencintai dan merasa dicintai……

 

Beberapa hal itulah yang membuatku kali ini menang melawan kista…..dan aku bisa mengukir berbagai rencana dan melaksanakannya….karena aku tidak perlu “mundur beberapa langkah”…..

 

Saat ini… aku….demikian diliputi rasa syukur…dan Alhamdullilah…..kalau aku dapat  bertahan selama hampir dua puluh tahun…..pastinya aku akan bertahan untuk minimal dua puluh tahun mendatang…..Amin…

 

Memandang Langit.. Agustus 21, 2008

Diarsipkan di bawah: Pribadi — ririnwulandari @ 4:06 am
 

Sebuah Pagi…. Agustus 11, 2008

Diarsipkan di bawah: Ekonomi — ririnwulandari @ 2:33 am

Dua malam tidak mengunjungi blog serasa begitu lama….hanya dua malam…..Dua malam itu kugunakan untuk tidur…amat nyenyak…. Memahami diri…memahami orang lain…begitu menentramkan..itu mungkin yang membuat tidurku begitu lelap dan nyenyak.  Minggu pagi pun kugunakan untuk tidur…bangun sebentar…tidur lagi..bangun sebentar…tidur lagi…hingga  petang.

 

Untukku tidur lelap demikian berarti. Tidak demikian untuk si ‘cantikku’.  Keluhan suara di seberang sana selalu bernada hampir sama: ‘Aku terlalu banyak tidur, banyak materi yang belum kubaca, aku belum mempersiapkan evaluasi, tolong doakan..’

 

Artinya.. bagi seseoarng.. satu hal merupakan masalah, tetapi bagi orang lain bukanlah masalah.  Atau suatu hal.. bisa dimaknai berbeda oleh orang yang berbeda. 

 

Tidurku yang demikian lelap benar benar seperti tanah kering keronta yang disiram hujan…tiada artinya serpihan-serpihan debu yang dulunya mengganggu…tiada lagi kegerahan yang dulu menggangu…tiada tanah merekah yang tak berarti…semua siap untuk ditanami…siap menyambut proses tumbuhnya  harapan baru..regenerasi sel berlangsung sempurna dalam tidur nyenyakku…sehingga pagi ini otakku demikian jernih dan persaaanku demikian tentram..

 

Pagi ini begitu indah untuk memulai segala hal dengan begitu semangat….

 

Ketika Aku Lelah Agustus 9, 2008

Diarsipkan di bawah: Pribadi — ririnwulandari @ 12:20 am

Beberapa malam kulalui dengan “kedap kedip”, desahan zikir tiada henti..tidur lelap tidak jua hadir..denting  tiang listrik dibunyikan sebanyak 3 kali menggema….masih kudengar nyaring…

Beberapa malam ini..aku baru terlelap setelah pukul 3 malam….kalau tadi malam aku bisa tidur lebih awal, ternyata bukan tidur yang “lelap”…penyakit “gangguan tidur” yang beberapa lama tidak muncul..nampaknya kini mulai hadir. Indikasinya adalah pagiku bukanlah pagi yang menyegarkan.  Pagiku dipenuhi rasa kelelahan.  Kalau dilakukan “sleep test”  Detak nadiku pada sebagian besar waktu tidur berkisar antara 80-82/ detik.  Detak nadi untuk orang yang melakukan aktifitas.  detak nadi yang biasa terjadi pada orang yang tidur lelap berkisar 50/detik.

 

Pagi ini aku memulai aktifitas dengan rasa lelah.  Tatapan mahasiswa yang biasa meluruhkan berbagai rasa negatif sama sekali tidak mempan untuk pagi ini.  Aku harus melawan kondisi seperti ini, kalau tidak inilah titik bawah daya tahan tubuhku, berbagai penyakit tidak kubiarkan mengintip pintu pertahananku.

 

Selesai mengajar, aku mulai menelusuri jalan….kujumputi makna yang tercecer…kunikmati berbagai tatapan bahagia.  Tatapan bahagia mulai meluruhkan rasa lelah, ngantuk seperti ini. Mengapa?….Karena aura bahagia mengelilingiku..aura bahagia yang merupakan aura positif menggeser aura negatif akibat tidak sukses ‘tidur”.  Obat yang sederhana…”membuat orang lain bahagia, apalagi orang-orang lain bahagia” merupakan obat batin yang luar biasa.

 

Selesai menjumputi sedikit makna siang itu…aku memanjakan diri dengan mengunjungi “kedai” yang menyajikan coklat panas dengan “Wi-Fi”nya.  Aroma coklat panas begitu sempurna.  Sempurna untuk dinikmati lebih lanjut serta sempurna untuk meredakan ketegangan dan kelelahan.

 

Seorang  wanita  berambut panjang, dengan pakaian modis dan badan semampai mengusik “kedamaian”ku.  Begitu kaget ternyata dia adalah seorang teman yang lama tak kutemui. Satu tahun adalah waktu yang cukup lama. Perjumpaanku dengannya satu tahun yang lalu masih menyisakan rasa kasihan dan rasa miris yang amat sangat.  Seorang wanita dengan tubuh kurus kering dan kehitam hitaman, rambut sedikit rontok.  Bagaimana mungkin  tidak seperti itu kondisinya.  Radiasai, penyinaran dan kemoterapi begitu mengakrabi dirinya.  Saraf kepala dan organ reproduksinya mengalami gangguan  yang tidak ringan. Setahun yang lalu kutemui seorang wanita yang nyaris tidak mempunyai harapan hidup. Dan kini aku menemui seorang wanita yang sama tetapi begitu  mempesona.

 

Wanita yang mempesona itu duduk di depanku. Perjumpaan dua wanita yang tidak pernah bertemu tidak menyisakan waktu jeda untuk tidak bicara. Aku pendengar dan dia berbicara runtun bagai gelombang yang lembut beriak, bengelegar dan lembut kembali.  Aku menikmati perbincangan itu dan aku menginginkan klimaknya,  Klimaks seperti apa? Klimaks yang kumaksud adalah  Jawaban dari pertanyaan  yang masih  tersimpan di dalam hatiku.

 

Penantianku tidak sia-sia. Ceritanya semakin menuju pertanyaanku….dengan berbinar, wajah yang merona..dia bercerita adanya “Cintanya”.  “Cintanya” yang membuat dia bertahan.  “Cintanya yang membuatnya merasa nyaman dan “cintanya” yang membuat dia bersemangat melawan segala penyakitnya, serta yang luar biasa…. dia begitu mempercayai “Cintanya”.

 

Ternyata begitu dasyat sebuah cinta….dasyat karena dapat  membuat seorang wanita berjuang dan bertahan untuk tetap hidup.

 

Senja itu segala kelelahanku terurai…hari itu aku mendapati dua hal yang memperkaya batinku.  Dua hal itu adalah: Obat rasa sakit adalah membahagiakan orang lain dan  semangat akan menggelora  ketika dibahagiakan orang lain.

 

Senja itu aku lebih bersemangat untuk menghadapi acara dan kegiatan yang masih akan aku ikuti dan kukerjakan hari itu….Bersemangat untuk  membahagiakan dan dibahagiakan….hari yang benar-benar indah…

Bogor, 9 Agustus 2008

 

Diriku Agustus 6, 2008

Diarsipkan di bawah: Ekonomi — ririnwulandari @ 4:30 pm

Kalau aku berbicara terlalu banyak dan disertai konsep yang ideal di depan kelas, di blog ini, di milis ataupun diantara diskusi-diskusi tidak formal  apakah aku lantas demikian sempurna? Apakah aku lantas pontang panting memoles diri agar “jerawat”, “kutil-kutil” menjadi bias ditimpa berbagai “kosmetik” agar aku nampak sempurna?

 

Aku tidak akan melakukan hal itu…aku akan berjalan dalam kehidupan ini dengan apa yang menurut hati nuraniku benar….aku tidak peduli dengan berbagai kelemahan yang mengiringi setiap mahluk  hidup. …Aku  biarkan saja kelemahanku yang ada, walau bukan berarti aku tidak berusaha menuju kebenaran sejati.  Aku biarkan diriku berjalan dengan kelebihan dan kebenaran dengan disertai tujuan mencapai kebenaran sejati.

 

Perjalananku adalah perjalanku sendiri…..Aku biarkan saja orang sibuk menilai diriku dengan parameter parameter yang menurut dirinya benar…..Aku toh harus tetap berjalan menuju tujuanku…Mereka tidak peduli bagaimana aku terseok-seok, bagaimana aku tertawa, bagaimana aku kesakitan,  bagaimana aku tersenyum, bagaimana aku bahagia dan bagaimana aku bersedih…mereka tidak peduli atas semua itu…Dengan demikian bukankah aku harus mencari bentuk diriku, bentuk penyelamatan diri atas medan yang begitu banyak tantangan seperti ini? Mencari bentuk dalam menyikapi perjalanan kehidupan….

 

Kini aku tahu mengapa Chairil Anwar menulis puisi dengan judul “AKU”.  Bukan karena aku telah membaca sekelumit perjalanan hidup Chairil Anwar lewat sebuah buku yang tipis…Tetapi aku memahami ketika merenungkan hal ini…merenungkan perjalananku….merenungkan perjalanannya…dan perjalanan mereka…

 

Aku ya…beginilah diriku….begitu tentramnya diriku membiarkan diriku apa adanya seperti ini…….

 

Untukmu sahabat…. Juli 28, 2008

Diarsipkan di bawah: Ekonomi — ririnwulandari @ 5:17 am

Ternyata aku kehilanganmu..

 

Ternyata aku demikian sedih…..

 

Enambelas tahun bukanlah waktu yang pendek untuk sebuah pertemanan..untuk sebuah persahabatan….untuk sebuah uluran tangan….

 

Walau satu tahun kugunakan untuk membencimu….

 

Ternyata kini aku kehilanganmu….

 

Engkau tidak akan duduk di sana menyambutku….ketika aku tidak tahu harus kemana

 

Engkau tidak akan duduk di sana menyambutku…,,ketika aku terpuruk…..ketika aku lelah

 

Enambelas tahun bukanlah waktu yang pendek…..untuk uluran tangan…

 

Kalau aku melihat ke belakang enam belas tahun yang lalu….ternyata ada dirimu sepanjang waktu itu…menuntunku….menyemangatiku…memberiku apresiasi..menunjukkan berbagai jalan yang aku takut lalui…jalan yang kinipun sedang aku lalui

 

Kalau aku melihat sepanjang enam belas tahun…..begitu banyak kebaikan terulur untukku…begitu banyak empati mengalir untukku….begitu sering engkau bersedih dan berfikir untukku…..

 

Kalau aku melihat sepanjang enam belas tahun…aku bukanlah diriku saat ini tanpamu….

 

Dan tidaklah berlebihan kalau malam ini aku menangis..

 

menangis untukmu sahabat……

 

Aku tidak lagi dapat menemukanmu…duduk menyambutku……

 

Pagelaran Juli 27, 2008

Diarsipkan di bawah: Ekonomi — ririnwulandari @ 5:34 pm

Pagelaran sampai pada klimaks

Layar perlahan turun….

Penonton terpaku tak hendak beranjak

Aku diam tergugu

Pintu kututup kembali

Kukunci rapat rapat

Hujan mengguyur seluruh tubuh

Tak menghalangiku untuk terus melangkah

Menuju pagelaran berikutnya kah…

Atau tidak ada pagelaran sama sekali…….

Aku kian tak peduli…

Dibawah guyuran hujan…aku terus melangkah……..

 

Begitu tipis Juli 26, 2008

Diarsipkan di bawah: Ekonomi — ririnwulandari @ 3:11 am

Hujan….demikianlah yang terjadi sore ini….Sore yang biasanya aku tunggu..tidak untuk kali ini…Karena kali ini aku ingin mengubah sore menjadi persembunyianku yang paling aman…dengan ditemani hot chocolate dan donat J.co serta lalu lalang berbagai ekspresi…aku menikmati kesendirian senja. Sore ini benar sore yang begitu sempurna.

 

Di sebelahku duduk  sepasang muda mudi…nampak jelas tergurat kebahagian di wajah mereka. Aku melirik sekilas, menghirup menumanku dengan pelan, khawatir menggangu kebahagian mereka…karena aku tahu kebahagian itu tak kan lama…sebentar atau dua bentar, sehari dua hari, seminggu atau dua minggu akan terganti dengan kesedihan. aku bukanlah seorang pesimis sehingga mengatakan demikian…sama sekali bukan…

 

Karena aku tahu pasti….bahwa kebahagian berjarak begitu tipis dengan kesedihan.  Kebaikan berjarak begitu tipis dengan keburukan…dan segala hal di dunia ada positif dan negatifnya…Karena ternyata keseimbanganlah yang mengisi dunia ini….Kalau ada kebahagian di sini…di tempat yang jauh ataupun berdekatan terdapat kesedihan…itu adalah teorinya si pengarang “The Secret” sebuah buku yang sedang diperbincangkan dan “best seller’. Teori tentang sebuah keseimbangan.

 

Seperti halnya sore ini…sepasang muda mudi sedang berbahagia…begitu dekat dari mereka,  aku duduk sendiri mengumbar  kesedihan….Selang beberapa lama..tiba di rumah…kesedihanku berubah menjadi kebahagian….bahagia disambut wajah polos, lucu dan cantik…’mamaaa…”

begitu tipis…

 

Dengan demikian….

Pantaskah kita mengumbar kesedihan berlama lama….

Pantaskah kita mengumbar kebahagian berlama lama…

dan aku semakin menyadari

aku adalah sejumput pasir di padang pasir…

menahan diri adalah senjataku

dan aku menahan diri dengan tidak mengumbar kebahagian serta kesedihan

 

Inipun Tanpa Judul Juli 23, 2008

Diarsipkan di bawah: Puisi — ririnwulandari @ 5:30 pm

Kulerai gejolak ini

mengaburkan batas ada dan tiada

kubenamku di tiang tiang pacang jiwa

menggelepar

kebisuanmu  mengelayutiku

kepak kepak sayap  mulai terbentang

berhiaskan gumpalan nanah  mengering

matahari yang mengeringkannya

bayang bayang itu mulai  membutakan lagi

bagaimana mungkin kepak sayap membentang dengan kebutaan seperti ini

dan aku melenguh lirih

 

 

Penyatuan nan Indah Juli 23, 2008

Diarsipkan di bawah: Sosial — ririnwulandari @ 8:05 am

Malam ini aku sebenarnya ingin menulis…menulis yang telah aku pikirkan kemarin.  Seperti halnya yang diampaikan oleh Affandi, pelukis besar kita..bahwa beliau melukis pada saat tak tertahankan lagi untuk melukis. seperti halnya  minum atau makan  disaat  puncak dahaga atau puncak lapar. 

Karena “laparku kemarin, karena “dahagaku” kemarin, maka hilanglah seleraku untuk “menyantap”nya kini…artinya hilanglah semua hal yang ingin kutulis kemarin….

 

Karena aku sudah menghadapi monitor seperti ini, tak usahlah aku menyurutkan niat untuk sekedar memecet mecet keyboard…..alhasil monitor tetap menyala..dan aku masih di sini…

 

Yang aku rasakan sekarang adalah mencoba berada di titik nadir….sering aku mencobanya..kadang aku bisa melakukannya, kadang aku tak bisa melakukannya…wajar saja karena  qolbu yang aku kendalikan selalu bergerak..bolak balik…

 

Titik Nadir…titik dimana kuserahkan arah perjalanan hidup kepada Allah Swt.  Bukankah tidak ada selembar daunpun yang luruh dari tangkainya tanpa sepengetahuan Allah Swt. Bukankah rejeki, musibah, kematian, keberuntungan, cinta yang tumbuh tidak terjadi tanpa  kehendakNYa?…Lantas mengapa kita risau?….

 

Apakah dengan demikian kita hanya berserah diri tanpa melakukan apa-apa?…Pemikiran tersebut merupakan kesalahan.  Kita melakukan apa-apa atau berikhtiar karena kodrat kita memang demikian….karena keberadaan diri kita dinilai berdasarkan ikhtiar kita.  Tetesan keringat, kerutan kening karena berfikir keras, ikhtiar tanpa batas adalah penanda peringkat diri kita…penanda derajat kita.  peringkat diri kita, penanda derajat kita bukanlah atribut tempelan yang mentereng tetapi ikhtiar tanpa batas… ikhtiar tanpa batas adalah sebuah kesabaran menjalani hidup….

 

Menyatukan “titik nadir” dan ikhtiar tanpa batas adalah sebuah keindahan dan sebuah jalan terang di kehidupan ini…sebuah penyatuan yang menentramkan.  Artinya ….dalam menjalani kehidupan kita harus bersemangat, bekerja keras dan berikhtiar tanpa batas, tetapi dalam menyikapi hasil kita harus bisa menempatkan dalam “titik nadir” tanpa pengharapan dan menyerahkan kepada ketentuanNYA….memang sebuah penyatuan yang menentramkan…Bukankah Allah SWT akan memberikan segala hal yang terbaik bagi umatnya? tidak terkecuali bagi diriku?

 

Jadi malam ini aku mulai mengantuk….penyatuan ikhitiar tanpa batas dan titik nadir begitu menentramkanku malam ini….selamat malam….malam ini begitu hening